(Lutfia Mia Wulandari, Semarang-Jawa Tengah)

Indonesia adalah negara kepulauan dengan sumber daya alam yang melimpah, wajar menjadi incaran berbagai negara. Fakta yang berbanding terbalik, dengan melimpahnya hasil alam ternyata belum bisa memenuhi kesejahteraan rakyat hingga hari ini. Salah satunya disebabkan ketidakmampuan dalam mengolah hasil secara mandiri serta kondisi perekonomian sedang dalam keadaan carut-marut, juga semakin diperkuat dari adanya kegiatan ekspor-impor hasil alam dan investasi asing yang menguasai negeri.

Hal ini juga tidak bisa dipungkiri dimana keadaan perekonomian dalam ujung resesi ke krisis ekonomi yaitu sebesar minus 3,49 persen pada kuartal III (kompas.com, 7/10/2020). Sehingga dibutuhkan solusi pemulihan. Ditengah fakta tersebut, tepatnya pada 29 Oktober lalu Menteri Luar Negeri AS Mike Pempeo mengunjungi Indonesia untuk memberikan jalan bantuan, dimuat dalam laman Galamedia kunjungan tersebut tujuannya adalah untuk berinvestasi pada proyek-proyek salah satunya di Kepulauan Natuna. (1/11/2020)
AS memang negara investor terbesar, kerjasama yang disebutkan menyasar pada perpanjangan GSP (Generalized System of Preferences atau bea masuk import terhadap produk ekspor dari negara maju untuk membantu ekonomi dinegara berkembang salah satunya Indonesia). Program GSP sendiri sempat terhambat kurang lebih 2,5 tahun.

Tentu ini bukan hanya dalih kerjasama, namun ada imbalan yang harus diberikan dibalik pemulihan ekonomi dibumi pertiwi. Selain itu kunjungan AS dapat memicu provokasi dan mengganggu stabilitas kawasan perdamaian hubungan bilateral Indonesia-China yang sudah terjalin sebelumnya. Indonesia butuh bangkit berdaulat kembali dari kubangan sistem kapitalis barat yang berkuasa didunia. Karna sistem ini sungguh sangat jauh dari fitrah, hanya melibatkan untung rugi belaka. Jika dikaji mendalam terkait investasi asing hasilnya akan berbuntut kesengsaraan dan merugikan serta menjajah dari kerjasama yang diberlakukan. Tentunya bagi kaum muslim memberi jalan negara kafir menguasai adalah haram.

Negara perlu kedaulatan dengan sistem yang revolusioner, mengcover semua bidang. Menjaga rakyat dari kebijakan yang merugikan dan jauh dari sejahtera untuk memenuhi hajat rakyat secara total dengan pengelolaan dan pengaturan dari negara beserta kedaulatannya demi kemaslahatan. Satu-satunya solusi sebagai sistem adalah dengan mengembalikan peraturan hidup dengan aturan pencipta, sistem dalam negeri yang bervisi besar agar mampu mengatasi kekacauan yang sedang melanda. Sistem dari Pencipta beserta aturannya, Khilafah.
Wallahu’alam