Oleh: Maman El Hakiem

Rasulullah Saw. pernah bersabda: ما أنا عليه وأصحابي “(golongan yang mencintai aku dan para sahabatku.)” Maksud hadis tersebut menjelaskan tentang siapa yang disebut sebagai ahlu sunnah wal jamaah. Hal ini untuk menegaskan bahwa siapapun tidak bisa mengklaim ahlu sunnah wal jamaah, jika tidak mengikuti apa-apa yang telah dilakukan beliau dan para sahabatnya.

Menjadi pengikut baginda Nabi Saw dan para sahabatnya, berarti menjadikannya teladan dalam segala aspek kehidupan, baik dalam perkara ubudiyah, muamalah sampai siyasah atau politik kekuasaan. Jika ada kelompok yang merasa ahlu sunnah wal jamaah, namun menolak cara berpolitik beliau, sekedar mengikuti ubudiyah dan kepribadiannya, tentu sangat disayangkan.

Dalam diri Rasulullah Saw dan para sahabatnya terdapat kepribadian mulia sebagai teladan bagi kita. Salah satu pesona akhlak yang sering kita lupakan adalah bagaimana amanah kekuasaan telah membentuk akhlak mulia berupa keadilan dan tersebarnya dakwah ke seluruh dunia. Aktifitas mengurusi rakyat dan kecintaannya kepada dakwah menjadikan Islam dapat menyinari seluruh pelosok bumi tidak hanya untuk jazirah Arab.

Inilah yang harusnya jangan dilupakan para ahlu sunnah, mengikuti baginda Nabi Saw. bukan saja dalam perkara penampilan pribadinya menyangkut hubungannya dengan Allah SWT, tetapi juga dalam kehidupan sosial antar sesama manusia yang tercermin dalam akhlak bermuamalah dan siyasah. Tujuan diutusnya Rasulullah Saw. sebagai rahmat untuk semesta alam adalah gambaran sempurnanya syariat Islam yang harus diterapkan secara kaffah.

Hal tersebut dapat tergambarkan jika perasaan dan pemikiran manusia disandarkan pada perintah dan larangan Allah SWT. Untuk memahami perkara sunnah diperlukan ketelitian dalam memahami dalil baik menyangkut sumber (tsubut) maupun penunjukan konten (dilalah) dalilnya. Ini menjadi tugas para mujtahid agar mampu memberikan solusi atas segala perkara yang dihadapi manusia dalam menjalani kehidupan.

Mencintai dakwah dalam rangka menjaga kemuliaan Islam adalah karakter para ahlu sunnah wal jamaah. Mereka tidak akan pernah berhenti melakukan dakwah terlebih di tengah kondisi belum tegaknya institusi negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Adapun persoalan penyampaian dakwah sekedar uslub atau cara yang bisa ditempuh dengan aneka ragam, tetapi tidak merubah metode atau manhaj yang telah dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabatnya.

Dalam konteks ini, metode perubahan umat sesuai manhaj Rasulullah Saw. tidak lain dengan penegakan khilafah, dengan cara dakwah membangkitkan pemahaman terhadap akidah dan syariah yang benar. Adanya kesamaan pola pikir dan pola sikap yang terikat dengan penerapan hukum syariah akan memunculkan akhlak yang mulia. Maka, inilah pesan penting baginda Nabi Saw: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).
Wallahu’alam bish Shawwab.***