Oleh : Titi Ika Rahayu,A.Ma.Pust.


Kasus kekerasan pada anak, terutama kekerasan seksual, meningkat selama pandemi Covid-19, terutama pasca aturan PSBB dilonggarkan oleh pemerintah.
Berdasarkan laporan yang diterima Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak terjadi selama dua bulan terakhir. Suara.com (17/7/2020)
Seiring ragam isu kekerasan pada anak yang mencuat di media, Presiden Joko Widodo angkat bicara. Presiden Jokowi menekankan tiga langkah prioritas untuk memangkas angka kekerasan pada anak di Indonesia. Pertama, memprioritaskan pencegahan kekerasan dengan melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kedua, sistem pelaporan dan layanan pengaduan kekerasan pada anak harus mudah dijangkau masyarakat. Ketiga, mereformasi manajemen penanganan kasus. Jokowi ingin penanganan dilakukan dengan cepat, terintegrasi, dan komprehensif. TEMPO.CO (9/01/2020)


Hingga kini, sudah banyak UU dan aturan yang disahkan untuk memberantas kekerasan pada anak, bahkan sudah ada pemberatan hukuman dan sanksi kebiri. Namun rupanya semua aturan dan UU yang ada belum mampu memberantas secara tuntas kekerasan pada anak.
Penyebab dari maraknya kekerasan pada anak yang tak kunjung usai dapat ditinjau dari empat faktor. Pertama, aspek orang tua. Orang tua adalah sekolah pertama bagi anak. Jika rumah tak lagi ramah pada anak, maka anak bisa saja mencari ketenangan dan kenyamanan di luar rumah. Ketidakharmonisan orang tua juga memengaruhi psikis anak. Tak jarang kita temui kasus kekerasan justru dilakukan oleh orang tua kepada anak. Hal ini dikarenakan ketidakpahaman orang tua dalam mendidik anak.
Kedua, aspek lingkungan. Lingkungan yang baik sangat diperlukan bagi tumbuh kembang anak. Jika anak tumbuh dalam lingkungan yang buruk, maka anak bisa terpapar keburukan. Apabila lingkungan baik, anak pun ikut baik. Di sistem serba sekuler, yaitu agama terpisah dari kehidupan, hampir jarang kita temukan lingkungan yang mendukung pendidikan baik bagi keluarga. Masyarakatnya cenderung apatis dan invidualis. Ghirah melakukan kebaikan dan mencegah kemaksiatan belum menjadi kebiasaan.
Ketiga, aspek ekonomi. Faktor ekonomi kerap menjadi alasan utama kekerasan pada anak. sempitnya hidup di alam kapitalisme menuntut para orang tua bekerja siang malam mencari nafkah. Tak ayal, kkewajiban orang tua dalam mendidik tak tertunaikan dengan optimal. Alhasil, anak terdidik oleh lingkungan, teman, dan sistem sekuler yang merusak.
Keempat, aspek media. Di masa keterbukaan informasi hari ini, tontonan sudah menjadi tuntunan. Media semestinya menjadi sumber ilmu yang baik bagi anak. Akan tetapi, media saat ini justru menjadi mudarat bagi anak. Banyak tayangan tak mendidik hanya demi tujuan komersil, bukan mengedukasi.


Masih maraknya kasus kekerasan pada anak padahal langkah-langkah preventif, aturan bahkan Undang-undang sudah dijalankan menunjukkan adanya kegagalan sistemis dari sistem kapitalisme sekuler dalam melindungi keluarga dan anak-anak.
Darurat kekerasan anak, darurat kebutuhan sistem yang tepat!
Ya, saat ini negara sangat membutuhkan sebuah sistem yang tepat. Sistem yang tidak hanya menyuguhkan solusi parsial.
Sistem islam dengan aturannya yang sempurna menjamin perlindungan pada setiap individu masyarakat, termasuk anak-anak. Dalam sistem islam, kekerasan terhadap anak hampir tidak pernah terjadi. Hal ini disebabkan karena pandangan islam tentang anak yang begitu luar biasa. Bagi orangtua, anak merupakan amanah dari sang pencipta yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Anak merupakan investasi akhirat bagi kedua orang tuanya. Maka, melakukan kekerasan pada anak hingga mencabut kebahagian dan kehidupan anak meruapakan tindakan yang sangat tercela dalam islam.
Adapun cara islam untuk menjamin perlindungan anak adalah, pertama, sistem pendidikan. Kurikulum yang mendasari sistem pendidikan haruslah berbasis akidah Islam. Dengan begitu, semua materi yang diajarkan akan terintegrasi dengan akidah Islam. Anak-anak dibentuk dengan kepribadian Islam, yaitu pola pikir dan pola sikap sesuai Islam.
Kedua, sistem ekonomi. Kebanyakan biang kekerasan kepada anak adalah ekonomi. Dalam hal ini, Negara akan menjamin kebutuhan dasar setiap keluarga. Baik sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Negara wajib memenuhinya. Dengan begitu, beban ekonomi akan berkurang. Ayah dan Ibu bisa memfokuskan diri mendidik anak dengan penuh cinta tanpa harus tertekan dengan kondisi ekonomi keluarga.
Ketiga, pengaturan media. Berita dan informasi yang disampaikan media hanyalah konten yang membina ketakwaan dan menumbuhkan ketaatan. Apapun yang akan melemahkan keimanan dan mendorong terjadinya pelanggaran hukum syara’ akan dilarang keras.
Keempat, sistem sanksi. Dengan penerapan sanksi yang tegas dan menjerakan bagi pelaku kejahatan, kekerasan terhadap anak dapat dikendalikan
Waallahu ‘alam bish-showab.