Oleh : Tyas Ummu Amira

Baru – baru ini masyarakat digegerkan dengan RUU minol yang sedang ramai di godok DPR. Belum hilang dari benak rakyat bahwa UU ciptaker sudah menuai kontroversi hingga sekarang ditambah regulasi baru akan diluncurkan.

Dilansir dari okezone.com Jakarta- Rancangan Undang-Undang (RUU) terkait larangan Minuman Beralkohol (Minol) yang diusulkan Fraksi PPP, Fraksi PKS dan Fraksi Gerindra, menuai pro dan kontra di masyarakat. Beberapa pihak menganggap RUU tersebut belum terlalu urgen digulirkan saat ini.

Kriminolog sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi), Edi Hasibuan salah satu yang menganggap RUU terkait larangan minuman alkohol tersebut belum tertalu penting dan mendesak. Sebab, kata Edi, masih banyak aturan yang seharusnya menjadi prioritas DPR dalam prolegnas tahun 2020. (16/11/2020).

Berbagai pro kontra datang tak lagi terhelakan, sebab jika di lihat belum terjadi komunikasi baik antar semua elemen khusunya masyrakat. Berbagai pendapat dan alasan di rancangnya UU ini juga belum jelas arah kebijakanya bisa konsisten ataukah tidak. Jika dilihat dari UU yang telah disahkan seperti halnya UU pornografi, PKS, KDRT bisa dibilang isinya sama sekali bukan menekan aksinya malah menambah deretan kasusnya menjadi kian menjamur.

Jika kita telisik lebih dalam bahwa RUU di satu sisi terlihat baik untuk menekan jumlah peredaran minol, akan tetapi ada pengecualian larangan minuman keras untuk waktu-waktu tertentu seperti untuk kepentingan adat, ritual keagamaan, wisatawan, farmasi, dan tempat-tempat yang diizinkan oleh perundang-undangan. Aturan ini tertuang dalam pasal 8.

Dari sini bisa terlihat jelas bahwa RUU ini memiliki prespektif yang ambigu, jadi tidak akan efektif jika terjadi pengecualian dalam kondisi tertentu. Sebab ini bisa menjadi celah bagi pemilik kepentingan untuk memuluskan proyeknya. Ini sama saja memberikan ruang bagi para korporat, untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya sebab mereka bisa bermain dengan uang dan kekuasaan.

Dan dalam pasal lain dijelaskan “Setiap orang dilarang memasukkan, menyimpan, mengedarkan, dan/atau menjual Minuman Beralkohol golongan A, golongan B, golongan C, Minuman Beralkohol tradisional, dan Minuman Beralkohol campuran atau racikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” bunyi Pasal 6 draf RUU tersebut.

Pasal diatas juga sangat mudah untuk ditarik ulur, sebab banyak minol legal yang bisa lolos di pasaran sebab memiliki izin edar. Disamping itu pendapatan dari pajak minol ini begitu fantastis, tidak tanggung – tanggung dikutip dari kompas.com sepanjang periode tahun 2014, 2015, dan 2016, total volume produksi miras berdasarkan pembayaran cukai berturut-turut yakni 311 juta liter, 248 juta liter, dan 282 juta liter.

Sementara untuk penerimaan negara dari peredaran MMEA yakni pada tahun 2014 sebesar 5,298 triliun, tahun 2015 sebesar Rp 4,556 triliun, dan tahun 2016 sebesar Rp 5,304 triliun.

Penerimaan cukai dari MMEA didominasi penerimaan dari minuman beralkohol dari golongan A. Contohnya pada tahun 2014 saja, penerimaan negara dari cukai minol golongan A mencapai Rp 3,425 triliun.(15/11/20)

Bila kita cermati tak kan mungkin RUU minol ini bisa efektif memberantas peredaranya, sebab sumbangsih terhadap negara begitu besar jadi otomatis nanti akan seperti pasal karet jika tidak benar- benar diterapakan secara konsisten. Sebab banyak campur tangan para kapitalis yang mampu membeli pasal – pasal yang dikira menghalangi proyek mereka. Ditambah lagi peluang pasar juga terus meningkat permintaanya, ini menjadi lahan empuk untuk meraup profit sebesar- besarnya.

Lagi – lagi masyarakat selalu dialihkan perhatianya, di dalam pandemi covid19 yang tak kunjung reda para penguasa sibuk menyodorkan regulasi baru yang tak urgent dan ambigu. Seharusnya mencari solusi konkrit agar pandemi ini segera berakhir agar kondisi bisa kondusif di semua lini kehidupan. Bukan justru menambah pelik derita rakyat dengan berbagai aturan tak solutif.

Beginilah sifat asli sistem kapitalis, semua berorentasi pada manfaat materi semata tanpa pandang halal haram. Apapun bisa dijadikan uang walaupun itu jelas – jelas dilarang dalam agama. Kenapa ini bisa terjadi? sebab faham kapitalis memisahkan antara kehidupan dengan agama. Jadi aturan bersumber dari agama tak boleh ikut campur dalam mengurusi kehidupan sosial, politik ,ekonomi dan urusan lainya.

Alhasil kehidupan di negeri ini pun sangat jauh dari nilai- nilai ajaran Islam secara kaffah. Umat menjadi berorentasi materi serta kepuasan jasmani semata. Tak heran jika permasalahan dan kemaksiatan semakin merajalela. Tempat hiburan malam ,lokalisasi, pesta miras, serta gaya sex bebas kian meningkat setiap tahunnya.

Bagaimana minol dalam kacamata hukum Islam?.

Dalam prespetif hukum syara’ dijelaskan Allah Ta’ala berfirman,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. Al-Baqarah: 219)

Syaikh As-Sa’di menjelaskan apa itu khamar dan maysir (judi).
Khamar adalah segala sesuatu yang memabukkan yang menutupi akal dari bahan apa pun jenisnya. Kemudian melanjutkan dengan menjelaskan bahaya khamar dan judi. Keduanya jika diterjang akan terjerumus dalam dosa dan mudarat yang besar. Bahaya lainnya adalah akan menghilangkan akal dan harta. Keduanya pun akan membuat pelakunya lalai dari berdzikir kepada Allah, lalai dari shalat, juga akan menimbulkan permusuhan. Bahaya yang disebutkan ini lebih besar dari manfaat yang diperoleh. 

Bahkan WHO pernah melaporkan sebanyak 3 juta orang di dunia meninggal akibat konsumsi alkohol pada tahun 2016. Angka itu setara dengan 1 dari 20 kematian di dunia disebabkan mengonsumsinya. Lebih dari 75 persen kematian akibat alkohol terjadi pada pria. (cnnindonesia.com, 24/9/2018).

Dengan berbagai kemaksitan dan kerusakan yang ditimbulkan, Islam sangatlah konsisten dalam menegakan suatu yang hak dan memberatas kebathilan. Salah satunya tentang larangan minol bagi peredar serta peminumnya akan dikenai sanksi tegas. Sebab Rasulullah Saw dengan keras melaknat dalam hal minol sepuluh pihak, pemerasnya, yang meminta diperaskan, peminumnya, pembawanya, yang minta dibawakan,penuangnya, penjualnya, pemakan harganya, pembelinya dan yang minta dibelikan.(HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Diterangkan juga dalam hadist berikut sanksi bagi pelakunya.

جَلَّدَ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَرْبَعِيْنَ، وَأبُو بَكْرٍ أَرْبَعِيْنَ، وعُمَرُ ثَمَانِيْنَ، وَكُلٌّ سُنَّةٌ، وهَذَا أحَبُّ إِليَّ

“Rasulullah Saw pernah mencambuk (peminum khamr) 40 kali, Abu Bakar mencambuk 40 kali, Umar mencambuk 80 kali. Masing-masing adalah sunnah. Ini adalah yang lebih aku sukai.” (HR Muslim).

Sanksi tersebut akan terlaksana jika negara sebagai intitusi tertinggi menerapakn syariat Islam secara kaffah yakni dengan sistem negara khilafah.
Dimana masyarakat juga harus memahami serta memiliki pemahaman, perasaan serta aturan yang sama agar telaksana hukum Islam secara sempurna. Sebab dijelaskan bahwa banyak kemudhratan yang terjadi akibat khamr sebagaimana hadis Rasul Saw, yang berbunyi:

الْخَمْرُ أُمُّ الْخَبَائِثِ وَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ يَقْبَلِ اللَّهُ مِنْهُ صَلاَةً أَرْبَعِينَ يَوْمًا فَإِنْ مَاتَ وَهِىَ فِى بَطْنِهِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِل

“Khamr itu merupakan induk segala keburukan. Siapa saja yang meminum khamar Allah tidak menerima shalatnya selam 40 hari. Jika peminum khamr mati dab khamr itu ada di dalam perutnya maka ia mati dengan kematian jahiliah.” (HR ath-Thabrani, ad-Daraquthni dan al-Qudha’i).

Maka dari itu pentinganya ditegakanya sistem pemerintahan berbasis Islam untuk mencegah berbagai kemaksiatan dan kedzaliman yang melanda dunia. Ini semua akan terwujud jika masyarakat mulai hijrah dari pemikiran kufur ke pemikiran cermelang. Hanya dengan mengubah pemahaman masyarakat melalui dakwah pemikiran agar terbentuk pola pikir dan pola sikap Islami.

Wallahua’alam bishowab.