Oleh : Sri Haryati

Virus Corona memang belum juga usai, walau berbagai cara penanganan sudah dicoba di terapkan, Mulai PSBK, PSBB,Wajib menggunakan masker, bahkan sampai uji coba vaksin.

Akhir – akhir ini justru banyak berita tentang meningkatnya klaster baru covid 19.Sekolahpun belum bisa normal seperti dulu, bahkan di berbagai daerah banyak korban meninggal karena virus corona ini. Sampai kapan pandemi ini berakhir, kita gak ada yang tahu.

Bahkan kita masih di hantui perasaan takut dengan virus ini tatkala kita mau bepergian, walaupun sudah menerapkan protokol kesehatan. Itulah kondisi di negeri kita sekarang dan juga terjadi di negeri-negeri lain.

Tapi Akhir-akhir ini ada berita yang lagi firal bahwa Menteri Kesehatan Terawan Agus putranto sibuk mengklaim.dirinya telah berhasil. Menangani pademi virus covid 19 ini. Nggak tanggung-tanggung katanya keberhasilan itu Predikat yang di sematkan oleh WHO.

Seperti dilansir Bisnis.com, Jakarta
-Dari menteri hingga pucuk pimpinan tertinggi Indonesia, semua sibuk mengklaim keberhasilan penanganan virus Corona di Tanah Air. Semua sibuk mengolah kata, data, dan informasi sehingga akhirnya memberikan ilusi fakta.

Lebih kurang setelah 7 bulan pandemi Covid-19 menyerang Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampil dalam sebuah video berlatar hitam yang diunggah oleh akun Youtube Sekretariat Presiden pada 3 Oktober 2020. Dia berbicara soal kondisi pandemi di negara ini (bisnis Com 6 november 2020).

Padahal WHO hanya memberitahukan bahwa Indonesia berhasil menjalankan tugas dalam mengerjakan IAR, yaitu mekanisme monitoring evaluasi terkait salah satu pilar dalam peraturan kesehatan Internasional hasil revisi tahun 2005.Yang tujuannya agar setiap negara bisa mawas diri terhadap pencapaian dan kekurangannya dalam mengendalikan pandemi. Dalam IAR Indonesia misalnya, terlihat mana yang sudah di Implementasikan dan mana yang masih butuh pengembangan, dan mana yang sama sekali belum di Implementasikan Indonesia.

Tak bisa dipungkiri bahwa dalam menangani pandemi Covid-19 sejak awal Indonesia berkiblat pada negara adidaya Amerika atas nama gerakan penanganan pandemi Global. Padahal negara adidaya dengan sistem Kapitalismenya yang nyatanya telah gagal merespon dalam melakukan intervensi bagi pemutusan rantai penularan secara efektif.
Kegagalan itu tidak bisa di pisahkan dengan sistem kapitaisme itu sendiri, khususnya sistem ekonomi kapitalisme, sistem politik demokrasi dan sistem kesehatan yang terbentuk darinya.

Karena ini tidak Compatible atau serasi dengan upaya penanganan pandemi yang efektif seperti lockdown.
Karena watak dari kapitalis demokrasi yang hanya ingin mendapatkan keuntungan berupa materi hanya akan memicu timbulnya komersialisasi dalam kesehatan, pendidikan dan berbagai bidang yang lain.

Maka tidak bisa di pungkiri. kalau dalam rangka menangani pandemi covid 19 ini pun masih memikirkan untung dan ruginya. Walhasil kesehatan yang seharusnya menjadi priorits utama ini tidak bisa di dapatkan dengan mudah.
Karena kapitalis demokrasi mengutamakan ekonomi di banding nyawa umat. Boleh di bilang penyelamatan nyawa rakyat itu hanya demi pemulihan ekonomi semata.

Sistem ekonomi kapitalisme yang benar – bener rapuh sehingga gagal menjalankan dengan baik, ini bisa dipahami dari Indonesua monetary fund dalam Blok Resminya. Ketika negara – negara menerapkan karantina lockdown dan social distancing untuk mengatasi pandemi dunia telah terkunci. Akibat yang di timbulkannya belum pernah kita alami sebelumnya. Ini adalah krisis yang tiada duanya.

Sebagian negara memang tidak melakukan lockdown dengan alasan ekonomi, termasuk Indonesia. Kondisi ekonominyapun memang lebih baik tapi ratusan juta jiwa di pertaruhkan kesehatan dan nyawanya. Puncak kegagalan respon kehidupan sistem sekularisme kapitalisme di tandai dengan pengarahan agenda New Normal oleh PBB. Ini berakibat fatal, karena membawa dunia pada kondisi sikologis dan tindakan aksi menormalkan sesuatu yang nyata – nyata tidak normal. Di Indonesia kondisi tidak normal ini sungguh nyata. Pengidap Covid-19 meningkat sangat cepat di ikuti tekanan hebat sistem Pelayanan kesehatan yang sejak awal sudah rapuh. Meski Sempat menurun dan kemudian terjadi lonjakan lagi.

Semua ini lebih dari cukup untuk membuktikan pada dunia akan Kegagalan Rezim yang berkuasa dan sistem kapitalisme yang diterapkan. Khususnya dalam merespon pandemi Covid-19 secara benar berupa pemutusan rantai pandemi dengan segera, dengan seminimal mungkin angka kesakitan dan kematian.
Lantas adakah sistem alternatif yang bisa menyelesaikan masalah ini dengan tuntas?

Negara Khilafah pernah memiliki sejarah dalam mengatasi wabah dengan sangat efektif.
Solusi Islam dalam menangani wabah tidak bisa di lepaskan dari konverhensivitas ajaran Islam. Dalam Islam kepemimpinan adalah amanah yang akan di mintai pertanggungjawaban oleh Alloh Subhanahu Wata’ala.

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin di mintai pertanggungjawaban atas yang di pimpin” (Hr al Bukhori)
Dalam Islam pemimpin harus benar – benar berupaya sekuat tenaga mencurahkan segala potensi yang ada, tampilnya pemimpin dalam iktiyar penyelesaian wabah merupakan bagian dari amanah Alloh Subhanahu Wata’ala yang akan di pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Islam menjaga bahwa nyawa manusia harus di nomor satukan, Sebab di antara tujuan syariah adalah menjaga jiwa.
” Hancurnya dunia lebih baik bagi Alloh di bandi ngkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa haq. (Hr. An Nasa’i dan At-Tarmizi).

Dengan demikian dalam pandangan Islam nyawa manusia harus di utamakan, melebihi ekonomi, pariwisata ataupun yg lainnya. Negara dan pemimpin harus menunaikan peran yang paling penting dalam menangani wabah dalam rangka menjaga manusia.
Wallohu ‘alam bi sawwab.