Oleh: Maman El Hakiem

Ibnul Qayyim al Jauziyah dalam Kitab Fawa’id dengan bahasa yang indah mengatakan, “Jika terbit bintang kemauan di langit malam keberanian, di saat bulan tekad yang bulat, maka bumi hati akan tersinari cahaya Illahi.” Sungguh motivasi bagi pecinta ilmu agar selalu memiliki himmatul aliyah (semangat atau spirit yang tinggi).

Ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi cahaya dari Allah SWT yang hanya meresap pada niat yang benar (niyatul shahihah). Karenanya mereka yang merindukan cahaya akan mengosongkan “gelas” hatinya dengan adab berilmu. Syaikh Hasyim Asyari dalam Kitab Taklim Muta’alim banyak merinci tentang bagaimana adab dalam bermajelis ilmu, agar ilmu bukan sekedar menyerap tetapi mampu menjadi karakter kepribadian dan menyinari lingkungan sekitarnya.

Kemauan yang keras seorang Ibrahim al Harabi membuat usianya tidak menjadi halangan untuk belajar menguasai ilmu Bahasa Arab, lima puluh tahun tidak pernah absen hadir di majelis ilmu. Tentu, tidak mudah menghadiri majelis ilmu pada masanya, tempat yang jauh, cuaca yang ekstrim membutuhkan bekal dan pengorbanan yang luar biasa. Tetapi, jika semangat telah menggebu dan niat telah lurus baginya setitik ilmu di seberang lautan begitu tampak untuk dikejar. Menghiraukan besarnya aral melintang di depan matanya.

Islam telah mampu membangkitkan semangat mencari ilmu, wahyu Allah SWT yang pertama kali turun kepada baginda Nabi Saw berupa pesan pencarian ilmu. Perintah “iqra” merupakan metode awal sebelum memahami keseluruhan ayat kauliyah yang harus diterapkan dengan segala fenomena alam yang tersirat (ayat kauniyah). Baginda Nabi Saw. yang tidak memiliki pengetahuan baca tulis, adalah “gelas” yang dikosongkan, sehingga cahaya ilmu yang hadir benar-benar bersih dari kontaminasi dirinya sebagai makhluk.

Hikmah Rasulullah Saw. yang tidak bisa baca tulis, menjadikan bahwa Al Qur’an benar-benar berasal dari Allah SWT, karena secara bahasa dan isinya di luar kemampuan dirinya sebagai manusia biasa. Rasulullah Saw menggigil badannya saat wahyu pertama turun. Cahaya ilmu yang masuk ke dalam hatinya, memberi pesan tanggungjawab ilmu yang berat untuk disampaikan kepada umatnya. Islam adalah agama dakwah. Orang berilmu atau alim, jamaknya adalah ulama, memiliki tanggungjawab keilmuan yang harus disampaikan kepada masyarakat. Imam Syafi’i menyebutkan ulama itu bagaikan cahaya bintang di langit, kehadirannya membawa terang.

Betapa penting dakwah dalam perubahan pola pikir di masyarakat, maka ulama adalah bintang yang tidak boleh padam cahayanya, karena di hati dan pikirannya tersimpan warisan berharga dari Rasulullah Saw yang harus dipegang teguh agar manusia tidak disesatkan oleh fatamorgana dunia : تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما كتاب الله وسنة نبيه

“Telah aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Malik, Al-Muwaththa`, no 1594).
Wallahu’alam bis Shawwab.