Oleh: Maman El Hakiem

Karena berpikir, maka hidup itu ada. Kata mutiara tersebut cukup untuk menggugah sisi kesadaran kita, bahwa potensi akal harus berdaya. Syaikh Taqiyyudin An Nabhani dalam Kitab Nidzom al Islam, pada bab Thariqul Iman, menjelaskan tentang kunci kebangkitan umat berawal dari tingkatan pola berpikirnya. Umat hanya bisa bangkit, saat persepsi tentang kehidupannya memiliki asas berpikir yang benar. Cara pandang kehidupan yang benar menjadi kunci perubahan, sehingga persoalan kehidupan dapat dipecahkan dengan solusi terbaik.

Hidup dan kehidupan adalah sesuatu yang bisa diindera, karena itu menjadi obyek pemikiran. Keyakinan atau akidah seseorang adalah cara pandang kehidupan secara menyeluruh,tentang hidup sebelum dan setelah dunia. Karena itu akidah bukan sekedar naluri alami yang dimiliki manusia, namun harus diperkuat dengan terpuaskannya akal dalam memahami hidup, manusia dan alam semesta.

Kecerdasan berpikir umat tidak lain berdayanya potensi akal dalam memahami sistem kehidupan. Sebuah sistem yang lahir dari pemikiran sekuler, seperti kapitalisme dan sosialisme harus ditempatkan sebagai hasil olah akal, jika dijadikan asas berpikir manusia, maka kedudukannya menjadi akidah. Inilah bahayanya ketika akidah sekulerisme tersebut dijadikan acuan umat Islam.

Karl Marx dan Socrates adalah pemikir akidah sekulerisme, dari olah akalnya lahir sistem sosialisme atheisme dan demokrasi kapitalisme. Akidah mereka jelas merupakan cara pandang kehidupan yang salah, namun lebih salah lagi jika pemikiran tersebut diadopsi oleh umat Islam. Yang seharusnya memiliki cara pandang kehidupan yang benar dalam memahami kehidupan dengan pikiran cemerlang (al fiqr al mustanir).

Adanya perubahan persepsi kehidupan dari Islam menjadi sekuler ditengarai sebagai awal malapetaka kehancuran peradaban Islam. Kehidupan yang tidak lagi bersandar kepada manhaj Rasulullah Saw dalam penerapan hukum di masyarakat, terlebih setelah runtuhnya kehilafahan Utsmaniyah di Turki, 1924 M. Menjadi titik lemah yang membawa penderitaan bagi umat Islam hingga kini. Maka, wajar jika umat Islam seperti kehilangan marwahnya, kehebatan ajaran Islam telah terhalangi oleh kejumudan orang Islam itu sendiri yang bertekuk lutut hidup dibawah aturan sistem sekulerisme.

Pun di negeri ini, harusnya umat Islam memiliki kecerdasan berpikir dalam menghadapi segala persoalan kehidupan. Tidak boleh terpasung pada kebijakan politik sekulerisme yang terbukti menyengasarakan rakyatnya. Adanya angin perubahan yang selalu dihembuskan oleh kelompok dakwah yang selama ini konsisten untuk menerapkan syariah secara kaffah, harus disambut hangat bukan malah ditandai sebagai kelompok radikal. Persoalannya, secerdas apakah umat ini berpikir? Maka, parameternya adalah standar berpikir dengan akidah Islam yang benar dan pemahaman tsaqafah Islam yang utuh dan menyeluruh. Mampu membaca fakta kehidupan dengan detail dan menyandarkannya pada dalil yang shahih dari ketentuan hukum Allah SWT.
Wallahu’alam bish Shawwab.