Oleh : Dian Puspita Sari
Aktivis Muslimah Ngawi

Indonesia dikenal kaya akan keindahan hutannya. Hamparan hutan tropis di sejumlah wilayahnya mampu menstabilkan iklim dunia dengan cara menyerap karbondioksida. Atas perannya itu, hutan Indonesia layak dijuluki paru-paru dunia.
Namun, itu dulu. Kini julukan paru-paru dunia nampak tak layak disematkan kepada negeri ini. Akibat pembalakan liar marak dilakukan terhadap hutan di negeri ini. Salah satunya hutan di Provinsi Papua.

Berdasarkan laporan Greenpeace, Sejak tahun 2001 hingga 2019, Papua telah kehilangan sekitar 420.600 hektar hutan.
Lebih dari seperempat hutan yang hilang berada di Merauke, di mana 83.400 hektar di antaranya berubah menjadi perkebunan kelapa sawit pada 2018. (matamatapolitik.com, 9/10/2020)

Tahun ini, kerusakan hutan Papua kian menjadi. Investigasi terbaru bersama Greenpeace International dengan Forensic Architecture. Mereka menemukan dugaan anak usaha perusahaan Korea Selatan, Korindo Group di Papua sengaja melakukan pembakaran hutan untuk usaha perkebunan kelapa sawit. Korindo memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di Papua dan telah menghancurkan sekitar 57.000 hektare hutan di provinsi itu sejak 2001.
“Sebuah wilayah yang hampir seluas Seoul, ibu kota Korea Selatan,” demikian rilis di situs Greenpeace yang diakses pada Jumat (13/11).
(cnnindonesia.com, 13/11/2020)

Perusakan hutan ini kian memperburuk kondisi alam di negeri ini yang sudah lama rusak. Hutan terus digunduli, sungai-sungai tak luput dicemari. Dampaknya terasa hingga kini, ketika banjir terjadi hampir di seantero negeri. Semua ini timbul akibat ulah manusia, yang senantiasa melakukan perusakan terhadap alam atas nama pembangunan.
Bila hal ini tak segera diredam, niscaya akan timbul bencana lebih besar.
Akibatnya kehidupan berlangsung “abnormal”. Makhluk hidup dibuat sengsara karenanya. Banyak satwa yang ekosistemnya dirusak oleh perilaku manusia rakus. Tumbuh-tumbuhan dan sumber pangan manusia pun terancam.
Semua ini tak lepas dari aturan hidup sekuler di negeri ini.
Sekulerisme:

  • Menjauhkan negeri penerapnya dari Rabb dan aturan-Nya.
  • Berdampak destruktif terhadap kehidupan di dunia, termasuk terhadap alam di Papua.

Islam Menjaga Kelestarian Alam

Di saat Allah menciptakan alam semesta, Allah juga menurunkan seperangkat aturan-Nya yang paripurna dalam Islam.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan padamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agamamu.” (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Aturan Allah dalam Islam berdampak luas pada alam semesta.
Manusia diperintahkan Allah untuk mentaati semua seruan Allah, baik perintah maupun larangan-Nya.
Ketika mayoritas manusia mentaati seruan Allah, salah satunya agar manusia menjaga kelestarian alam, akan berdampak turunnya berkah Allah dari langit dan bumi.

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf [7]: 96)

Sebaliknya, jika mayoritas manusia mengabaikan seruan-Nya, kerusakan terjadi di mana-mana.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum [30]: 41).

Seruan Allah agar mayoritas manusia bertakwa ini:

  1. Mustahil dipenuhi dalam aturan sekuler dalam Demokrasi.
  2. Niscaya terwujud dalam naungan aturan Allah yang termaktub dalam Islam.

Islam mengajarkan kita untuk menjaga lingkungan alam.
Pada masa kekhalifahan Islam, peradaban Islam di Semenanjung Arab memiliki kawasan konservasi yang disebut Hima. Hima merupakan zona yang tak boleh digunakan untuk apapun bagi kepentingan manusia. Tempat tersebut digunakan sebagai konservasi alam, baik untuk kehidupan binatang liar maupun tumbuh-tumbuhan.

Masyarakat Arab jahiliyah juga mengenal hima. Di era pra-Islam, hima digunakan untuk melindungi suku-suku nomaden tertentu dari musim kemarau yang panjang. Hima yang cenderung subur karena mengandung banyak air dan rumput digunakan sebagi tempat menggembala ternak. Para pemimpin suku-suku nomaden yang cerdik menggunakan hima untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Menurut al-Shafi‘i, seorang ilmuwan Muslim di era keemasan, pada masa pra-Islam, hima digunakan sebagai alat untuk melakukan penindasan terhadap suku lain. Selain itu, hima berada di bawah perlindungan dewa suku-suku tertentu. Tumbuhan dan binatang di dalam hima sangat dilindungi. Sehingga semua binatang di dalam hima memiliki hak istimewa yakni berkeliaran sesuka hati, merumput tanpa ada gangguan manusia.

Setelah Islam datang, konsep hima sebagai tempat perlindungan binatang dan tumbuhan tetap dilestarikan.
Nabi Muhammad saw. pernah membuat Hima al-Naqi dekat Madinah sebagai tempat kavaleri, membuat kota Makkah dan Madinah sebagai dua tempat suci yang tidak boleh diganggu gugat keberadaanya. Nabi melarang berburu binatang pada radius empat mil di sekitar kota Madinah. Selain itu, masyarakat juga dilarang merusak tanaman dalam radius 12 mil di sekitar kota tersebut.

Sepeninggal rasul, khulafa’ur rasyidin giat menyerukan dan mempraktikkan perlindungan terhadap hima.
Setiap spesies binatang memiliki bangsanya sendiri. Menjaga hima merupakan kewajiban relijius dibandingkan kewajiban komunitas.
Selain itu, Hima juga harus memberi keuntungan lingkungan bagi masyarakat. Khalifah Umar bin Khaththab pernah memerintahkan penjaga Rabadhah hima. Sang Amirul Mukminin berkata, “Bukalah tanganmu bagi orang-orang yang membutuhkan, dengarkanlah keluhan orang-orang yang tertindas, biarkanlah para gembala yang hidupnya tergantung kepada unta dan domba masuk ke dalam hima, dan tinggalkanlah ternak milik Ibn ‘Awf dan Ibn ‘Affan (dua orang kaya teman Nabi Muhammad). Mereka memiliki banyak pohon kelapa sawit dan ladang jika ternak mereka membutuhkan makan. Namun, jika ternak mereka kekurangan makan dan hampir mati, mereka bisa datang padaku. Namun lebih mudah bagiku menyediakan rumput bagi mereka dari pada menyediakan emas dan perak. Semua properti milik Allah SWT. Dan semua makhluk di muka bumi ini tiada lain adalah hamba Allah. Jika bukan karena Allah, aku tidak akan melindungi tanah ini.”

Rasulullah dan para khalifah sangat tegas dalam menjaga Hima. Hima menjadi tempat yang diharamkan untuk perburuan dan menjadi tempat yang sakral di mana binatang dan tumbuhan yang di dalamnya dilindungi.

Pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab, ada seorang komandan perang bernama Sa’ad bin Abi Waqqas menemukan seorang budak memotong tumbuhan yang ada di dalam hima. Kemudian Sa’ad bin Abi Waqqas memukul budak itu dan mengambil kapak dari tangannya. Wanita yang merupakan saudara si budak mendatangi Khalifah Umar dan melaporkan apa yang dilakukan Sa’ad terhadap budak tersebut. Kemudian Umar berkata, “Kembalikan kapak dan baju budak tersebut. Semoga Allah Swt. mengampunimu.”
Sa‘ad menolak dan berkata, “Aku tidak akan melanggar apa yang Nabi perintahkan kepadaku. Tetapi jika kamu suka, aku akan mengganti rugi. Kemudian Sa‘ad mengatakan bahwa nabi pernah bersabda, ”Siapapun yang melihat seseorang memotong pohon di dalam hima, maka dia harus memukul orang yang memotong pohon tersebut dan menyita alat yang digunakan untuk memotong pohon tersebut.”

Setelah itu, Khalifah Umar menerapkan hukuman tersebut bagi siapa saja yang merusak pohon di wilayah hima. Di kota Madinah, ketika sahabat Nabi Abu Sa‘id al-Khudri melihat seekor burung berada di tangan beberapa pemuda, dia mengambil burung tersebut dari tangan pemuda itu dan melepaskan burung tersebut terbang ke alam bebas. Sahabat Nabi Abu Ayyub al-Ansari pernah melihat beberapa anak laki-laki mengepung seekor rubah di sebuah sudut kota Madinah. Kemudian dia berkata, “Ini merupakan tanah yang diharamkan untuk berburu.” Sedangkan Abu Hurairah pernah berkata, “Jika aku melihat kijang di Madinah, aku tidak akan mengganggu mereka.”

Kini, zaman sewaktu-waktu berubah. Namun, aturan Islam takkan berubah mengikuti perubahan zaman. Di abad milenium, semua potensi alam, termasuk hutan di Papua, sejatinya harus dikelola negara untuk kemaslahatan bersama, demi kepentingan rakyat, alam dan kehidupan di Papua. Pengelolaannya harus sesuai syariah Islam.
Sayang, hal ini tak mereka lakukan. Sebaliknya, mereka justru membiarkan pihak asing untuk berbuat kerusakan di negaranya sendiri. Akibatnya luar biasa merugikan alam, kehidupan manusia, dan makhluk hidup lainnya.
Jangan heran jika tuntutan otonomi khusus atau referendum kian menguat di Papua.
Hal ini disebabkan:

  • “Leluasa”nya pihak asing mengeksploitasi alam di Papua.
  • Lemahnya negara dalam menjaga kedaulatannya dari intervensi asing.

Tak ada solusi lain untuk melepas Papua dari genggaman asing kecuali hanya dengan kembali kepada aturan Islam kafah.

Wallahu a’lam bishawwab.