Oleh: Dwi Darmayati, S.Pd

Kekerasan terhadap anak di masa pandemi semakin meningkat. Kebanyakan terjadi justru di dalam rumah. Tempat yang seyogyanya aman bagi anak-anak, kini tak aman lagi. Sungguh hal ini sangat memilukan.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mendapat ribuan laporan terkait kasus kekerasan pada anak. Deputi Perlindungan Anak Kemen PPPA, Nahar mengatakan, laporan itu diperoleh dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) yang dikumpulkan sejak 1 Januari hingga 31 Juli 2020. Totalnya ada 4.116 kasus (suara.com, 24/08/2020).
Asisten Deputi Bidang Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Valentina Gintings juga menyampaikan bahwa berdasarkan data SIMFONI PPA, pada 1 Januari – 19 Juni 2020 telah terjadi  3.087 kasus kekerasan terhadap anak, diantaranya 852 kekerasan fisik, 768 psikis, dan 1.848 kasus kekerasan seksual (kemenpppa.go.id, 23/06/2020).
Selain itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur Andriyanto mengungkapkan bahwa masih tingginya tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang 2020. Data Sistem Informasi Online Kekerasan Ibu dan Anak (Simfoni) mengungkapkan adanya 1.358 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jatim, yang tercatat hingga 2 November 2020 (republika.co.id, 3/11/2020).
Menurut Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur, Andriyanto mengungkapkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak banyak terjadi di lingkungan rumah tangga. Ia menduga, tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan rumah tangga karena selama pandemi Covid-19, masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah. Pelakunya adalah orang terdekat atau keluarga sendiri (republika.co.id, 3/11/2020).
Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (Fema), Dr Yulina Eva Riany juga menjelaskan bahwa perubahan pada kondisi finansial keluarga akibat adanya Covid-19 (kesulitan mengakses kebutuhan pokok), diyakini akan semakin memperburuk tekanan psikologi pada keluarga yang dapat berdampak fatal bagi kondisi keluarga. Sehingga anak-anak yang sering menjadi korban ledakan emosi sang orangtua karena selain anak adalah pihak terdekat, risiko untuk mendapatkan perlawanan balik dari sang anak pun sangat kecil. Selain itu, rendahnya pengetahuan akan strategi pengasuhan tanpa kekerasan fisik dan kebiasaan memberlakukan hukuman fisik dalam interaksi sosial sehari-hari antara anak dengan orangtua (kompas.com, 14/10/2020).
Sementara Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati mengatakan kondisi psikologis orangtua, pada situasi pandemi berdampak pada kekerasan terhadap anak. “Menurut survei KPAI pada 2020, pengasuhan dan pendampingan dalam belajar dominan dilakukan ibu, padahal seharusnya dilakukan bersama oleh kedua orangtua,” katanya (fin.co.id, 20/10/2020).
Kekerasan yang dialami anak tentunya tidak lepas dari beberapa faktor yang memicunya. Perubahan drastis yang terjadi pada rutinitas sehari-hari ini tidak jarang menyebabkan keluarga mengalami konflik antar anggota keluarganya akibat timbulnya rasa bosan, jenuh, dan penat yang dialami. Selain itu, tekanan sosial-ekonomi seperti terlilit utang, rendahnya kemampuan ekonomi, dan faktor lain yang menjadi penyebab tingginya tingkat stres pada orangtua. Akibatnya, anak menjadi korban pelampiasan stress yg dialami orang tua.


Ditambah dengan maraknya tontonan yang jauh dari kata mendidik sebagai pengisi waktu di rumah untuk menghindari kebosanan. Parahnya, kebanyakan tontonan tersebut berbau kekerasan. Oleh karena itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga menyatakan film sangat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat termasuk kasus kekerasan kepada anak-anak. Oleh karena itu, sangat penting bagi produsen dan lembaga sensor film memahami hal ini, sehingga film yang dibuat diharapkan benar-benar dapat memberikan nilai-nilai positif atau ramah anak (kemenpppa.go.id, 4/11/2020).
Namun, jika ditelisik lebih dalam, seleksi atas tontonan terhadap keluarga ataupun anak bukanlah solusi tuntas, dalam mengatasi maraknya tingkat kekerasan pada anak. Hal ini hanya sebatas solusi parsial saja. Sama halnya dengan penyediaan lembaga konsultasi keluarga dan anak, pemenuhan hak anak, menciptakan lingkungan dan pembangunan kota layak anak bahkan sekolah ramah anak, tak mampu mencegah naiknya angka kasus kekerasan terhadap anak. Hal yg terjadi justru semakin meningkat dan menjalar ke berbagai kota. Selain itu, adanya faktor penegakan hukum yang lemah terhadap para pelaku kekerasan. Hukuman yang diberikan terlalu ringan, sehingga tidak menimbulkan efek jera. Faktor ini berpeluang terulangnya kembali kasus-kasus kekerasan terhadap anak.
Berbagai faktor penyebab tingginya kasus kekerasan anak ini menunjukkan adanya kegagalan dari sistem kapitalisme sekuler untuk melindungi keluarga dan anak-anak.  Sistem yang memiliki asas memisahkan agama dalam kehidupan. Telah nampak nyata kerusakan yg ditimbulkan dari sistem tersebut. Berbagai solusi yang dilakukan, ternyata tidak menyelesaikan masalah. Tetapi justru menghasilkan masalah baru. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi tepat untuk melindungi meminimalisir terjadinya kembali tindakan kekerasan pada anak.
Islam memiliki seperangkat pedoman untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan jauh dari perilaku kekerasan pada anak. Islam membentengi setiap muslim untuk berakidah yang benar dan lurus. Sehingga memiliki pemahaman bahwa setiap perbuatannya senantiasa terikat dengan hukum Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban.


Langkah yang ditempuh untuk menyelesaikan kekerasan pada anak adalah dengan melaksanakan segala aktivitas dengan kesadaran akan hubungannya dengan  Allah. Orang tua wajib memberikan cinta dan kasih sayang kepada anaknya dan memberikan pendidikan yang baik. Sebagaimana Rasulullah saw. memperlakukan anak-anak. Diriwayatkan dari suatu hadist bahwa, suatu hari datang seorang kepala suku mengunjungi Rasulullah saw., kemudian dia melihat beliau sedang mencium cucunya. Kepala suku itu berkata kepada Nabi saw., “Saya mempunyai sepuluh anak, tetapi tak seorang pun di antara mereka yang pernah saya cium.” Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang tidak mempunyai kasih sayang pada anaknya, dia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT.” (HR. Bukhari).
Allah juga memerintahkan kepada orang beriman untuk menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka. “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (TQS. At-Tahrim: 6).
Oleh karena itu, negara berkewajiban mendorong setiap individu untuk taat terhadap aturan Allah SWT. Negara juga mengharuskan penanaman akidah Islam pada diri setiap individu melalui pendidikan formal maupun nonformal melalui beragam sarana dan institusi yang dimiliki negara.
Dalam aspek ekonomi negara harus menyediakan lapangan kerja yang cukup memadai dan layak, serta mendorong para kepala keluarga untuk dapat bekerja dan mampu menafkahi keluarganya. Sehinggan tidak akan ada anak yang telantar ataupun orang tua yang stres karena tuntutan ekonomi yang akan memicu munculnya kekerasan anak yang dilakukan oleh orang tua. Seorang ibu mampu menjalankan fungsinya sebagai ummu warabatul bait dan madrasatul ula bagi generasi. Yakni mengurus rumah tangga, mengasuh, menjaga, dan mendidik anak-anaknya.
Dalam aspek sosial, negara wajib menerapkan sistem sosial yang mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan sesuai ketentuan syariat. Laki-laki maupun perempuan wajib menjaga/menutup auratnya, tidak boleh berdua-duaan dengan nonmahram (khalwat) ataupun campur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa ada keperluan syar’i (ikhtilat), serta menjaga pandangannya (gadhul bashar). Setiap individu dilarang melakukan pornoaksi ataupun pornografi sehingga terhindar dari naluri seksual yang tak terkendali, yang mengancam anak dari pencabulan, kekerasan, atau kejahatan seksual. Selain itu, negara juga akan menutup semua mata rantai penyebaran situs-situs porno di berbagai media yang akan mampu menimbulkan syahwat yang liar.


Dalam hal hukum, negara akan memberikan sanksi yang tegas dan keras terhadap pelaku kekerasan maupun kejahatan terhadap anak, baik fisik maupun seksual. Sanksi yang diterapkan mampu memberikan efek jera bagi pelaku dan orang lain. Hukum perundang-undangan negara merujuk pada Al Qur’an dan as Sunnah.
Negara melaksanakan fungsinya sebagai pelindung segenap warga negara. Negara akan memuliakan anak-anak sebagai tumpuan terbentuknya generasi yang shalih yang ditujukan untuk peradaban manusia yang agung. Inilah negara Islam (Khilafah) yang memiliki kemampuan menjaga kehormatan, jiwa, dan keturunan yang tidak akan pernah dimiliki oleh negara sekuler.
Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).
Kehidupan Islam hanya bisa terwujud dengan diterapkannya aturan Allah dalam negara Islam bukan negara sekuler. Negara Islam akan memberikan lingkungan yang ramah pada anak dan jauh dari kekerasan.Wallahu ‘alam bishawwab