Oleh: Agu Dian Sofiani

Setelah awal tahun, Presiden Macron menggambarkan Islam sebagai agama dalam krisis dan membela hak majalah satir Prancis Charlie Hebdo untuk menerbitkan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad Saw, baru baru ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron di dalam salah satu surat kabar mengeluarkan ultimatum kepada Dewan Ibadah Muslim Prancis (CFCM/Conseil Français du Culte Musulman,) untuk menandatangani piagam “nilai-nilai Republik”.

Melalui ultimatum ini selama 15 hari ke depan Dewan Ibadah Muslim Perancis diminta untuk menandatangani kesepakatan tersebut.Marcon menginginkan agar CFCM menyatakan secara terbuka bahwa Islam hanyalah sebuah agama dan bukan gerakan politik. (20/11)

Ultimatum presiden Perancis sangat jelas mempresentasikan permusuhan Barat terhadap Islam Politik. Islam sebagai sebuah agama yang sempurna jelas mengatur masalah politik. Pengamalan ajaran Islam dalam aspek politik adalah kewajiban yang telah Allah berikan kepada Muslim. Sehingga Perancis tidak berhak melarang kaum muslimin melakukan aktivitas politik.

Kelancangan Perancis mengultimatum Muslim karena mereka tahu bahwa saat ini kaum muslimin dalam kondisi lemah. Kaum Muslimin tidak memiliki seorang pemimpin yakni Khalifah yang akan melindungi Mereka dari permusuhan siapapun termasuk Barat. Perancis mengetahui tanpa khilafah kaum muslimin tidak bisa melakukan perlawanan berarti kecuali sebatas kecaman atau boikot produk-produk mereka.

Sungguh serangan barat terhadap Islam seperti yang direpresentasikan oleh Perancis hanya akan bisa diatasi dengan kekuatan negara Islam yakni khilafah yang pemimpinnya disebut Khalifah. Sebagaimana dulu pendahulu Perancis yang tidak jadi menampilkan teater yang niatnya menghina Nabi karena ada Khalifah Abdul Hamid yang mengancam kedutaan Perancis untuk membatalkan pertunjukan tsb, maka saat ini pun umat Islam harus mewujudkan sistem politik yang akan membuat Barat tidak berani mengusik kemuliaan Islam dan umatnya.