Oleh : Andri Septiningrum, S.Si.
Ibu Pendidik Generasi

Kebahagian itu sungguh tidak terlukiskan lewat kata seperti disebutkan dalam QS. Al Ghosiyah ayat 8-9.

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاعِمَةٌ ۙ

Banyak wajah pada hari itu (yakni pada hari kiamat) berseri-seri. 

لِّسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ ۙ

Merasa senang karena usahanya (Allah meridhoi amalnya).

Kebahagian ketika akan bertemu dengan Rabb yang selama ini dirindu. Rabb yang mencukupi segala kebutuhan kita bahkan tanpa diminta. Yang sangat mengerti dan memahami isi hati kita, dan begitu menyayangi dan mencintai kita. Kelelahan-kelelahan selama masa penantian dan segala upaya yang telah dilakukan didunia agar bisa berjumpa dengan-Nya sudah tidak lagi berarti. Rasa lelah itu sudah terbayar lebih dengan kebahagian bisa berjumpa dengan-Nya. Dunia itu masa bekerja untuk akhirat, maka lelah di dunia itu biasa. Lelah yang dinikmati. Analogi sederhana, ketika di dunia kita mendapati ada orang sudah sangat baik kepada kita, dan ketika orang itu hendak bertemu dengan kita, maka kebahagian akan kita rasakan dan kita akan benar-benar menyambutnya.

Kebahagiaan juga dirasakan oleh sebagian masyarakat yang merindukan kedatangan sosok seorang habib. Hingga mereka melakukan penyambutan yang luar biasa saat kedatangan beliau kembali ke tanah air. MasyaaAllah semangat masyarakat dalam penyambutannya sangat terlihat jelas saat mereka menyampaikan keharuan mereka terhadap sosok habib. Habib dikenal sebagai sosok yang sangat tegas, gamblang dan lantang dalam menyampaikan syariah dan beliau dianggap mampu menyatukan umat. Masyarakat sudah lelah dengan ketidakadilan dan mereka butuh sosok yang memperjuangkan keadilan dan itu dilihat ada dalam dari beliau. Harapannya semoga kepulangan beliau membawa dampak positif membawa ikhtiar perubahan.

“Saya kira ini bukan sekadar perasaan cinta secara personality, tapi ini adalah representasi simbol kerinduan umat akan keadilan,” tutur Munarman (Sekum FPI) dalam acara Fokus: Kedatangan HRS, ke Mana Arah Perjuangan Umat? di kanal Youtube Fokus Khilafah Channel, Ahad (15/11/2020).

Menurutnya, inilah yang menjadi alasan umat begitu antusias menyambut HRS. “Itu yang selama ini dirasakan oleh umat bahwa mereka sedang mengalami ketidakadilan dan mereka sedang mengalami kezaliman,” ujarnya. (Mediaumat.news, 16/11/2020).

Meskipun demikian ada segelintir pihak yang menganggap kepulangan beliau akan berdampak negatif bahkan ancaman. Sekedar menunjukkan kegembiran dengan kedatangan beliau akan dikenakan sangsi.

Antusiasme umat begitu besar sampai ratusan ribu orang menunggu kedatangan beliau, mencerminkan bahwa beliau habib yang dirindu. Keberanian beliau membela yang haq dan menyatakan dengan tegas yang batil membuat beliau menjadi habib yang sangat diharapkan kehadirannya. Beliau berani dengan tegas menyatakan bahwa ayat Al Qur’an (hukum syariat) itu haruslah di atas ayat konsitusi. Beliau juga sosok yang dianggap mampu melawan kebatilan.

Kepulangan beliau bisa menjadi energi besar kepada perubahan yang hakiki. Dengan memupuk kesadaran bahwa kecintaan kepada ulama bukan karena individu beliau semata. Akan tetapi karena perintah Allah. Allah memerintahkan kita mencintai ulama yang takut kepada Allah. Ulama yang takut ketika berkompromi dengan kezaliman, mendampingi umat dan mengajarkan syariat Islam kepada umat. Kecintaaan kepada ulama dan kerinduan kita untuk hidup di bawah naungan sistem yang haq dan penolakan terhadap kebatilan merupakan energi positif. Tindakan nyatanya kemudian adalah dengan taat kepada ulama dan mengiringi ulama untuk memperjuangan al haq. Berupaya mengakhiri ketidakadilan selama ini. Umat ingin melakukan perubahan. Perubahan yang seperti apa yang diinginkan? Perubahan hakiki kah atau hanya perubahan yang bersifat semu?

Perubahan hakiki sejatinya membutuhkan tiga hal. Pertama, adanya pemahaman terhadap realitas masyarakat yang bobrok berikut akar masalahnya. Kedua, adanya pemahaman mengenai bentuk kehidupan masyarakat yang ideal yang seharusnya diwujudkan. Ketiga, paham bagaimana jalan perubahan yang harus dilakukan.

Kalau kita cermati, adanya kebobrokan dalam masyarakat bisa terjadi karena dua hal, yaitu karena pemimpin yang tidak amanah dan sistem rusak yang digunakan dalam mengatasinya. Kita sebagai seorang muslim, maka kita menyakini bahwa aturan Allah adalah aturan yang sesuai fitrah kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Allah tahu yang terbaik bagi makhlukNya. Maka perubahan itu haruslah kearah diterapkan aturan Islam secara keseluruhan (kaffah).
Perubahan kembali kepada perubahan mendasar yang pernah dilakukan oleh Rasulullah shalallahu alayhi wasallam. Rasulullah membina masyarakat dengan menanamkan keimanan yang kokoh dalam diri mereka. Membentuk pribadi-pribadi yang amanah. Takut hanya kepada Rabb-Nya. Rasulullah juga membentuk sebuah kelompok dakwah yang memiliki visi kuat tentang urgensi dan kewajiban menegakkan Islam sebagai jalan perubahan. Beliau gencar melakukan perang pemikiran, menentang ide-ide rusak, dan membongkar kebobrokan sistem jahiliah. Mereka siap menentang sistem kehidupan yang rusak demi mewujudkan kehidupan yang lebih mulia di sisi Allah, baik di dunia berupa terwujudnya masyarakat Islam maupun di akhirat.

Sungguh keberkahan hanya akan diraih dengan keimanan dan ketaqwaan yang sebenarnya, melalui penerapan Islam secara menyeluruh. Cahaya Islam itu akan terpancar dalam diri kaum muslimin sehingga keindahan Islam itu bisa dirasakan masyarakat. Cahaya yang akan menghapuskan ketidakadilan yang ada saat ini. Waallahu a’lam bi showwab.