Oleh: Maman El Hakiem

Hiruk pikuk kota sekejap senyap, saat hujan rintik turun. Seorang pemulung melepas lelah, sembari membuka lembaran mushaf kecil. Seperti ada kerinduaan untuk membaca ayat-ayat suci di saat kehidupan begitu sesak untuk dihadapi. Tuntutan ekonomi yang terus bertambah di saat pandemi, memaksa manusia harus tetap bergerak untuk sesuap nasi.

Sosok bocah yang akrab dengan hapalan Al Qur’an, mendapatkan celah kehidupan cerah setelah fotonya diunggah dan banyak hati tergerak untuk menjemputnya. Asa untuk hidup menjadi seorang hafiz, telah mengantarkannya pada tempat yang semestinya dalam komunitas penghapal Al Qur’an.

Pun seorang pemimpin ibu kota yang banyak memberi jasa untuk perbaikan masyarakatnya, luput dari sorotan media. Bahkan, hampir saja diinterogasi karena keberfihakannya pada kedatangan seorang habib yang lama terasingkan dari tanah kelahirannya. Karakter kepemimpinannya yang tetap santun, meskipun banyak dikerdilkan, akhirnya mengundang kekaguman masyarakat dengan isyarat komunikasi politiknya.

Duduk santai sembari membaca buku telah menjadi kebiasaannya, namun lagi-lagi mata media sosial melihatnya sebagai sebuah fenomena. Buku, telah mampu menjadi komunikasi publik yang mencerminkan pribadi yang membacanya. Jagad para pecinta buku akhirnya memburu “How Democracies Die” yang sebenarnya telah beredar dua tahun yang lalu. Tetapi, apa dan siapa yang membacanya telah menjadikan buku tersebut menjadi berbeda.

Hidup ini adalah bagaimana membangun kebiasaan yang baik dan menjadinya karakter dalam bersosialisasi di masyarakat.

Buku adalah karya terbaik manusia yang mampu mengubah pola pikir masyarakat. Setiap sistem kehidupan, baik demokrasi atau sosialisme, lahir dari paradigma berpikir manusia yang tertuang dalam buku. Pengikut demokrasi tidak akan pernah melewatkan buku pemikiran Socrates, Montesque dan lainnya. Begitupun mereka yang menganut faham sosialisme tidak akan menghilangkan buku buah pemikiran Karl Marx dan Frederich Engels.

Tetapi, hanya ada satu sistem kehidupan yang bukan berasal dari pemikiran manusia, namun sama dari sumber bacaan, jutaan manusia ingin membacanya, bahkan rindu berat untuk menghapalkannya. Itulah sistem Islam yang termaktub dalam Al Quran , jika diterapkan melalui kekuasaan akan membawa rasa keadilan di masyarakat, bahkan kesejahteran hidup yang penuh berkah. Al Qur’an adalah kitab suci yang berisi hukum-hukum yang sangat memahami tentang hidup dan kehidupan manusia. Karena Al Qur’an bukanlah buku pemikiran manusia, melainkan wahyu Allah SWT, membacanya mendapat pahala, apalagi menghapalnya.

Sebuah isyarat yang telah diberikan Allah SWT di tengah karut marutnya kehidupan politik di negeri ini, untuk kembali membuka buku, bahkan lebih baik lagi mengkaji ayat-ayat dalam kitab suci agar manusia berhukum pada aturan hukum dari Allah SWT. Buku dan kebiasaan membaca ayat suci Al Qur’an harus menyadarkan kembali akal sehat manusia untuk mencampakan sistem sekulerisme, dan membuka harapan akan adanya kekuasaan yang menerapkan sistem Islam.

Wallahu’alam bish Shawwab.