Oleh: Ummu Hafidz (Komunitas Setajam Pena)

Kemenangan Joe Biden atas Donald Trump akan memberi dampak ekonomi global yang akan menurunkan tensi perang dagang antara Amerika Serikan dan Cina. Kemenangan Joe Biden diharap dapat membawa sentimen politik bagi Indonesia yang diambil Amerika Serikat dalam 4 tahun kedepan yang berbeda dari pemerintahan saat ini, kata Manggung Partner Grant Thornton Indonesia, Johanna Gant dalam keterangannya Jakarta, Minggu (18/11/2020)

Banyak yang menggantungkan harapan besar atas kemenangan Joe Biden. Sebab, masyarakat Amerika menilai presiden Trump dalam menanggulangi Virus Covid yang telah merenggut lebih dari 230,000 jiwa, dan merosotnya ekonomi adalah jejak yang buruk. Kesempatan ini dimanfaatkan dari pihak Joe Biden untuk mengambil hati rakyat Amerika, dan menghantarkan Joe Biden melenggang ke Gedung Putih sebagai Presiden Amerika Serikat.

Indonesia pun memiliki harap yang sama. Sebagaimana pengamat politik luar negeri Makarin Wibisono dan pengamat pertahanan dan militer Connie Batre menilai pemilihan Presiden Amerika Serikat sedikit banyak mempengaruhi kebijakan Indonesia dalam aspek Ekonomi, Politik, Keamanan, dan pertahanan, antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Presiden terpilih diharapkan bekerjasama dalam perdagangan Internasional, yang akan mempengaruhi pertumbuhan perekonomian nasional. Dari perdagangan tersebut diharapkan membuka peluang Expor ke Amerika Serikat. Peluang inilah yang akan direspon positif oleh pasar sehingga dana asing masuk ke Indonesia, dan menguatkan nilai tukar rupiah.

Perlu dicermati, peluang kerjasama antara Indonesia dan AS apakah dirasakan dan dinikmati oleh rakyat Indonesia? Tentu saja tidak. Sebab, peluang kerjasama tersebut akan menguntungkan dan dinikmati oleh segelintir orang serta kroni-kroni penguasa saja.

Jadi jangan terlalu berharap atas terpilihnya Joe Biden yang faktanya adalah presiden negeri kafir Harbi Fi’ lan yang jelas-jelas musuh umat Islam. Biden datang seakan akan membawa angin segar dan harapan baru bagi umat Islam, perlu dicermati janji-janji Biden yang manis itu telah melenakan umat Islam seolah- olah Amerika adalah sahabat yang siap membantu dan mendukung setiap apa yang dibutuhkan umat Islam.

AS adalah pengemban kapitalis sekuler yang menjadikan Idiologinya untuk disebarkan di negeri-negeri muslim. Demi menjalankan misi politik luar negerinya, sebagai metode penjajahan mereka. Tentu saja hal ini tidak akan membawa perubahan bagi umat Islam, bahkan semakin dalam mencengkram umat Islam. Penjajahannya telah mencerai berai wilayah kaum muslim.

Dari fakta ini, tidak ada untungnya ketika berkerjasama dengan kafir penjajah. Islam dibawah naungan khilafah mampu mensejahterakan umat tanpa tergantung pada negara-negara asing. Ini bukanlah retorika kosong sebagaimana bualan negara demokrasi kapitalis yang menjanjikan kemakmuran. Khilafah berdiri mengemban kewajiban untuk menjadi negara independen yang kuat dan berwibawa terhadap seluruh negara- negara di dunia.

Allah Azza Wajalla melarang memperhatikan apapun bagi kafir untuk menguasai orang-orang beriman. Dalam FirmanNya “Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang- orang kafir untuk menguasai orang mukmim” (TQS. An- Nisa, 144).

Khilafahadalah negara yang menerapkan hukum-hukum Allah, dimana fungsinya adalah Rak’in ( pelayan) dan Junnah ( pelindung) bagi rakyatnya.

Pemerintah Islam menerapkan kebijakan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan kebutuhan pelengkap warga yang telah disediakan Allah, atas sumber daya alam yang melimpah baik barang tambang, hutan dan laut. Meskipun demikian khilafah tetap memiliki konsep perdagangan keluar negeri yang secara mutlak memberlakukan hukum syariat dalam mengatur interaksi antar negara khilafah dengan luar negeri yaitu negeri kafir. Dalam menjalankan perdagangan luar negeri yaitu expor dan impor harus ada ijin negara khilafah, hal ini merupakan strategi politik perdagangan Islam. Strategi tersebut dibagi dua, yaitu Dar Al Islam( wilayah Islam) dan Dar Al Kufur(wilayah selain Islam). Dar Al Kufur dibagi menjadi dua yaitu kafir harbi fi’ lan dan kafir harbi hukman. Adapun kafir harbi hukman terikat perjanjian dengan negara daulah atau kafir hukman yang tidak terikat perjanjian dan meminta perlindungan kepada negara khilafah.

Kebijakan-kebijakan perdagangan dengan luar negeri bertujuan proteksi untuk melindungi stabilitas ekonomi dalam negeri kaulah dan sekaligus untuk mewujudkan stabilitas politik dan sebagai tugas mengemban Risalah Islamkepenjuru dunia. Sedangkan terhadap kafir Harbi Fi’ lan tidak ada hubungan perdagangan sama sekali hanya ada hubungan perang, karena Kafir Harbi Fi’ lan adalahmusuh nyata Umat Islam dan wajib hukumnya untuk diperangi. Wallahua’lam bishowab.