Oleh: Maman El Hakiem

Ibnul Qayyim al Jauziyah mengatakan, teman itu ibarat makanan bagi tubuh. Ada yang seperti nutrisi, racun maupun obat bagi tubuh. Saat kita bergaul dengannya, apakah kita menjadi warna atau malah diwarnai olehnya.

Teman ada yang mengangap kita seperti “obat”. Ia hanya membutuhkan kehadiran kita saat keadaan dirinya sakit, kesulitan ekonomi atau ada masalah yang tidak mampu dihadapinya. Setelah keadaannya membaik, kita dianggap obat yang pahit untuk ditelan, tidak dibutuhkan lagi.

Teman juga bisa menjadi racun bagi tubuh saat ia membawa nilai-nilai yang merusak. Siapapun yang berteman dengannya tanpa disadari terbuai dengan kenikmatan sesaat, setelah itu melumpuhkan seluruh sendi tubuh dan mati secara perlahan.

Teman terbaik, tentu kehadirannya bagai nutrisi yang selalu dibutuhkan tubuh setiap hari. Nutrisi tidak selalu berasal dari makanan yang mewah dan mahal harganya, bahkan lebih banyak dari makanan sederhana dan murah harganya. Teman yang kaya nutrisi, bukan karena status sosialnya, melainkan karena mampu menjaga dirinya dengan hukum syariat.

Rasulullah Saw. pernah bersabda teman yang baik itu seperti penjual minyak wangi, yang membawa aroma wangi, meskipun tidak menempel di tubuh kita. Sedangkan teman yang buruk, kehadirannya seperti pandai besi, memercikan api meskipun tidak mendekat. Teman yang baik selalu hadir di saat yang tepat, memberi nasihat di saat hati lalai dari mengingat Allah SWT.

Ibarat bertanam pohon, benih yang baik belum tentu bisa tumbuh baik, jika kondisi lingungan tanahnya tidak baik. Perlu pupuk keimanan yang teratur dan terjaga perawatannya, sedangkan jika lingkungannya baik dan subur, tanaman tentu mudah untuk tumbuh berkembang.

Itulah lingkungan masyarakat yang baik, parameternya bukan sekedar dilihat dari tercukupinya kebutuhan sarana atau materi fisik, melainkan terbinanya aturan kehidupan yang diterapkannya berupa kebutuhan non fisik, seperti terjaganya moral dan kehidupan spiritual. Karena itu teman yang kaya nutrisi harus dimulai dari pengokohan akidah dan pemahaman syariah yang benar.

Berteman bukan hanya dengan orang lain yang ada di sekitar kita, teman sejati justru istri atau suami yang ada dalam keluarga. Konsep Islam memahami hubungan suami dan istri itu adalah “pertemanan” bukan “rekan kerja”, maka akad nikah menjadi “ikatan kuat” untuk mengokohkan hubungan, bahwa sesungguhnya keluarga harus menjadi lingkungan yang baik untuk lahirnya anak-anak yang kelak menjadi generasi hebat, pejuang dan perindu tegaknya agama Allah SWT di muka bumi. Untuk itu, kaulah teman sejati, wahai suami atau istri.

Wallahu’alam bish Shawwab.