Nirwana Ummu Maryam
(Pengajar Di Madrasah Aliyah)

Takut terhadap neraka dan merindukan surga adalah bagian dari iman dan keyakinan yang sangat pentin. Surga dan neraka adalah dua tempat yang akan menjadi ujung perjalanan manusia sesuai dengan amal perbuatanya di dunia. Ini pulalah yang mewarnai kehidupan manusia.

Di kalangan sahabat, banyak yang rela mengorbankan apa pun, termasuk jiwanya, demi meraih surga. Misalnya, Umair bin Hamam, yang syahid dalam Perang Badar, dan Amru bin Jamuh yang gugur dalam Perang Uhud. Kedua sahabat ini dijanjikan surga oleh Rasulullah SAW yang luasnya seluas langit dan bumi.

Tentu saja hal itu sangat wajar ketika manusia merindukan surga dan ingin sekali memasukinya. Karena kenikmatan surga tidaklah ada bandingnya dengan kenikmatan dunia. Sebaliknya sangat takut dengan kedahsyatan siksaan api neraka, disebabkan begitu perih dan pedihnya siksa neraka.

Dahsyatnya siksa Neraka

Allah Swt Berfirman : QS. Al-Hajj ayat 20-22 yang artinya :

“Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka)”. Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan), “Rasailah azab yang membakar ini”.”

Selanjutnya, Allah SWT berfirman dalam QS. Muhammad ayat 15 yang artinya:
“… Sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?”

Di ayat yang lain Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 41 yang artinya:

“Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.”

Dalam hadist dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Api kalian ini yang dinyalakan anak-cucu Adam adalah satu bagian dari tujuhpuluh bagian (panasnya) api Jahannam”. Para shahabat berkata : “Demi Allah, sesungguhnya api dunia itu telah mencukupi”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya api Jahannam melebihi api dunia dengan enampuluh sembilan bagian, dan setiap bagian panasnya semisal api dunia”. (HR. Bukhari no. 3265, Muslim 2843, Maalik dalam Al-Muwaththa’ 2/994, At-Tirmidzi no. 2592, dan Ahmad 2/244).

Dari beberapa ayat dan hadits di atas menggambarkan betapa dahsyatnya api neraka. Dengan demikian sungguh sangat mengherankan bila seseorang tidak takut dengan api neraka, bahkan berharap berpesta di neraka. Sebagaimana yang viral di you tube akhir-akhir ini, seperti yang dikutip @slidegossip_channel. “Heran deh gue. Lagian kan gue udah bilang gua gak bisa gila-gila masuk surga say. Gue mah di neraka juga udah gak apa-apa, happy. Ketemu teman-teman gue banyak, siapa tahu nanti gue bisa bikin acara di situ. Ketemu Michael Jackson,” ucap Nikita Mirzani dikutip dari akun gossip.

Terkait pernyataannya itu beberapa ulama memberikan tanggapan , salah satunya ulama kondang Buya Yahya. Buya Yahya mencurigai Nikita Mirzani sudah tidak punya iman saat menyampaikan keinginannya masuk neraka. Menurut Buya Yahya, jika orang yang mengucapkan hal itu adalah seorang muslim, maka patut dikasihani. Sebab, dia menilai kata-kata seperti itu adalah sebuah musibah yang besar. “Maka kita ucapkan Innaalillahi. Karena itu bencana besar. Dan hendaknya kita tidak terima dan sedih,” kata Buya Yahya.( https://kalbar.suara.com/read/2020/11/26).

Penyebabnya adalah sistem kapitalis

Saat ini, banyak perilaku umat Islam yang tidak takut lagi dengan ancaman api neraka. Bahkan ada yang dengan terang-terangan mengatakan tidak takut masuk neraka. Dan sebagian yang lain tidak takut lagi melakukan perbuatan yang melanggar hukum syariat. Semua ini disebabkan karena hidup di bawah idiologi kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem kufur yang tidak takut kepada Allah, juga tidak berharap akan rahmat-Nya.

Idiologi kapitalis ini berpandangan bahwa agama harus dipisahkan dari kehidupan yang disebut dengan sekulerisme. Dalam urusan kehidupan tidak boleh ada campur tangan dari agama atau aturan pencipta. Kebahagiaan manusia hanya di ukur dari berlimpahnya materi dan keuntungan kehidupan duniawi yang didapatkan. Islam hanya ditempatkan di ranah-ranah ritual dan individu semata, Dalam kehidupan umum masyarakat bebas berkehendak sesuai dengan hawa nafsunya yang memberikan keuntungan saja, Meski itu bertentangan dengan syariat dan tidak sesuai dengan aturan Allah.

Dengan demikian tidak heran jika masyarakat sekarang lebih takut miskin, dan mereka tidak begitu takut lagi pada neraka. Ini juga disebabkan minimnya pengetahuan agama yang dimilikinya.

Bagaimana dia bisa merasa aman dari hukuman Rabnya ketika dia puas dengan keindahan kehidupan dunia ini? Bagaimana mungkin dia tidak takut akan murka Tuhannya, ketika aturan-Nya diabaikan dan umat manusia kembali ke kegelapan dan kebodohan?

Hanya Islam solusinya

Dalam  Islam Allah memerintahkan manusia memelihara diri dan keluarga dari api neraka seperti dalam firmanNya di dalam al Qur’an  Surat at-Tahrim ayat 7:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim : 7)

Muqatil dan Ad Dhahak dalam tafsir Ibnu Katsir : 4/391 berkata, makna peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah, “Engkau memerintahkan mereka untuk mentaati Allah dan mencegah mereka dari bermaksiat kepada Allah, hendaklah engkau menegakkan perintah Allah terhadap mereka, Memerintahkan mereka dengan perintah Allah dan membantu mereka dalam urusan tersebut, dan jika engkau melihat kemaksiatan dari mereka maka hendaklah engkau menghardik mereka”.

Secara individu allah memerintahkan menjaga diri dari api neraka dengan takwa yaitu menjalankan seluruh perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Perbuatannya selalu terikat dengan syariat Allah.

Dalam sistem Islam kholifah akan mengkondisikan agar rakyatnya memiliki ketaqwaan dan mampu menjaga diri serta keluarganya. Sebab Islam berpandangan bahwa, kemuliaan seorang tergantung ketaqwaannya. Seperti firman Allah dalam Surat al-Hujurat ayat 13 :

ۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. “
Ketakwaan ini dapat dilihat dari banyaknya amal shalih yang dilakukan dan ilmu Islam yang dimiliki. Untuk itu kholifah akan menyelenggaran sistem pendidikan islam yang dapat mencetak generasi berkualitas dan berkepribadian Islam.

Untuk mendukung terciptanya suasana tersebut kholifah juga akan mengontrol media supaya tidak merusak ketakwaan masyarakat. Media tidak akan dijadikan sebagai sarana untuk mengekspresikan kebebasan dan merusak pemikiran umat. Media dalam khilafah akan digunakan sebagai sarana untuk mendidik umat, agar semakin bertambah ketaqwaannya. Tidakkah kita rindu dengan kehadiran seorang kholifah yang akan melindungi umat dari berbagai kerusakan? Wallahu A’lam Bisshawab