Oleh: Retno Purnami

Anda pernah seperti saya? Ingin fokus pada tujuan namun banyak sekali distructing (pengganggu) yang akhirnya menghambat fokus kita?

Saya sering mengalami hal ini. Sering salah fokus pada sesuatu. Yang menjadi tujuan apa tapi yang dilakukan apa. Alih-alih mendekatkan pada impian, hal ini malah melenceng jauh dari yang diharapkan.

Dan ternyata penyebab utamanya adalah karena gagal fokus. Jika kita fokus pada apa yang kita lakukan, kita akan bisa mempersempit distructing yang menghambat impian.

Mengapa kita bisa fokus? Karena kita sudah menjadikan itu pilihan. Dan mengapa kita menjadikan itu sebagai pilihan karena ada suatu “why” yang sangat ingin kita wujudkan. Jika dalam perjalanan masih banyak distructing itu artinya kita belum benar-benar bisa menjawab “why” atau alasan mengapa kita perlu melakukan apa yang seharusnya.

Misalnya, kita mengetahui akan mati besok, maka kita akan fokus pada apa yang kita perjuangkan. Lain halnya jika kita merasa waktu kita masih banyak. Maka kita akan menunda-nunda, terlena karena merasa masih punya banyak waktu.

Contoh lain, kita akan menghadapi ujian lusa, kapan kita akan belajar serius? Benar, satu hari menjelang ujian. Maka kita akan menjadikan itu sebagai “strong why” untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Maka yang harus kita lakukan adalah menemukan “strong why” dan memindahkan “strong why” tersebut di waktu yang tepat hingga kita tak punya alasan lagi untuk menunda. No excuse.

Begitu juga yang terjadi bagi pengemban dakwah. Berapa banyak aktivis dakwah yang berhenti sejenak, menunda-nunda, berlambat-lambat, bermalas-malasan dalam menjalankan aktivitas dakwahnya. Kurangnya “strong why” adalah penyebab utama aktivis dakwah belum bersungguh-sungguh menjalankan misi hidupnya.

Kurangnya “Strong why” bisa jadi karena masih salah dan kurangnya pemahaman serta keikhlasan dalam mengemban tugas dakwah. Selain itu, manajemen diri yang kurang baik bisa juga sebagai pencetus utama.

Saya tidak sedang membicarakan orang lain. Saya sedang membicarakan tentang saya. Apa yang saya alami dan rasakan. Penyakit ini tidak bisa dianggap remeh. Jika tidak segera diobati dengan terapi khusus, maka akan menghancurkan target-target dakwah, walaupun sudah tersusun rapi.

Ada satu “strong why” yang sangat ampuh bagi para pengemban dakwah yaitu ajal. Maka Rasulullah Saw mengingatkan pada kita bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang mengingat kematiannya dan mempersiapkannya. Hal itu juga mengapa Allah Swt merahasiakan kematian agar kita melakukan persiapan terbaik untuk menjemputnya.

Jadi apa saja yang harus kita lakukan agar maksimal melakukan yang terbaik untu andil dalam perjuangan ini?

Pertama, hilangkan distructing/penganggu. Apa saja yang sering menghambat aktivitas dakwah kita dijauhkan, minimal diatur dengan baik. Contoh HP. Misal dalam sehari kita batasi waktu memegang HP dalam beberapa jam.

Kedua, pilih obyek mana yang paling penting dan paling prioritas untuk diselesaikan.

Ketiga, berikan range jarak dan target waktu yang jelas.

Keempat, manajemen waktu dan peran yang baik. Kapan saat kita bekerja di kantor, saat menyelesaikan pekerjaan rumah, saat kita berkontribusi dalam dakwah.

Mari jangan berhenti belajar dan terus belajar agar meminimalisir gagal fokus. Paksalah, biasakanlah, berpikirlah dan bergeraklah. Sehingga kita bisa ikut berperan, memberikan yang terbaik dalam perjuangan dakwah ini. Semoga Allah senantiasa ridha pada apa yang kita perjuangkan.