Oleh: Maman El Hakiem

Setiap muslim itu bersaudara. Akidah yang tertanam di dalam hati, jika ditumbuhkan dengan proses berpikir yang cemerlang, akan menjadikan cara pandang kehidupan yang begitu indah. Hati yang memberontak karena ada ayat suci yang dinista, telah mampu menggerakan jutaan langkah kaki manusia menuju satu titik yang sama. Momen 212 di tahun 2016, kenangan indah bukti cinta pada Allah SWT dan Rasul-Nya. Segala perbedaan dalam memahami ajaran agama ini, tidak menjadi penghalang jika tauhid menjadi kuncinya.

Kita terlahir sebagai anak zaman yang telah jauh berlalu dari masa Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Tentu, tidak mampu menatap kemuliaan sosok baginda nabi dan perilaku mulia para sahabatnya. Tetapi, itulah yang Rasulullah Saw. banggakan dari kita sebagai umat akhir zaman, tidak mengenal dan hidup bersama di zaman beliau, namun begitu rindu ingin bertemu dan hidup mengikuti sunnah baginda mulia.

Kerinduan, jika dipandu dengan pemahaman Islam yang benar akan melahirkan kecintaan pada syariah secara kaffah untuk diterapkan dalam kehidupan. Rindu itu berat, namun akan terasa ringan kalau saja kita mampu menghindari rasa kecintaan pada kelompok atau fanatisme nasionalisme.Ukhuwah yang sejati hanya ada pada ikatan akidah, bukan ikatan kepentingan (maslahiyah), apalagi ikatan yang disekat batas negara (wathaniyah).

Secara fitrah manusia sangat merindukan persatuan di tengah umat, tidak mau terkotak-kotak oleh batas wilayah yang tak jelas antara hak dan batilnya. Karena itu negara sebagai institusi yang mengurusi rakyat secara umum, dalam konsep Islam hanya dibedakan dengan aturan apa yang diterapkannya, bukan karena sekedar agama mayoritas rakyatnya, apalagi sekedar kumpulan individu yang tidak jelas aturan hukum yang diterapkannya.
Jika aturan yang diterapkannya tidak Islami, sekalipun mayoritas rakyatnya muslim, belum bisa dikatakan sebagai sebuah negara yang mencontoh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Karena itu, dalam mengikuti sunnah Rasulullah Saw. kita masih sebatas ibadah ritual dan muamalah yang itupun belum benar-benar bersih dari riba. Hijrah diri yang masih terbentur tembok penghalang kekuasaan yang melakukan kedzaliman.
Tetapi, apapun keadaannya momen kebersamaan kita telah menjadi jalinan ukhuwah terindah di jalan Allah SWT, tetaplah semangat melakukan perubahan yang lebih baik untuk umat, pada saatnya kita akan bertemu kembali dengan izin Allah SWT. Teruslah memupuk mimpi-mimpi kita dengan langkah dakwah yang tak kenal menyerah, karena kemenangan hanya bisa diraih dengan kesungguhan dalam berjuang. “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar–benarnya.” (Al-Hajj [22] :  78).

Wallahu’alam bish Shawwab.