Oleh : S.Wahyuni
Belakangan ini masih sering kita dengar kasus kekerasan terhadap anak yang ada di Indonesia masih sangat tinggi. Banyak faktor yang mengakibatkan itu bisa terjadi, apalagi pada masa pandemi seperti saat ini.

Asisten Deputi Bidang Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Valentina Gintings menyoroti maraknya kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi selama pandemi. “Berdasarkan data SIMFONI PPA, pada 1 Januari – 19 Juni 2020 telah terjadi 3.087 kasus kekerasan terhadap anak, diantaranya 852 kekerasan fisik, 768 psikis, dan 1.848 kasus kekerasan seksual, angka ini tergolong tinggi. Oleh karena itu dalam menghadapi new normal ini, kita harus pastikan angka ini tidak bertambah lagi dengan melakukan upaya pencegahan yang mengacu pada protokol penanganan anak korban kekerasan dalam situasi pandemi Covid-19,” jelas Valentina. (www.kemenpppa.go.id)

Kasus kekerasan ini hampir terjadi diberbagai daerah di Indonesia, misalnya saja di Jawa timur. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur Andriyanto mengungkapkan masih tingginya tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang 2020. Data Sistem Informasi Online Kekerasan Ibu dan Anak (Simfoni) mengungkapkan adanya 1.358 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jatim, yang tercatat hingga 2 November 2020. (/republika.co.id)

Di Kabupaten Bantul pun sama, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Bantul Muhamad Zainul Zain menyebut, pada 2019 jumlah laporan yang masuk kepada PPA tercatat ada 155 kasus. Sedangkan di 2020, yang baru dihitung sampai dengan Oktober kemarin, jumlah kasus sudah menembus angka 120 kasus terlapor. (https://jogja.suara.com/read/2020/11/08)

Ada berbagai faktor yang mengakibatkan kekerasan terhadap anak ini masih marak terjadi. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Jawa Timur Andriyanto mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak banyak terjadi di lingkungan rumah tangga. Andriyanto menduga, tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan rumah tangga karena selama pandemi Covid-19, masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah. Sehingga lebih mudah terjadi konflik dalam rumah tangga tersebut. (republika.co.id, 03/11/2020)

Selain dari konflik dalam rumah tangga, kasus kekerasan ini bisa terjadi karena tontonan anak. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga pada webinar yang diselenggarakan oleh Lembaga Sensor Film RI dengan tema Film dalam Perspektif Perlindungan Anak dan Hak Asasi Perempuan yang merupakan rangkaian kegiatan Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri, menyatakan bahwa tontonan adalah tuntunan, sehingga tontonan itu sangat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat termasuk kasus kekerasan terhadap anak. (www.kemenpppa.go.id)

Oleh karenanya, masyarakat dituntut untuk semakin kritis dalam memilah dan memilih film yang mereka tonton, salah satunya melalui Budaya Sensor Mandiri.
Berbagai macam cara telah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Mulai dari melakukan seleksi terhadap tontonan di keluarga, hingga upaya preventif melibatkan keluarga, sekolah dan masyarakat, optimalisasi sistem pelaporan dan layanan pengaduan soal kasus kekerasan terhadap anak, dan reformasi besar-besaran pada manajemen penanganan kasus kekerasan pada anak. (https://lokadata.id)

Selain itu juga telah dilakukan upaya membuat program Kabupaten Layak Anak (KLA) sehingga diharapkan di daerah tersebut bisa mencegah kasus kekerasan terhadap anak terus terjadi, Namun kenyataan berkata lain; bukan lantas kasus kekerasan anak menjadi lebih menurun, melainkan malah makin meningkat.( jogja.suara.com, 08/11/2020)

Kasus kekerasan terhadap anak ini sudah sering kita jumpai di tengah-tengah masyarakat. Yang mana kasus tersebut saat ini amat membutuhkan solusi tuntas, bukan solusi sesaat saja. Sistem kapitalis yang di emban oleh negara ini tidak akan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang mendera negeri ini. Karena sistem kapitalis berasas pada sekulerisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan, sehingga apapun permasalahannya tidak mampu diselesaikan dengan tuntas karena hukum yang diambil adalah hukum buatan manusia.

Berbeda dengan sistem sekuler. Sistem Islam memiliki solusi tuntas terhadap segala problematika umat manusia termasuk kasus kekerasan seksual terhadap anak. Dalam Islam, negara memiliki tangung jawab besar terhadap penyelesaian berbagai masalah yang menimpa rakyatnya.

Dalam mengatasi kasus kekerasan seksual terhadap anak, Islam memiliki beberapa cara. Di antaranya adalah Negara berkewajiban mendorong rakyatnya per individu untuk taat terhadap aturan Allah Swt. Negara juga mengharuskan penanaman akidah Islam pada diri setiap Insan (umat). Hal ini ditempuh mulai dari pendidikan formal maupun non formal melalui beragam sarana dan institusi. Mekanisme perlindungan dilakukan secara sistemik, melalui penerapan berbagai aturan, yaitu:

Pertama. Dalam tatanan ekonomi, Islam mewajibkan Negara menyediakan lapangan kerja yang cukup dan layak agar para kepala keluarga dapat bekerja dan mampu menafkahi kelaurganya. Sehingga tidak ada anak yang terlantar; krisis ekonomi yang memicu kekerasan anak oleh orang tua yang stress bisa dihindari; para perempuan akan fokus pada fungsi keibuannya (mengasuh, menjaga, dan mendidik anak) karena tidak dibebani tanggung jawab nafkah.

Kedua. Dalam tatanan pendidikan, Negara wajib menetapkan kurikulum berdasarkan akidah Islam yang akan melahirkan individu bertakwa. Individu yang mampu melaksanakan seluruh kewajiban yang diberikan Allah dan terjaga dari kemaksiatan apapun yang dilarang Allah. Salah satu hasil dari pendidikan ini adala kesiapan orang tua untuk menjalankan salah satu amanahnya yaitu merawat dan mendidik anak-anak, serta mengantarkan mereka ke gerbang kedewasaan.

Ketiga. Dalam tatanan hukum, Islam akan menindak tegas pelaku kejahatan. Akan memberlakukan hukuman qishas bagi pelaku pembunuhan. Darah dibalas dengan darah, luka dibalas dengan luka. Sehingga akan memberikan efek jera bagi pelaku juga efek pencegah bagi yang lainnya.

Demikianlah tatanan Islam dalam rangka melindungi masyarakat termasuk anak-anak. Karena anak-anak adalah generasi penerus dimana di tangan merekalah kehidupan dan peradaban akan dilanjutkan. Baik buruknya masa depan bisa ditentukan oleh baik buruknya generasi saat ini. Anak-anak dididik dan diarahkan sesuai dengan fitrahnya dengan penuh kebahagiaan dan keikhlasan. Sehingga mereka mampu dan siap untuk menjadi calon-calon pemimpin di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, jika ingin memberantas secara tuntas kekerasan kepada anak, termasuk kekerasan seksual, tidak ada pilihan lain kecuali kembali kepada aturan Allah secara kaffah.
Wallahu a’lam bisshawab.