Oleh: Dewi Asiya
Pemerhati masalah sosial

Jakarta, CNN Indonesia — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengizinkan pemerintah daerah untuk memutuskan pembukaan sekolah atau kegiatan belajar tatap muka di sekolah di seluruh zona risiko virus corona mulai Januari 2021.

Pembukaan sekolah ini didukung oleh komisi X DPR, sebagaimana diberitakan oleh Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah disebut berencana membuka sekolah untuk pembelajaran tatap muka pada Januari 2021 mendatang. Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda menyatakan, Komisi X DPR mendukung rencana tersebut dengan beberapa syarat.“Kami mendukung pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka. Tetapi hal itu harus dilakukan dengan protokol Kesehatan ketat” ujar Huda dalam keterangannya, Jumat (20/11/2020).

Huda menyebut, pembukaan sekolah tatap muka memang menjadi kebutuhan, terutama di daerah-daerah. Hal ini terjadi karena pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak bisa berjalan efektif karena minimnya sarana prasarana pendukung, seperti tidak adanya gawai dari siswa dan akses internet yang tidak merata.

Alasan pembukaan sekolah di masa pandemi ini memang benar sesuai dengan realita yang ada, dimana dibeberapa daerah tidak terjangkau oleh jaringan internet dan menajdikan siswa tidak bisa belajar dengan maksimal. Di sisi lain juga karena orang tua dengan kondisi ekonomi yang pas-pas an mereka merasa berat untuk membeli pulsa untuk belajar anaknya.

Sebenarnya pemerintah sudah memberikan fasilitas pulsa gratis kepada semua siswa di seluruh tanah air, namun pulsa gratis tersebut tidak bisa dipakai tersebab karena sulitnya jaringan dan tidak adanya gawai yang memadai karena masih banyak fakta gawai satu dipakai untuk 2-3 anak, sehingga pulsa yang diberikan secara gratis tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal, akhirnya menjadi sia-sia.

Disamping itu tidak semua orang tua bisa menjadi guru di rumah,tersebab karena kurangnya ilmu pengetahuan tentang materi ajar atau kurikulum sekolah anaknya, sehingga sering kali yang terjadi adalah uring uringan antara anak dan orang tua, bahkan ada yang berujung pada kekerasan terhadap anak .

Semua ini menjadikan anak- anak tidak bisa mendapatkan pelajaran secara baik melalui media online, apa jadinya nasib generasi ini.

Belajar via online sebenarnya bisa dilakukan dengan maximal apabila kebutuhan penunjang belajar online diperhatikan , mislanya memperbaiki jaringan internet di wilayah wilayah yang kesulitan jaringan , memberikan fasilitas gawai yang memadai pada semua anak didik .

Dan tak kalah pentingnya adalah memberikan pembelajaran kepada orang tua, tidak hanya masa pandemi namun juga di luar pandemi, sehingga orang tua bisa memberikan pelajaran kepada anaknya di rumah

Namun semua ini belum dilakukan oleh pemerintah sehingga mereka membuka sekolah tatap muka sebagai solusi pendidikan generasi Padahal kondisi pandemi belum melandai. Pembukaan sekolah offline menjadikan orang tua merasa cemas dan khawatir jika sekolah dibuka akan menjadi kluster baru penyebaran covid 19, karena pada faktanya belum disiapkannya berbagai perlengkapan agar tidak terjadi penularan. Sehingga pembukaan sekolah yang dicanangkan oleh pemerintah menjadi kontroversi ditengah tengah masyarakat . Siapa mau anaknya tertular penyakit.

Pemerintah terkesan memberikan kebijakan yang tidak diimbangi dengan sarana prasarana yang mendukung. Dalam hal ini bisa dikatakan kurang nya perhatian terhadap nyawa rakyat karena pandemi masih ada namun mau membuka sekolah offline.

Inilah menunjukkan kebijakan rezim sekuler bersifat sektoral, jauh dari pengaturan urusan masyarakat pada seluruh aspek. Sehingga pembukaan sekolah di januari 2021 dengan tidak diiringi kemajuan berarti dalam penanganan covid menempatkan rakyat pada posisi dilematis.

Sebenarnya masalah pandemi ini bisa segera diselesaikan sejak awal jika pemerintah memberikan kebijakan lockdkwn sejak awal. Dengan mengunci wilayah wabah penduduk nya tidak boleh keluar dengan dipenuhi berbagai fasilitas kebutuhan harian sehingga mereka yang ada di wilayah wabah bisa tenang karena semua kebutuhan nya terpenuhi . Sementara penduduk yang berada di luar wabah, mereka tidak boleh masuk ke wilayah wabah, sehingga tidak tertular dan mereka bisa melakukan aktifitas keseharian dengan leluasa, bisa melakukan ibadah, aktifitas eknomi, aktifitas pendidikan dan lain-lain dengan aman karena tidak khawatir tertular penyakit .

Inilah yang dilakukan oleh Rosulullah Saw, dan Kholifah Umar ketika menghadapi pandemi, jika pemerintah mau mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw pastilah akan didapatkan kebaikan, dan hal ini hanya akan bisa diterapkan dalam sistem khilafah Islamiyyah .Wallahu a’lam bish shawab .