Reporter: Sitha S.

Prof. Dr. Aceng Ruhendi Saifullah, pakar Linguistik Forensik menyatakan, aksi 212 merupakan indikator kualitas isu yang populis dan mendasar yang bisa mempersatukan umat Islam.

“Problem penyatuan umat adalah komunikasi politik. Dan 212 adalah indikator bahwa kualitas isu ini bisa mempersatukan umat. Ini adalah pelajaran bagi kita bagaimana memberikan isu-isu yang lebih populis dan lebih mendasar. Jangan sampai terjebak ke isu-isu parsial yang justru akan memecah belah umat,” tuturnya saat menjadi salah satu narasumber dalam Reuni Akbar 212 Muhasabah dan Ukhuwah untuk Menyatukan Langkah Umat “A Moment to Remind” di kanal Kaffah Channel, Rabu (2/12/2020).

Aceng memaparkan bahwa aksi damai 212 tahun 2016 adalah sebuah jejak sejarah yang monumental bagi kebangkitan umat Islam.

“Magnitudenya bukan hanya di Indonesia, tetapi menggoyang dunia. Momen ini adalah sebuah tonggak yang masih berproses mengantar nilai-nilai Islam seperti yang kita cita-citakan,” ujarnya.

Menurutnya, agar hubungan komunikasi antara pemerintah dengan rakyat lebih akrab, kita harus pandai memilih bahasa. “Di dalam Al-Qur’an yaitu basyiran dan nadhiran yakni mengingatkan atau memberi kabar gembira,” katanya.

Ia mengimbau, untuk mengukur potensi-potensi dalam berkomunikasi di panggung politik agar tidak menimbulkan konflik yang tidak produktif.

“Komunikasi politik yang kita gunakan seharusnya bersifat kontekstual. Misalnya konsep khilafah. Secara rekontruksi sudah dibahas detail mulai dari historis bagaimana kepemimpinan pada zaman kenabian, para sahabat dan sebagainya. Namun masih langka kajian-kajian untuk mendefinisikan secara operasioanal bagaimana konsep khilafah didekontruksikan yakni dikontekstualisasikan dalam konsep sekarang,” bebernya.

Selanjutnya, Aceng menambahkan bahwa hal ini sangat penting sehingga relevansinya bisa membangkitkan dan memobilisasi umat.

“Saya berharap, isu kebangkitan umat, isu penegakan syariat termasuk isu khilafah akan membumi pada konteks hari ini dan ke depan,” pungkasnya.