Oleh: Maman El Hakiem

Shalat itu tiang agama, jika tiangnya tumbang maka hancur agama. Karena itu sekalipun pemimpin berlaku dzalim, jika masih menegakkan shalat kita wajib taat. Soal kepemimpinan dalam Islam sebenarnya bukan perkara sakral, pemimpinnya manusia biasa, bukan nabi yang terbebas dari salah. Masalahnya, sistem seperti apa yang ia pimpin? Dalam sistem demokrasi, justru berlaku sebaliknya, sebaik apapun pemimpinnya yang ditaati tetap aturan yang disepakati oleh rakyatnya.

Shalat sebagai amalan utama manusia yang pertama kali akan dihisab, jika shalatnya baik, maka baik pula amalan yang lainnya. Apa parameter baiknya shalat? Secara individu cukup syarat sah dan rukunnya terpenuhi, benar kaifiyat dan ikhlas melakukannya. Sedangkan, secara hikmah, shalat harus dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.

Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Kitab Nashaihul Ibad, memberikan nasihat agar shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, tidak lain dengan terwujudnya keadilan penguasa. “Sikap adil orang biasa itu baik, tetapi keadilan yang dilakukan penguasa lebih baik”. Karena itu penguasa yang masih menegakkan shalat hanya ada pada sistem Islam, ketika nilai-nilai shalat terpancar dari aturan hukum syariat yang diterapkannya.

Kehidupan beragama yang ada pada sistem sekarang justru sebaliknya, shalat seolah sengaja dibiarkan untuk ditinggalkan, jangankan merasakan hikmahnya shalat, khusyunya shalat saja belum tentu. Pikiran kita masih dibebani persoalan yang harusnya negara dominan memikirkannya, bahkan sudah menjadi kewajiban dalam mengurusi rakyatnya.

Kewajiban negara dalam “menegakkan shalat”. Bukan hanya memperhatikan fasilitas fisik seperti kelayakan masjid dan subsidi bagi pengelolaannya, harus pula mewujudkan hikmah dari shalat berupa rasa aman dan tenteram. Mencegah perbuatan keji dan mungkar merupakan tugas negara, karena salah satu fungsi negara, yaitu menjaga agama dan memberikan rasa aman bagi rakyatnya.

Sudah shalat, tapi masih berlaku dzalim pada rakyatnya adalah cermin kepemimpinan sekularistik, menempatkan agama sebagai urusan ritual individual, bukan riayah rakyat secara keseluruhan. Maka, wajar saja kewajiban shalat secara perlahan mulai ditinggalkan, karena rakyat dihadapkan dengan berbagai kebutuhan dasar yang belum terpenuhi dan peran negara tidak mampu memberikan sanksi bagi mereka yang terang-terangan melalaikan kewajiban perintah dari Allah SWT.
 “Maka kecelakaanlah bagi orang – orang yang shalat, (yaitu) orang – orang yang lalai dari shalatnya,” (QS. Al-Maa’uun: 4-5).

Wallahu’alam bish Shawwab.