Oleh : Iva Tanauli

Rencana untuk membuka sekolah pada Januari 2021 dengan tetap melakukan protokol kesehatan didukung oleh ketua komisi X DPR RI Syaiful Huda, dengan alasan karena PPJ (pola pembelajaran jarak jauh) tidak bisa berjalan efektif karena sarana dan prasarana yang tidak mendukung seperti akses internet dan keterbatasan gawai seperti laptop, gadget dan lain-lain.
Hal senada pun diucapkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim yang mengizinkan pemerintah daerah untuk memutuskan pembukaan sekolah dengan pembelajaran tatap muka diseluruh zona resiko virus Corona mulai Januari 2021. Kebijakan ini berlaku mulai semester genap tahun 2020/2021.

Pembukaan sekolah ini menimbulkan pro dan kontra, karena tidak sedikit yang tidak setuju terhadap keputusan ini, bagaimana tidak? gelombang kasus positif covid 19semakin hari semakin bertambah dan meningkat tajam. Per 20 November 2020 saja kasus covid positif bertambah menjadi 4.792 kasus, belum lagi di akhir Desember 2020 ada liburan sekolah, Natal dan Tahun Baru karena dari berbagai pengalaman sebelumnya libur panjang menjadi salah satu klaster penyebab peningkatan kasus positif COVID.

Sungguh menjadi pertanyaan besar, “Apakah benar saat ini situasi pandemi sudah terkendali?”, padahal fakta sejatinya masyarakat sudah mulai cuek terhadap protokol kesehatan dan tingkat kesadaran dan kepatuhan mulai menurun. Lantas bagaimana dengan anak-anak peserta didik?
Sedari awal penanganan kasus covid19 tidak serius ditangani oleh pemerintah yang tidak melockdown total wilayah pertama yang terkena kasus positif sehingga penularannya tidak bisa dikendalikan hingga hari ini.

Menjadi solusi yg dilematis keputusan untuk belajar tatap muka, walupun bersifat tidak wajib,dan tetap melakukan protokol kesehatan, namun mekanisme apa yang disiapkan oleh Kemendikbud?. Jika hanya sekedar imbauan dan pengumuman tanpa arah dan tupoksi yang jelas. Negara mestinya berfikir secara mendalam tentang strategi kebijakan yang diambil agar semua pihak merasa nyaman dan aman sehingga tidak menjadi dilema bahwa sekolah tatap muka 2021 menjadi harapan atau kekhawatiran.

Semua ini tidak terlepas dari paradigma sistem kapitalis yang berlepas tangan dalam mengurusi rakyat serta melahirkan kebijakan-kebijakan yang karut Marut.

Berbeda dengan sistem Islam yakni khilafah yang menjadikan keselamatan rakyat adalah prioritas utama dan sunguh-sunguh meriayah rakyatnya dengan Syariah Islam. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw : “Imam (Khalifah)adalah Raa’in (pengurus rakyat) dan Ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya”.(HR. Al-Bukhari)

Maka langkah awal yang akan dilakukan oleh Khilafah adalah menyelesaikan wabah dimana Khilafah akan melakukan pemisahan wilayah yang terkena kasus covid ,mana wilayah yang tidak terkena kasus covid hal ini bertujuan untuk memisahkan antara sakit dan yang sehat, sehingga penyebaran tidak meluas ke wilayah lain. Begitu juga mana daerah yang bisa melakukan sekolah tatap muka mana yang masih bisa belajar dirumah atau daring.
Bagi wilayah yg terkena kasus atau zona merah Khilafah akan memastikan proses pembelajaran berjalan efektif, materi pembelajaran nya pun tidak akan membuat siswa dan guru stress serta menjamin kualitas pendidikan tidak berbeda dengan yang dijalankan pembelajaran offline.
Negara juga akan menjamin sarana dan prasarana untuk menunjang pembelajaran berupa pengadaan gadget yang layak untuk siswa maupun guru bagi yang belum memiliki, selain itu pengadaan kuota gratis bagi peserta didik maupun pengajar.

Negara akan membangun jaringan internet diseluruh pelosok daerah dan mengadakan pelatihan bagi para pengajar untuk tetap mengawal proses pembelajaran online. Semua proses pembelajaran daring diperolah dengan gratis dan mencukupi bagi seluruh rakyat tanpa membedakan status sosial yang kaya atau miskin, pintar dan biasa, muslim maupun non muslim karena pendidikan adalah kebutuhan pokok bagi seluruh rakyat.

Inilah pengaturan yang dilakukan sistem Islam yaitu mengedepankan kepentingan umat atas dasar ketaqwaan kepada Allah SWT. Maka tak ayal lagi, sudah saatnya kita kembali pada Islam yang kaffah.

Wallahualam bishawab