Oleh: Maman El Hakiem

“Kamu tuh bintang!”.
Kalimat itu yang selalu nempel di memori otakku. Ucapan seorang guru saat aku masih duduk di sekolah dasar. Pak Hanif namanya, beliau telah meninggal setahun yang lalu. Pada zamannya, guru itu sangat dihormati oleh murid-muridnya, sekalipun dicap killer. Tidak seperti sekarang, murid banyak yang kawalat karena tidak memperhatikan adab berilmu.

Kebiasaan buruk dulu, aku sering datang terlambat, sementara Pak Hanif dengan sepedanya sudah terbiasa tiga puluh menit datang lebih awal di sekolah.
“Bintang, kenapa selalu datang kesiangan lagi?” Tanya Pak Hanif.
“Iya Pak, maaf semalam hujan deras, atap rumah bocor…seragam di kastop kena tempiasnya.” Jawabku agak gugup, karena kemarin pun datang terlambat juga, tetapi dengan alasan malamnya ikut acara pengajian akbar di alun-alun.

“Alasanmu itu menyentuh hati, tapi aturan harus diterapkan…coba membalik badan, silahkan berdiri dengan satu kaki!” Begitulah cara Pak Hanif memberikan pelajaran untuk disiplin. Rupanya inilah yang menjadikan setiap murid mencapnya sebagai guru killer.
Waktu telah berlalu puluhan tahun. Hidup adalah perjalanan menepi satu titik garis akhir kehidupan. Sosok Pak Hanif yang galak, namun konsisten dalam menjaga komitmen membuat kesan tersendiri di benakku.

Bintang kecil yang dulu selalu kesiangan, kini menjadi seorang ayah yang mencoba mendidik anak-anaknya untuk terbiasa disiplin. Cahaya bintang yang jauh di atas langit, sebenarnya bisa dihadirkan di dalam rumah. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi bintang terang, asalkan mencoba mendisiplinkan waktu dalam aktifitas keseharian kita.

Malik bin Dinar dan Fudhail bin Iyadh, mereka ulama shalih yang menemukan sinarnya di kala usianya mendekati senja. Waktu kecilnya memang begitu suram, tetapi setelah menemukan kedisiplinan dan ketekunan, membuatnya mampu melampaui masa mengubah persepsi negatifnya. Malam yang begitu pekat tidak menjadi hambatan, justru ia menemukan semangat untuk mengejar ketertinggalannya dalam memahami agama.
“Kamu Tuh Bintang!” Pesan yang akan selalu teringat. Bintang itu pun kini bersinar meskipun kesiangan.

Wallahu’alam bish Shawwab.