Oleh : Surya Ummu Fahri (Pengamat kebijakan publik)

Mak Mak tuh dari dulu paling senang sama yang merah merah. Eit tapi kalo yang memerah itu kotanya, bisa buat hati Mak pada ketir ketir. Dilansir dari http:/www.kompas.com/02/12/2020 Batu kembali zona merah, karena klaster keluarga.

Berdasar informasi yang disampaikan bahwa hal ini terjadi karena salah seorang warga sakit dan tidak mau dibawa ke rumah sakit. Karena besuk membesuk baik tetangga maupun saudara. Begitu parah baru dibawa ke rumah sakit. Setelah Swab keluar akhirnya confirm. Akhirnya semua yang kontak dengan yang konfirm tersebut, meningkatkan jumlah terkonfirm.

Melihat kondisi seperti ini, wali kota pun tetap membiarkan aktivitas wisata meski zona merah. Tidak ada pembatasan kedatangan wisatawan. Karena menurutnya, wisatawan yang datang sudah pasti dalam keadaan sehat. Saat ini semua Rumah Sakit yang menjadi rujukan Covid 19 dalam kondisi penuh. Namun bisa terkoneksi dengan Rumah Sakit di luar kota.

Dilema
Saat ini rakyat berada dalam kondisi dilema. Sekolah kembali di tutup. Meskipun pihak terkonfirm dan ODR sudah di Isolasi. Namun pariwisata tetap buka. Hajatan dan hiburan tetap diperbolehkan, dengan syarat tetap memenuhi protokol kesehatan. Tetap saja tidak mengurangi kekhawatiran.

Pada kenyataannya, fakta di lapangan membuktikan bahwa yang namanya hiburan kesenian ataupun live music tidak mungkin ada yang menjaga jarak selayaknya baris berbaris. Mereka saling berkerumun. Tidak ada yang namanya jaga jarak atau physical distancing. Pun perihal hajatan. Tidak mungkin pemilik rumah ataupun penyelenggara membatasi tamu saat tiba tiba tamu berdatangan secara bersamaan.

Mungkin sebagian selama ini sudah cukup bertahan dengan di rumah saja tanpa kemana mana. Namun jika kenyataannya bertambah, ini membuktikan bahwa kurang ketatnya aturan yang diterapkan atau kebijakan yang masih belum sesuai untuk mengatasi pandemi.

Kembali Pada Aturan Allah
Dalam sebuah surat di Al qur’an menyebutkan bahwa datangnya sebuah wabah merupakan pertanda bahwa umat yang ada sudah melampaui batas. Maka dalam hal ini, harusnya kita meneladani umat terdahulu dalam menangani wabah. Seperti yang di contohkan pada masa Khalifah Umar bin Khatab. Tidak hanya berusaha menyelamatkan ekonomi saja tapi lebih mengutamakan keselamatan rakyatnya.

Selain itu juga kembali pada apa yang Allah gariskan. Taat dan patuh pada apa yang diperintahkan dan menjauhi LaranganNya.

Mungkin saat ini lah kita dibiasakan untuk taat dan tunduk pada protokol kesehatan demi keselamatan kita di dunia. Suatu saat nanti kita terbiasa taat dan tunduk pada aturan Allah demi keselamatan kita di dunia dan akhirat.

Maka perkuat iman, tingkatkan ketaqwaan dan ibadah kita, perbanyak istighfar. Untuk meningkatkan imun, tetap berpikir positif, rutinkanlah berolahraga sejenak, makan minum yang halal lagi thayyib, serta tetap patuhi protokol kesehatan.

Wallahu’alam bish showab