Oleh : Nirwana Ummu Maryam
( Aktivis Muslimah Magetan)

Agenda utama Musyawarah Nasional (Munas) ke-X Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah berakhir. Kepengurusan 2020-2025 resmi diumumkan, Rabu (26/11) malam. Sejumlah nama baru muncul, wajah lama hilang. Misalnya, nama Din Syamsuddin dan sejumlah ulama identik dikaitkan dengan Aksi 212 terdepak dari kepengurusan. Nama Din digeser Ma’ruf Amin. Wakil Presiden RI itu kini mengemban jabatan Ketua Dewan Pertimbangan MUI. (Tribun.news 27/11/2020)

Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan gagasan Islam jalan tengah atau wasathiyah harus segera diwujudkan menjadi arus utama dalam memahami ajaran agama Islam di Indonesia, mengingat tanda-tanda penyebaran paham radikal di masyarakat semakin kuat.

“Pengarusutamaan Islam wasathiyah dipandang sebagai sebuah kebutuhan mendesak, seiring dengan kuatnya indikasi terus menguatnya radikalisme di masyarakat, baik radikalisme kiri maupun radikalisme kanan,” kata Ma’ruf Amin

Islam jalan tengah menjadi konsep beragama yang tepat diterapkan di Indonesia sebagai negara dengan kemajemukan masyarakat. Wasathiyah adalah cara berpikir, bersikap dan bertindak secara moderat, tidak berlebihan dan tidak abai, jelasnya. (Antara,25/11/2020)

Fakta tersebut menunjukkan bahwa wajah rezim saat ini berusaha mengebiri peran MUI ( menyingkirkan yang kritis yang dianggap main politik). Ini membuktikan bahwa cengkraman sistem sekuler makin kuat dan dominan mewarnai kebijakan rezim di negeri ini.

Moderasi Agama Penyesatan Opini

Ide moderasi beragama yang digaungkan mereka merujuk pada surah al-Baqarah ayat 143, pada lafaz “ummatan wasathon, yang mana dipahami Islam sebagai agama yang washathiyah. Istilah ini mengandung maksud islam moderat, sehinggu perlu adanya moderasi ajaran. Tentu saja hal itu tidak tepat. Karena ummatan washathan dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 143 itu tafsirnya adalah umat yang adil, bukan umat yang moderat.

Adapun secara ma’tsur, terdapat hadis yang dituliskan dalam tafsir Ath Thabari,

Rasulullah Saw. ketika menafsirkan وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا, adalah umat yang adil. Ummatan wasathon yang dilekatkan dengan umat Islam justru adalah umat yang terbaik, umat yang berbeda dengan umat yang lain.

Bahaya dari ajaran moderasi Islam adalah mengandung tujuan menyingkirkan ajaran Islam yang dianggap radikal, dimana radikal dianggap tidak moderat.

Pentingnya Peran Ulama

Untuk mengcaunter opini sesat demokrasi yang digaungkan rezim diperlukan peran penting para ulama. Ulama harus penyeru pelaksanaan Syariat Islam . Ulama harus menjadi penyampai risalah Nabi saw, dan menjadi ujung tombak ke mana umat ini akan dibawa. Ulama bukan pengukuh sistem demokrasi. Di mana sistem itu memberi peluang membolak-balikkan hukum Islam. Perkara haram bisa menjadi halal, ataupun sebaliknya.

Ulama harus menjadi terdepan untuk melindungi umat dari pemikiran yang berbahaya, dan juga tidak boleh terjebak permainan kekuasaan demokrasi. Tidak mendekati penguasa hanya untuk mengemis jabatan. Melegitimasi kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.

Ulama seharusnya menjadi orang pertama yang menolak kampanye moderasi beragama yang diserukan barat. Proyek yang sengaja diaruskan untuk memecah belah umat Islam. Sebaliknya, bukan menjadi penyeru moderasi beragama, yang kian mengaburkan umat dari pemahaman Islam yang sesungguhnya. Ulama tidak boleh terjebak politik adu domba barat. Mereka harus menyadari moderasi beragama adalah kedok barat untuk memusuhi kelompok Islam yang mereka sebut “radikal”.

Ulama itu mata hatinya umat. Ucapannya berhikmah. Lisannya adalah Al-Qur’an dan Sunah. Sikapnya mewarisi sifat Nabi. Seruannya adalah tegaknya syariat Islam di muka bumi. Itulah ulama akhirat. Tidak takut terhadap celaan. Tak gentar menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim.

Pewaris Nabi adalah mereka yang menyeru tegaknya hukum Allah sebagaimana seruan para Nabi dan Rasul. Merekalah para ulama yang mewarisi ilmu dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Seruan yang harus digaungkan ulama adalah menyeru untuk meninggalkan demokrasi kapitalisme, dan seruan tegaknya Islam kafah. Dengan begitu dia melaksankan kewajibannyauntuk menerapkan dua warisan Nabi yang tercantum dalam sabdanya,

“Telah aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Malik, Al-Muwaththa’, no 1594)

Harapan umat ada pada Ulama untuk bersama-sama berjuang merealisasikan kembali proyek Agung kehidupan Islam. Sebagai salah satu bagian dari pesan mendalam Rsulullah saw. Al-Irbadh bin syariyah berkata bahwa

Rasulillah saw pernah bersabda “ Hendaklah kalian berdiri diatas Sunnahku, juga Sunnah Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyin.Gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan geraham yang kuat”. (HR.Ahmad, Ibn Majah, al Hakim dan al- Baihaki). Wallahu a’lam bi shawab