Reporter: Dwi Suryati Ningsih

Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum., pakar hukum dan masyarakat menyebut persatuan umat Islam pada momen 212 perlu diabadikan dan dikenang untuk menumbuhkan ghiroh perlawanan terhadap kemungkaran, kezaliman dan kemunafikan.

“Persatuan umat Islam pada momen 212 perlu diabadikan dan dikenang, untuk membangkitkan ghiroh perlawanan terhadap kemungkaran dan kemunafikan yang merupakan musuh abadi umat Islam,” tuturnya dalam Reuni Akbar 212 Muhasabah dan Ukhuwah untuk Menyatukan Langkah Umat “A Moment to Remind” di kanal Rayah TV, Rabu (2/12/2020).

Suteki menyampaikan, momen 212 yang sering dikatakan juga monumen 212 itu adalah barang langka, yang kalau tidak dirawat akan hilang daya dukungnya dari umat.

“Ini kalau kita bicara tentang ukhuwah, 212 ini tidak hanya untuk keindonesiaan saja. Tapi 212 ini juga harus dijadikan cermin untuk ukhuwah islamiyah yang sebenarnya menjadi basis ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariyah. Tanpa ketiga ukhuwah itu mustahil kita menang melawan kemungkaran, kezaliman dan kemunafikan,” paparnya.

Ia menilai, atas kejadian 212 dan reuninya, telah membuktikan kebenaran kata-kata Cicero yaitu salus populi suprema lex esto, keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi, yang ia terjemahkan, keselamatan umat adalah hukum yang tertinggi.

“Jika tidak ada 212, maka bisa dipastikan umat Islam akan terus dinistakan, direndahkan dan dipersekusi oleh pihak-pihak yang membenci,” tegasnya.

Menurutnya, dari sisi hukum, aksi 212 adalah bentuk gugatan sosial yang berimplikasi pada penegakan hukum terhadap penista agama yang memang merupakan penjahat yang harus diadili.

“Bila hal ini tidak diadili, maka pencari keadilan (umat Islam) akan mencari jalannya sendiri, dan akan berbahaya. Maka 212 sebenarnya menyelamatkan kita sebaga negara hukum. Sehingga dari sisi hukum 212 merupakan aksi menyelamatkan umat” bebernya.  

Ia berharap, umat bisa mengambil momen 212 di tahun 2020 ini dan rindu tegaknya syariat Islam harus sering dikobarkan serta didorong untuk maju berani.

“Memang sebenarnya bukan sebuah pilihan, tapi sebuah keniscayaan ketika kita menemukan titik koordinat dalam menegakkan syariat Islam itu. Jadi hanya ada dua pilihan, Anda berada di barisan pejuang atau pecundang,” pungkasnya.