Oleh: Maman El Hakiem

Muhammad Husain Abdullah dalam kitab “Dirasah al fikr al Islami” , menjelaskan tentang harta secara istilah, adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai urusan yang syar’i, seperti jual beli, perdagangan, hutang piutang, untuk konsumsi sehari-hari, atau hibah(hadiah).

Harta sebenarnya hanya titipan dan penggunaannya harus berdasarkan izin pemiliknya. Siapa pemilik sebenarnya harta? Dialah yang telah menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan ini, yakni Allah SWT. “Berikanlah oleh kalian dari harta milik Allah yang telah Dia berikan kepada kalian.”(QS An Nur: 33).

Karena itu keberadaan harta, bukan sekedar bagaimana cara mendapatkannya, melainkan pula memanfaatkannya tidak boleh melanggar aturan Allah SWT. Kepemilikan harta di tangan manusia dalam konsep Islam, terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu kepemilikan individu, umum dan negara. Perkara jumlah harta yang dimiliki oleh masing-masing kelompok tidak dibatasi, hanya saja pemanfaatannya harus mengikuti kaidah hukum syariah.

Individu bisa memiliki harta apa saja, selama harta tersebut tidak terkategori milik umum, seperti hutan, mata air pegunungan, barang tambang, mineral dan gas. Pun Negara tidak berhak menguasai harta milik umum tersebut, apalagi dijual belikan kepada swasta atau asing. Sifat harta milik umum itu adalah secara jumlah melimpah dan menguasai hajat hidup orang banyak. Haram dimiliki individu dan negara, karena itu tugas negara hanya mengelolannya tanpa mencari keuntungan di dalamnya. Pendapatan negara hanya dari harta yang khusus didapatkannya pada kas-kas pemasukan seperti pungutan jiziyah, kharajiyah, ushuriyah, dan lainnya.

Harta yang dimiliki manusia tidak boleh didiamkan, melainkan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Karena itu ada dan tiadanya harta terikat dengan cara pengembangan harta (tanmiyah al maal) dan pengeluaran harta (infaq al maal). Harta tidak boleh dikembangkan dengan cara-cara yang haram seperti riba, judi dan kemaksiatan lainnya. Harta juga tidak boleh dikeluarkan untuk sesuatu yang mubazir atau berlebihan, suap menyuap untuk memperoleh kedudukan atau kemudahan pribadi yang mendzalimi orang lain.

Mendiamkan harta tanpa tujuan termasuk menimbun harta (kanzul maal), hukumnya haram. Bukan masalah besar kecilnya, tetapi tujuan dari penyimpanan hartanya itu yang harus diniatkan untuk keperluan tertentu. Rasulullah Saw. sebelum tidurnya selalu gelisah jika masih ada harta yang tersimpan, namun tidak jelas untuk apa pemanfaatannya. Sebutir kurma yang masih tersimpan membuat beliau marah dan membuat wajah Aisyah memerah.

Begitulah jika negara menerapkan konsep pengelolaan harta secara syariah, tidak akan ada pejabat yang kemaruk dengan kekuasaan, tidak akan ada rakyat yang mati kelaparan dan tidak akan ada transaksi riba dalam perekonomian. Ada dan tiadanya harta hanyalah modal kehidupan manusia untuk mendulang pahala, baik secara individu, kolektif maupun bernegara.

Wallahu’alam bish Shawwab.