Oleh : Andri Septiningrum, S.Si
Ibu Pendidik Generasi

Berkorban itu hanya pantas di berikan kepada sesuatu hal yang memang layak untuk diberikan pengorbanan. Bagi seorang ibu, maka sudah selayaknya dia memberikan pengorbanan kepada buah hatinya. Buah hatinya adalah titipan dari Rabb-Nya yang nantinya akan dipertanyakan kembali apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga titipan itu. Ketaatan kita kepada Rabb dan pengorbanan kita, insyaaAllah akan mendatangkan rahmat dan cinta-Nya. Ketika sudah muncul kecintaan Allah kepada hamba-Nya, maka Allah akan mengizinkan kita bertemu dengan-Nya dan menghadiahkan sesuatu yang sangat besar nilainya yang tak tergantikan oleh apapun. Dan itu sungguh kenikmatan yang MasyaaAllah luar biasa. Sebagaimana dalam Al Qur’an surat Ar Ra’du ayat 24.

سَلَٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى ٱلدَّارِ

“Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Quran Surat Ar-Ra’d Ayat 24 menjelaskan bahwa Malaikat berkata kepada mereka, ”selamat atas kalian sebagai salam penghormatan bagi kalian. Kalian telah selamat dari semua keburukan, dikarenakan kesabaran kalian untuk taat kepada Allah. Maka sebaik-baik tempat kesudahan adalah surga.

Bagaimana dengan sebuah aturan hidup yang sekarang kita jalankan di negeri ini yang kita sebut sebagai sistem demokrasi? Layakkah pengorbanan itu diberikan untuknya? Sistem yang dielu-elukan berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk kepentingan rakyat.

Baru-baru ini kita mendapatkan informasi bahwa mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva menyampaikan keprihatinannya terkait banyaknya jumlah calon kepala daerah dan anggota penyelenggara pemilu yang terpapar virus selama pelaksanaan tahapan Pilkada serentak 2020.

“Prihatin 70 orang calon kepala daerah terinfeksi Covid-19, 4 orang diantaranya meninggal dunia,” cuitnya melalui akun media sosial twitter @hamdanzoelva, Jumat (27/11/2020).

Tidak hanya calon kepala daerah saja yang terinfeksi Covid-19, tetapi Hamdan juga menyoroti banyaknya anggota penyelenggara pemilu yang juga terinfeksi virus (Covid-19).

“100 penyelenggara termasuk Ketua KPU RI terinfeksi [Covid-19]. Betapa besar pengorbanan untuk demokrasi,” ujarnya. (Bisnis.com, 08/11/2020).

Pengamat politik Indonesia Public Institutte (IPI) Karyono Wibowo menerangkan hasil survei IPI menunjukkan bahwa mayoritas responden yakni hampir 80 persen menyatakan was-was datang ke TPS pemungutan suara Pilkada 2020. Karena pemilih merasa takut pandemi Covid-19 sampai saat ini angka penularannya masih tinggi. (lingkarmadiun, pikiran-rakyat.com, 23/9/2020).

Semakin hari fakta menunjukkan semakin meningkatnya orang yang terinveksi oleh virus ini. Upaya mengadakan pilkada disaat pandemi semakin menunjukkan bahwa kekhawatiran sebenarnya adalah disaat pilkada (yang menjadi salah satu indikasi terjalankannya demokrasi di negeri ini) tidak terjalankannya sebagaimana mestinya. Meskipun dengan itu nyawa menjadi pertaruhannya. Akan tetapi layakkah demokrasi ini kita perjuangkan? Bukankah sudah sekian lama kita menjaga sistem ini tapi nyatanya tidak ada hasil yang kita rasakan. Kesenjangan masih sangat terlihat, yang miskin semakin bertambah banyak, masalah ekonomi semakin terasa apalagi dengan pandemi saat ini. Dampaknya sangat terasa sekali. Resensi ekonomi ini juga membuka peluang meningkatkannya berbagai kasus kejahatan.

Dalam hal pendidikan pun sangat kita rasakan, masalah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih menjadi PR bagi kita sampai saat ini. Keputusan untuk mengakhiri PJJ, meskipun keberadaan virus ini masih ada di sekitar kita menimbulkan kegalauan yang dirasakan oleh sebagian masyarakat yang masih khawatir dengan resiko pembelajaran tatap muka.

Faktanya memang sistem demokrasi ini hanya untuk kepentingan sebagian orang. Berbagai kebijakan akhirnya banyak yang berpihak pada segelintir orang yang memang berkuasa. Hal itu memang tidaklah aneh karena memang pada dasarnya sistem demokrasi ini lahir dari sistem kapitalis (dimana pemilik modalah yang berkuasa). Mungkinkah terjadi perubahan menuju Indonesia lebih baik dengan terus mempertahankan sistem yang nyata-nyata belum menunjukkan perubahan yang berarti? Akankah kesejahteraan itu bisa kita dapatkan, jika proses pemilihannya saja penuh dengan berbagai masalah dan merugikan rakyatnya.

Aturan hidup seperti apa yang layak dan wajib kita perjuangkan? Tentu aturan hidup yang darinya lahir keberkahan hidup, kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Aturan hidup yang memberikan keadilan bagi semua, bukan hanya bagi segelitir orang yang berkuasa. Aturan hidup itu tidak lain adalah aturan Islam. Maha baiknya Rabb kita, yang tidak membiarkan diri kita sendiri mengatur hidup kita. CintaNya kepada kita yang memberikan seperangkat aturan yang lengkap dan detail dalam mengatur seluruh urusan kita, bahkan dalam urusan yang sangat sederhana sekalipun dalam urusan masuk ke kamar mandi, bertamu, membersihkan diri. Aturan ini mencakup urusan bagaimana mengatur diri sendiri sampai mengatur negara. Semua lengkap dan terperinci ada dalam Islam. Al Qur’an sebagai pedoman hidup yang sangat layak diperjuangkan. Menjelaskan begitu lengkapnya Al Qur’an.

Tidak ada alasan lagi bagi kita melirik aturan hidup lain selain aturan hidup yang bersumber dari Al Qur’an. Sistem hidup yang darinya akan menghadirkan cahaya bagi semua, tidak terkecuali bagi non muslim. Sistem ini memberikan keadilan bagi semua makhluk di bumi ini.

Kalau kita tengok sejarah saat sistem ini berdiri, maka kita dapati bahwa sangat sedikit sekali kezaliman yang terjadi. Dalam sistem ini bukan berarti tidak ada penyelewengan karena pelaksana sistem ini adalah manusia yang sangat mungkin melakukan kesalahan. Akan tetapi setidaknya sistem aturan yang sempurna akan mampu mengatasi penyelewengan itu, dibandingkan sistem yang sejatinya sudah rusak yang dijalankan oleh manusia.

Kita dapati sejarah bahwa sistem ini mampu bertahan sampai 1400 tahun dan itu sungguh bukan waktu yang sangat singkat dan bagaimana kegemilangan itu dirasakan ketika sistem ini diterapkan. Sudah sepantasnya bagi kita seorang muslim memperjuangkan sistem hidup yang berasal dari Rabb kita al hayyu (maha hidup) yang memberikan kita kehidupan semata-mata untuk ketaatan kepadaNya. Waallahua’lam bi showwab.