Oleh: Barozatul Fajrin (Pemerhati Masalah Sosial)

Bulan Desember tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, mengapa demikian, karena tahun ini Pilkada serentak akan dilaksanakan pada bulan tersebut. Apalagi tahun ini pandemi covid 19 sedang menguji negri. Pemerintah harus benar-benar berfikir bagaimana agar dalam keadaan pandemi pesta demokrasi tetap dapat dilaksanakan. Namun sayang pilkada belum dimulai tapi sudah menjadi cluster baru penyebaran covid ini.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva menyampaikan keprihatinannya terkait banyaknya jumlah calon kepala daerah dan anggota penyelenggara pemilu yang terpapar Covid-19 selama pelaksanaan tahapan Pilkada serentak 2020. “Prihatin 70 orang calon kepala daerah terinfeksi Covid-19, 4 orang diantaranya meninggal dunia,” cuitnya melalui akun media sosial twitter @hamdanzoelva, Jumat (27/11/2020). Tidak hanya calon kepala daerah saja yang terinfeksi Covid-19, tetapi Hamdan juga menyoroti banyaknya anggota penyelenggara pemilu yang juga terinfeksi virus Corona (Covid-19). “100 penyelenggara termasuk Ketua KPU RI terinfeksi [Covid-19]. Betapa besar pengorbanan untuk demokrasi,” ujarnya.( Bisnis.com)

Bisa kita lihat dari perhelatan demokrasi mendatang bukan hanya biaya yang mahal, tapi tidak menutup kemungkinan nyawa rakyat yang akan menjadi korban. Terlebih 45 kota ternyata adalah zona merah. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito menyebut, 45 kab/kota yang akan melaksanakan pilkada serentak di Desember 2020 adalah zona merah Covid-19. Ini jelas berbahaya. Selain itu, laporan kasus baru Covid-19 yang dicatat Indonesia tersebut merupakan yang tertinggi di antara negara Asia Tenggara lainnya (tribunnews.com).

Sebenarnya mengapa pemerintah ngotot ingin tetap melaksanakan pilkada ditahun ini, tersebab sistem demokrasi mengharuskan tahapan-tahapan yang harus dilalui para calon agar mereka dapat lolos ketika pemilu 2024 mendatang. Semakin mereka dapat menghantarkan kader-kader mereka duduk di kursi kepala daerah, maka semakin mudah mereka menyongsong pemilu 2024. Tanpa memikirkan bahaya yang akan terjadi jika pesta ini tetap dilaksanakan.

Inilah ciri sistem demokrasi, di sistem ini meniadakan peran agama dalam setiap aktifitas yang ada, terlebih ketika mengurus urusan negara, sistem demokrasi yang lahir dari idiologi kapitalis dengan asas pemisahan agama dari kehidupan, maka tidak heran nyawa rakyat jadi korban, sangat berbeda dengan sistem islam yang sangat menjaga jiwa manusia. Islam memandang bahwa disisi Allah, hilangnya nyawa seorang muslim lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Allah SWT berfirman, “…Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya…” (QS al-Maidah [5]: 32)

Begitulah kedudukan jiwa didalam Islam sangat berharga. Selain itu bukan rahasia lagi bahwa pilkada disistem demokrasi berbiaya mahal, sehingga tidak heran jika banyak terjadi money politik, suap menyuap untuk memenangkan para paslon. Padahal islam mengharamkan suap menyuap dalam hal apapun.

Didalam sistem islam pemilihan wali di suatu daerah di tunjuk langsung oleh seorang khalifah, sehingga tidak memerlukan biaya yang mahal. Yang ditunjuk pun adalah orang-orang yang terjamin keshalihannya serta mampu dalam memegang amanah. Sebagaimana Rasulullah Saw. telah mengangkat Muadz bin Jabal menjadi wali di wilayah Janad, Ziyad bin Walid di wilayah Hadhramaut, dan Abu Musa al-‘Asy’ari di wilayah Zabid dan ‘Adn.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa benar-benar sistem islam adalah sistem yang berkualitas serta sistem yang menjaga segala sesuatu dari marabahaya bahkan jiwa. Tidak seperti saat ini yang mengorbankan jiwa demi kedudukan yang sementara. Dan hal ini hanya kita dapatkan ketika sistem islam (khilafah) diterapkan. Maka masihkah kita mempertahankan kebobrokan sistem saat ini?
Wallahu a’lam bishowab.