Oleh: Magnolia
(Pemerhati Kebijakan Publik dan Pegiat Literasi Islam)

Menjadikan Komodo destinasi wisata kelas premium untuk menarik investasi guna menggenjot laju devisa negara, impian pemerintahan saat ini. Sama ketika dahulu pembukaan (langsung) 1 juta hektar di Kalimantan Tengah, zaman orde baru yang disetujui oleh Kementan (Kementerian Pertanian) agar tercapai swasembada beras. Apa yang terjadi kemudian adalah -kerusakan ekologi hingga saat ini- prediksi berakhir ilusi. 

“Komodo ini satu-satunya di dunia jadi kita harus jual,” tegas Luhut dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Pengembangan Lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Jakarta, Jumat, 27 November 2020 (galamedia.pikiran-rakyat.com, 27/11).
 
Gregorius Afioma, peneliti dari Sunspirit for Justice and Peace-organisasi konservasi di Nusa Tenggara Timur-mengatakan bahwa Taman Nasional Komodo (TNK) adalah kawasan konservasi yang tidak boleh dialihfungsikan (konversi lahan). Data kelembagaannya menghitung  luasan TNK mencapai 173.300 hektar, meliputi darat dan lautan. Namun, pemerintah diketahui telah memberikan izin pengelolaan kepada 2 pihak swasta untuk jangka waktu 55 Tahun (koran.tempo.co, 16/9).

Adapun rincian pembagian wilayah konversi untuk pihak swasta tersebut: (1) PT. KWE seluas 141,94 hektar di Pulau Komodo dan 274,13 hektar di Pulau Padar. (2) PT. SKL menguasai 22,1 hektar di Pulau Rinca. Membangun wahana hiburan geopark kelas dunia adalah tujuan investasi atas konversi lahan ini. 

“Kalau dibilang komersial ya kami harus komersil, karena kami mau merawat binatang ini supaya binatang ini, dia punya DNA bisa kami pelihara terus,” ucap Luhut (m.cnnindonesia.com, 17/11).

Membayangkan wahana wisata geopark Jurassic Park, akankah fiksi ilmiah itu menjadi nyata? Dalam Ilmu Perilaku Satwa Liar, disebutkan kebutuhan daerah jelajah harian dalam pencarian pakan. Komodo membutuhkan waktu berhari-hari mengikuti mangsanya, untuk dapat menggigitnya. Selanjutnya diikuti hingga ribuan-jutaan bakteri di liurnya yang menempel pada luka gigitan mematikan hewan buruannya tersebut. 

Perilaku kawin dari naga purba (komodo) betina, menjadi perhatian kelestarian, selektif dalam memilih pasangan. Baku hantam naga-naga purba jantan inipun terjadi. Keunikan lain, Komodo betina bersifat aseksual. Ia dapat bereproduksi sendiri, melalui proses partenogenesis. Sehingga kelahiran Komodo berjenis kelamin jantan lebih banyak daripada yang betina. Kemungkinan terjadi stres dan punah sebagaimana satwa liar lainnya-dalam daftar CITES- akibat terganggu ekosistemnya juga dapat terjadi pada komodo.

Pada film fiksi ilmiah Jurassic Park, digambarkan bahwa pembangunan geopark lebih dahulu dilaksanakan sebelum aneka dinosaurus itu dilepaskan. Berbeda dengan pembangunan wahana wisata premier, geopark komodo saat ini yang telah ribuan tahun berevolusi pada ekosistemnya dan tidak terjamin adaptif akan kehadiran alat berat, pancang tiang/bangunan beton, galian sumur, dan lainnya yang akan merubah ekologi kawasan naga purba tersebut.

Ilmu Pengelolaan Kawasan Konservasi telah membagi taman nasional menjadi beberapa zona, yaitu terdiri dari: (1) Zona Inti, daerah perlindungan dan pengawetan plasma nutfah (flora dan fauna). Tidak dibenarkan ada kegiatan lain dalam zona ini terkecuali untuk pendidikan, penelitian, pengambangan pengetahuan dan penunjang budidaya; (2) Zona Rimba, daerah pemanfaatan dan pengawetan SDA dan lingkungan bagi kepentingan penelitian, pendidikan konservasi, habitat satwa migran, wisata terbatas (bukan masif), menunjang budidaya dan pendukung zona inti; (3) Zona Pemanfaatan, untuk pengembangan pariwisata alam dan rekreasi, jasa lingkungan, pendidikan, penelitian, dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan serta kegiatan penunjang budidaya. Namun yang menjadi perhatian di sini adalah tidak boleh berbatasan dengan zona ini. Kemudian, kondisi lingkungan dan luasan TNK, memungkinkan atau tidak diberlakukan sama dengan taman nasional yang masiv menjadi taman safari seperti di Benua Afrika yang bentang alam dan luasannya berbeda; (4) Zona Tradisional, untuk kepentingan dan pemanfaatan secara tradisional oleh masyarakat setempat secara lestari guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dalam kawasan konservasi mereka disebut dengan enclave (perkampungan yang berada dalam kawasan hutan), mereka telah lama berdiam di dalam hutan sebelum penunjukan dan penetapan kawasan hutan oleh pemerintah.

Akan tetapi kembali dengan dalih pembangunan kota baru di KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Golo Mori di sebelah Timur TNK, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup memproses alih fungsi 2 pulau (Muang dan Berau) agar keluar dari status TNK dalam mongabay.co.id akhir September yang lalu.

Pengelolaan kawasan konservasi telah dilakukan oleh Rasulullah sekitar 624-634 Masehi. Yaitu dengan menetapkan kawasan Hima’ di Madinah. Semangat konservasi dalam pemanfaatan berbasis kelestarian alam, diketahui dan dijumpai dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik dengan beberapa sebutan (istilah): Hima, yaitu kawasan yang dilindungi untuk pengawetan habitat alami dan kemaslahatan umum; Harim adalah kawasan lindung; Wakaf, yaitu lahan yang dihibahkan untuk kepentingan umat; dan beberapa istilah lainnya.

Kawasan Hima, penerapannya melalui penunjukan dan penetapan kawasan untuk perlindungan satwa dan fauna liar. Salah satu kawasan hima yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, bernama Hima an-naqi. Dalam peraturannya, Baginda Rasul melarang perburuan binatang pada radius 4 mil sekitar wilayah Madinah. Masyarakat juga tidak diperkenankan untuk merusak tanaman dalam radius 12 mil sekitar wilayah Madinah. Demikianlah Islam dalam menjamin pelestarian dan keseimbangan ekosistem flora dan fauna terlindungi. Menjaga keseimbangan -biotik dan abiotik- suatu ekosistem berarti juga menjaga kelestarian manusia.

Wallahu a’lam bish-shawab.