Oleh: Ummu Syathir (Penggerak Opini Umat)

Di penghujung tahun 2020, permasalahan-permasalahan besar belum juga terselesaikan. Termasuk masalah utang. Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2020 ini meningkat. Tercatat, posisinya meningkat menjadi 413,4 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 6 .076,9 triliun (kurs Rp 14.700).(KOMPAS.com)

Padahal, di bulan Juli 2019, Utang Luar Negeri Indonesia tercatat US$395,3 Miliar. Bank Indonesia mengklaim nilai ULN hingga akhir Juli 2019 ini terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$197,5 miliar, serta utang swasta yang termasuk BUMN sebesar US$197,8 miliar.

Menilik utang swasta yang lebih besar dari swasta, menandakan kelemahan negara dalam menentukan kebijakannya. Sebab, peran swasta terlihat lebih mendominasi di negeri ini.

Kembali pada pembahasan utang, sederhananya, bila ekonomi suatu negara kuat, buat apa berutang? Hal itu hanya menandakan kelemahan.

Namun, dalam sistem ekonomi Kapitalis Sekularis, utang dipandang sebagai keberhasilan suatu negara. Mendapat kepercayaan pihak swasta, merupakan prestasi yang luar biasa. Tak jadi masalah dengan tuntutan perundang-undangan yang merugikan warga negaranya, asal pihak swasta tenang dalam menjalankan bisnisnya. Apalagi berbicara soal bunga, itu tak ada dalam kamusnya. Sebab agama tak ada peran apa-apa.

Bunga Berlipat Pasti Didapat

Dalam hitungan ekonomi Kapitalis, tak ada makan siang gratis. Termasuk utang luar negeri. Tak mungkin negara luar memberi utang dengan cuma-cuma. Mereka harus mendapatkan keuntungan. Termasuk mendapatkannya dari bunga.

Dalam nota keuangan dan RAPBN tahun anggaran 2021, pemerintah menganggarkan Rp 373,3 triliun untuk pembayaran bunga utang tahun depan. Pembayaran bunga utang meningkat 10,2% dibanding tahun ini. (CNBC Indonesia)

Bisa dilihat, betapa besarnya jeratan utang, dengan beban bunga dari utang yang diberikan. Pertanyaannya, kapan Indonesia berhenti meminta utang pada luar negeri? Kapan bisa bebas dari jeratan utang negara luar?

Mewarisan Utang

Melihat situasi yang terjadi, selama utang dipandang dalam kacamata sistem Kapitalis, maka akan selalu baik. Padahal yakin, utang tak akan bisa dibayarkan oleh para pemegang kekuasaan yang menjabat sekarang. Sampai habis masa jabatan, mereka akan pergi dengan tenang. Masalah utang tak dipedulikan. Karena polanya sama dengan rezim sebelumnya, mewariskan utang.

Maka, sudah tak ada harapan dalam sistem Kapitalis, untuk bisa keluar dari jeratan utang yang disengajakan. Apakah ada jalan keluar yang bisa menghentikan? Jawabannya ada. Yakni jawaban dari pelaksanaan sistem Islam.

Utang dalam Kacamata Islam

Secara bahasa, utang adalah sesuatu yang dipinjam, baik berupa uang maupun benda. Sedang dalam Islam, utang termasuk salah satu aktivitas dalam tolong-menolong. Tolong menolong tanpa ada imbalan. Tolong menolong yang harus memenuhi ketentuan. Bukan tolong menolong sebagai umpan, agar mangsa masuk jeratannya.

Sedang utang luar negeri, kita tahu sendiri. Negara-negara besar, sengaja memberikan utang. Agar mereka bisa leluasa menguasai apa saja yang bisa menghasilkan keuntungan dari negara yang berhasil dijeratnya.

Terapkan Sistem Islam Utang Selesai

Dalam sistem ekonomi Islam, harta-harta yang diperoleh dan dipergunakan negara, tidak semaunya. Harus terang benderang, sebagaimana Islam menetapkan aturan.

Harta-harta yang masuk ke dalam kas negara (baitul mal), berasal dari harta anfal atau ghanimah (harta yang dikuasai kaum muslim dari orang kafir, melalui peperangan, baik berupa uang, senjata, barang perniagaan, bahan pangan, dll), serta harta fai dan khumus (Abdul Qodhim Zallum, al-amwal, 40-52).

Sedang harta negara yang berasal dari utang, tidak termasuk pada bagian pokok harta. Boleh dilakukan, asal tak sembarangan. Negara kafir harbi, yakni negara yang jelas-jelas memerangi umat Islam, seperti Amerika, China dan negara lainnya, haram dimintai pertolongan. Yang benar, harus dilawan.

Bila tetap dilakukan, akibatnya seperti Indonesia, sekarang. Distir Amerika dan negara-negara besar lainnya. Apa-apa harus seduai dan berdasar izin mereka.

Beda dengan sistem Islam Ekonomi berjalan seiringan dengan penerapan sektor kehidupan keseluruhan. Keamanan, kesehatan, padidikan, dan yang lainnya, aaling menopang. Utang-utang yang tak sesuai dengan aturan Islam, dianggap rusak. Alias batal. Tak usah dibayar

Tidak ada kekhawatiran bagi Indonesia. Indonesia adalah negara kaya. Tinggal rampas dan kembalikan saja perusahaan-perusahaan yang dikuasai swasta, pada negara. Selesai. Perusahaan swasta yang bergerak di harta milik negara, atau masyarakat, dikelola negara untuk kepentingan rakyatnya.

Sudah bisa dipastikan, dari sekarang. Saat sistem Islam dijalankan, tak akan ada lagi jeratan utang. Negara dan rakyatnya, sudah hidup sejahtera dalam naungan Khilafah sistem Islam. Wallahu’alam.