Oleh Asfian Nurrabianti

Proyek ‘Jurassic Park’ di Taman Nasional Komodo (TNK), Nusa Tenggara Timur, mulai ramai menjadi perbincangan walau proyek tersebut sudah berlangsung sejak lama. Usai munculnya sebuah foto seekor komodo yang berada tepat didepan sebuah truk besar kembali menjadi perbincangan di media sosial terutama di media twitter dengan tagar #savekomodo dan muncul petisi yang menekankan pemerintah untuk mencabut izin pembangunan proyek tersebut.

Berbagai pihak menolak pembangunan proyek ini seperti organisasi-organisasi mahasiswa dan pemuda NTT bahkan mereka melakukan aksi demo di depan gedung Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jakarta. Mereka menganggap bahwa proyek tersebut berbahaya karena akan merusak habitat asli komodo. Tidak hanya komodo, namun penduduk setempat juga ikut tersingkirkan.

Pemerintah saat ini memang sudah menjadikan pengembangan wisata sebagai fokus kerja, karena pariwisata merupakan salah satu sumber devisa terbesar bagi negara. Dan yang menjadi sasaran pengembangan pariwisata adalah Pulau Rinca dimana akan dijalankan proyek ‘Jurassic Park’. Pemerintah memanfaatkan keindahan alam yang terdapat di Pulau Rinca sebagai sumber devisa negara, semakin banyak wisatawan berkunjung maka semakin banyak pula pajak dan devisa negara. Bisnis pariwisata saat ini banyak diminati dan menjadi ladang baru untuk memperoleh keuntungan, tidak terkecuali bagi para investor. Indonesia yang ramah akan investasi menjadi lahan empuk bagi para investor untuk menanam modal sebanyak-banyaknya, sejalan dengan proyek kerja pemerintah saat ini.

Satu sisi sektor pariwisata membantu keuangan negara namun di sisi lain yang masih perlu diperhatikan adalah kondisi lingkungan dan juga penduduk sekitar tempat pariwisata. Di kabupaten Manggarai Barat, NTT masih terdapat tiga kecamatan yang mengalami krisis air bersih. Padahal wisatawan sering berkunjung di tempat tersebut karena keindahan alamnya, namun berbanding terbalik dengan keadaan penduduk setempat yang belum bisa dikatakan sejahtera. Selain itu, dampaknya terhadap lingkungan. Komodo yang biasa hidup dan berkembang di padang rumput terbuka dan hutan belukar terganggu dengan adanya pendirian proyek-proyek wisata tersebut, mengancam eksistensi komodo dan kelestarian alam di sekitarnya. Alih-alih membawa perubahan ekonomi, proyek investasi tak memberi perubahan ekonomi dan sosial namun hanya berujung pada keuntungan investor semata.

Dalam Islam, melindungi dan menjaga hewan dari kepunahan merupakan sebuah bentuk amal kebaikan. Meskipun, komodo merupakan hewan yang termasuk dalam hewan yang haram dikonsumsi, namun menjaga kelestarian makhluk ciptaan Allah merupakan sebuah kebaikan, karena Islam mengajarkan kepada manusia bahwa kasih sayang bukan hanya kepada manusia tapi juga terhadap hewan. Ketika Rasulullah Saw. melihat seekor burung yang terpisah dari induknya. Beliau lalu menegur dan bersabda, “Siapa gerangan yang telah menyakiti perasaan burung ini karena anaknya? Kembalikanlah kepadanya anak-anaknya.” (HR Abu Dawud). Begitulah Islam mengajarkan umat manusia untuk saling menjaga dan berkasih sayang terhadap semua makhluk Allah bukan untuk diexploitasi besar-besaran dan menghancurkan habitat dan hewan yang hidup di dalamnya.


Negara Islam tidak akan membangun sebuah infrastruktur yang akan merugikan dan mengabaikan hak manusia, alam, dan lingkungan. Pendirian infrastruktur tidak hanya dilihat dari sisi keuntungan bagi sebagian pihak saja namun dengan pertimbangan berbagai hal. Infrastruktur yang dinilai lebih utama dan perlu untuk dibangun akan dibangun oleh Negara Islam dengan menerapkan sistem ekonomi Islam secara keseluruhan dengan biaya yang diambil dari baitulmal, bukan justru memungutnya dari uang rakyat. Namun djika dirasa tidak cukup maka akan dikenakan pajak khusus bagi kaum muslim.

Sektor pariwisatapun tidak dijadikan sebagai sumber perekonomian dalam negara Islam, karena negara Islam adalah negara yang mandiri. Bidang pertanian, perdagangan, industri, dan jasa merupakan sumber tetap perekonomian negara Islam. Selain itu, ada sumber lainnya, yaitu harta fai’, kharaj, jizyah, ghanimah, zakat, dan dharibah. Dalam Islam, sektor pariwisata dijadikan sebagai sarana dakwah dan di’ayah dengan memahamkan Islam kepada para wisatawan dan menelusuri jejak dan peninggalan sejarah Islam yang akan membuat mereka takjub akan keagungan Islam. Demikianlah, Islam mengatur sektor pariwisata dalam sebuah negara dengan memperhatikan infrastruktur mana yang lebih utama didirikan sehingga tidak menghancurkan alam sekitar. Begitu indah jika saat ini Islam diterapkan dalam kehidupan, alam, hewan, dan manusia bisa hidup berdampingan dengan harmonis atas berkah Allah SWT.