Dikisahkan: Anita Wahyuni (Praktisi Pendidikan Kota Bogor)

Keajaiban setelah ikhlas, tawakal, dan sabar menerima qadha (Allah rindu hamba-Nya)

Ilmu ikhlas, tawakal, dan sabar menerima qadha
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan) nya.” (TQS. at-Thalâq [65]: 3)

“Seorang muslim yang diuji dengan rasa sakit karena duri atau yang
lebih dari itu, maka Allah pasti akan menebus kesalahan-
kesalahannya karena musibah itu, sebagaimana suatu pohon
menggugurkan daunnya”. (Mutafaq ‘alaih).

“Sesungguhnya tha’ûn itu adalah siksa yang dikirim Allah kepada
orang yang dikehendaki-Nya. Kemudian Allah menjadikannya
rahmat bagi orang-orang yang beriman. Maka tidaklah seorang
hamba yang tinggal di negerinya yang tengah terjangkit tha’ûn,
lalu ia bersabar dan mengharap ridha Allah; ia meyakini bahwa
tidak akan ada yang menimpanya kecuali perkara yang telah ditetapkan Allah; kecuali ia akan mendapatkan pahala seperti orang
yang syahid”. (HR. al-Bukhâri)

Tiba-tiba teringat ayat dan hadits-hadits tersebut saat saya mempelajarinya pada sebuah kajian yang membahas tentang ikhlas dan tawakal dalam menerima cobaan dan sabar terhadap qadha. Sejak awal pandemi pun banyak tulisan-tulisan dan kajian-kajian yang membahas tentang pandemi ini adalah qadha yang harus diterima. Lalu saya mencoba untuk memahami hikmah dibalik pandemi ini. Mencoba untuk menerima kondisi aktifitas di tengah pandemi. Berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan yang memaksa kita melalukan semua aktifitas rutin hanya di dalam rumah.

Dari ilmu-ilmu yang saya dapatkan tersebut, rupanya Allah ingin saya mempraktekannya. Qadarullah, Allah memilih keluarga saya untuk menerima giliran dan menjalani takdir tersebut. Inilah kisah hidup saya dan keluarga di akhir bulan november. Mungkin dari pengalaman saya dan keluarga bisa diambil hikmah yang bermanfaat, bagaimana kita lebih mengenal ciri-ciri virus tersebut ketika menyerang, dan apa yang harus kita lakukan.

Mengenal gejala covid
Diawali dari suami yang mendapatkan gejala lalu saya kemudian anak-anak menyusul. Siapapun tidak akan langsung siap menerima kenyataan akan terpapar covid 19 ini. Begitupun saya, saat kami sakit tentunya sambil mempelajari setiap gejala yang kami rasakan apakah ini hanya flu biasa atau ciri-ciri terpapar virus yang tengah ditakuti diseluruh dunia ini. Gejala yang kami alami memang mirip flu biasa. Awalnya suami yang mengeluh radang tenggorokan lalu demam tinggi selama 1 minggu lebih dan tidak menentu turun naik. Pegal linu lalu disusul batuk-batuk yang sangat hebat. Namun indra penciuman dan perasanya tetap normal. Tidak mengalami sesak napas. Tidak mual-mual dan diare. Dokter juga sempat menganggap ini mungkin flu biasa karena indra perasa dan penciumannya masih normal. Saya pun mengangap hal yang sama. Namun sambil terus memantau perkembangan kesehatan suami kami juga bersiap dengan kemungkinan terburuk harus diswab dan siap menerima kenyataan terpapar covid19. Saya sendiri mengalami gejala yang berbeda, tidak demam tinggi, hanya sumeng namun selama beberapa hari di area punggung hingga leher berasa seperti ser-seran merinding, lemas, persis seperti ciri-ciri kena typus. Sendi pinggang berasa copot, bersin-bersin dan hidung mampet. Selama hidung mampet indra penciuman mulai hilang. Curiga saat menghirup minyak kayu putih sama sekali tidak tercium. Sementara indra perasa hanya bisa merasakan rasa dasar seperti asin, panas ketika makan pedas, manis sedikit, namun hasnya masakan terasa hambar. Misal makan nasi uduk ga berasa itu nasi uduk. Minum susu cair coklat ga berasa hasnya susu tersebut. Begitu juga dengan makanan lain hasnya rasa makanan tersebut menjadi hambar. Dari ciri-ciri tersebut kecurigaan saya pun semakin kuat. Lalu saya mulai menguatkan diri agar siap menerima takdir kami terpapar covid19. Anak-anak tidak mengalami gejala berat. Hanya demam 3 hari dan sedikit bersin-bersin dan batuk. Tidak lama. Setelah itu fisik sereka terlihat segar bugar. Maka saat dibawa tes swab ke rs anak-anak sempat protes.

“Ngapain kita kesini kan ga sakit”.
“Aku ga mau dicolok (diswab) kan aku ga sakit”

Bersiap menerima qadha
Sabtu tanggal 28 pagi hari suami mengambil hasil swab di rs, saya bersiap takdir tersebut akan datang. Namun, sewajarnya manusia biasa tentu akan kaget ketika menerima kabar buruk. Begitupun saya, awal menerima berita suami positif tentu saya langsung menangis tapi hanya beberapa jam saja. Saya langsung menenangkan diri, beristighfar dan berdzikir, dan tentunya memohon kepada Allah untuk selalu menemani kami dalam melewati qadha yang harus kami terima ini. Segera saat itu juga setelah sholat dzuhur dan mulai tenang saya dan anak-anak pergi tes swab secara mandiri. Karena tidak ingin berlama-lama dalam kebingungan, berspekulasi dengan pikiran dan perasaan. Saya sudah siap hasil swab saya dan anak-anak pasti positif karena melihat kondisi di rumah yang sulit bagi kami untuk menjaga jarak sementara suami terus-menerus batuk. Setelah 4 hari lalu saya mendapatkan kabar positif, begitu juga anak-anak. Alhamdulillah tidak panik lagi. InsyaAllah saya siap melewati semuanya.

Keajaiban demi keajaiban
Selama islolasi di rumah tentu kami tidak bisa ke luar membeli kebutuhan kami. Namun saya tidak terlalu memikirkan apalagi saat kondisi sedang lemas rasanya hanya ingin tidur saja, hanya bisa pasrah, biar Allah yang mengurus. Keajaiban demi keajaiban pun datang. Bahkan sebelum kami melakukan swab. Allah sudah memberikan keajaiban melalui anak-anak kami yang tidak mengalami gejala sangat berat sehingga mudah untuk saya mengurusnya ditengah kondisi saya yang lemas yang menyebabkan terkadang sulit untuk bangun.

Dihari pertama kabar hasil swab suami saya langsung mengabarkan tetangga melalui WAG. Suami pun demikian, langsung memberikan kabar kepada RT. Lalu dari pihak posko covid 19 dan puskesmas mulai menghubungi saya dan suami. Pa lurah dan bu rw pun datang mengunjungi untuk memberikan semangat. Bantuan dari beberapa tetangga pun datang. Padahal saya tidak meminta apalagi berharap. Bantuan dari tetangga awalnya berupa bahan mentah namun saya belum sanggup untuk memasak karena masih lemas lalu meminta adik saya dan mamah untuk memasaknya. Setelah itu bantuan tidak berhenti datang, seorang sahabat mengirimkan ayam ungkep dan salah satu orang tua siswa mengirimkan madu terbaik, vitamin, dan habatussauda. Semua bantuan disimpan di luar pagar dan digantung di pagar. MasyaAllah sungguh hebat Allah mengerakan semua ini. Saya tidak perlu pusing memikirkan kebutuhan selama kami isolasi di rumah. Di hari berikutnya membuat saya lebih terharu lagi, ibu-ibu komplek mulai bahu- membahu memberikan bantuan. Dikelola oleh salah seorang warga yang memang selalu aktif dan senang membantu disetiap kegiatan warga perumahan kami. Beliau mengatur bantuan yang akan disalurkan agar tidak tertumpuk dihari yang sama. Saya tak henti-hentinya di WA menanyakan apa yang kami butuhkan. Mau sarapan apa, makan siang dan malam sukanya apa. MasyaAllah tabbarakallahu kebutuhan kami pagi hingga malam sangat terpenuhi. Begitu juga kebutuhan husus anak-anak. Sungguh Allah tunjukan kebersamaan warga ini. Allah tunjukan bahwa selama ini saya sudah tinggal di lingkungan yang dikelilingi oleh orang-orang yang peduli sesama dan sholih. Doa dan dukungan juga tidak berhenti mengalir melalui pesan WA dan status fb saya. Ratusan doa dan dukungan, MasyaAllah tabbarakallahu. Semoga Allah membalas semua kebaikan mereka. Semoga Allah mencatatnya sebagai amal shalih.

Perjalanan ‘liburan bersama’ ke BNN Lido.
Suami pergi lebih dulu ke Lido pada tgl 1 Desember. Dijemput oleh ambulance yang supirnya menggunakan APD lengkap dan menjemput suami saya dengan ramah dan sambil terus memberi semangat pada suami dan saya.

“Semangat Pa ya. Ibu juga semangat. Ga usah khawatir di sana enak ko.” Sambil tersenyum ceria dan mengacungkan tangan mengajak semangat.

Awalnya suami menolak untuk isolasi di Lido. Namun saya dan keluarga berusaha untuk menguatkannya bahwa InsyaAllah di sana keadaan akan membaik. Minimal di sana tidak sambil berkutat dengan pekerjaan kantor, hanya fokus untuk pemulihan. Sebelumnya saya juga sudah banyak bertanya pada teman yang baru pulang isolasi di Lido. Jadi sudah sedikit tau gambaran suasananya seperti apa. Lalu besoknya saya dan anak-anak menyusul. Saat bersiap berangkat prosesnya sangat mudah, pagi keluar hasil tes saya langsung melapor, sore kami sudah dijemput. Supir yang sama menjemput kami sambil menyemangati dan membantu membawakan perbekalan kami. Anggap saja mau liburan bersama. Melepas lelah penatnya aktifitas kerja dan belajar di rumah.

Saat persiapan berangkat Allah mengerakan kembali orang-orang sholih, kejutan datang kembali. Saudara kandung, sahabat, dan MasyaAllah saudara paling dekat yaitu tetangga membawakan kami kebutuhan untuk kami selama isolasi. Jumlahnya sangat banyak. Nyaris saya tidak memikirkan apa yang harus saya bawa, kecuali hanya teringat pakaian dan suplemen-suplemen. Sisanya saya tidak bisa berpikir karena gerogi, tegang mau berangkat. Namun MasyaAllah bantuan tersebut sangat melimpah, alhamdulillah kebutuhan tercukupi. Sepertinya saya adalah pasien yang membawa bekal paling banyak.

Berada dalam ambulance tentu merupakan pengalaman pertama saya dan anak-anak. Ternyata sangat panas, pengap, baru melewati 3 kelurahan saja badan sudah lemas. Sambil terus beristighfar saya menahan rasa yang sangat pengap. Supir sempat mengingatkan dan meminta maaf jika di dalam sangat panas karena memang begitu SOP nya. Keringat bercucuran dengan deras. Wajah hingga seluruh tubuh basah. Begitupun anak-anak dan mulai gelisah. Anak ke 3 mulai menangis. Supir bertanya kenapa anak saya menangis lalu saya menjelaskan kondisinya, alhamdulillah kami diizinkan untuk membuka jendela walau hanya sedikit. Alhamdulillah, nikmat udara segar dirasakan kembali. Perjalanan kami melewari kantor dinas kesehatan, lalu mobil berhenti di belakang GOR Pajajaran. Rupanya disitu kami akan ganti mobil biasa. Alhamdulillah, dalam hati saya bersyukur. Bayangkan jika kami ke Lido pakai ambulance. Mungkin bisa pingsan di perjalanan. Saya iseng bertanya kenapa tidak langsung ke Lido. Ternyata ada cerita bahwa ambulance pernah dihadang warga dilarang masuk, akhirnya memakai kendaraan dinas. Mobil tersebut pun dipersiapkan husus untuk antar jemput pasien covid19 dimana di dalamnya ada sekat antara supir dan penumpang di belakang. Supir juga memakai APD lengkap. MasyaAllah, sungguh berat pekerjaan mereka. Dalam 1 hari bisa 4 kali bulak-balik mengantar jemput pasien yang datang dan pulang. Semoga pekerjaan mereka menjadi amal sholih.

Suasana di Lido
Tiba di Lido saya dan anak-anak langsung diperiksa dokter dan perawat yang sangat ramah dan santun. Seperti tidak menunjukan rasa lelah mengurus pasien yang terus berdatangan namun dokter dan perawat menguruus kam dengan sabar dan memberi semangat. Tensi darah saya tinggi padahal belum pernah mengalami darah tinggi. Mungkin karena tegang selama persiapan dan di perjalanan. Anak-anak seperti biasa, masih dalam keadaan segar dan kembali protes.

“Ngapain kita dibawa ke sini, aku ga ngerasa sakit corona”.

Tibalah saatnya saya masuk kamar yang ternyata sudah diisi olah 2 orang pasien. Awalnya saya pikir bisa satu keluarga di kamar. Namun karena suami sudah lebih dulu datang maka kami terpisah. Anak saya yang ke 2 sekamar dengan papap nya di atas (kamar husus laki-laki). Saya dan anak2 yang lain di kamar bawah (husus perempuan).

Sambil berjalan menuju kamar saya memperhatikan suasana sekitar. Semua usia ada di sini. Selain saya ternyata banyak juga yang bawa anak-anak, dan tetap saja saya tidak tega melihat anak orang lain. Semua orang yang saya temui di sini terlihat sehat-sehat semua secara fisik. Ternyata di sini husus tempat OTG atau yang bergejala ringan. Saat tiba di tengah perjalanan menuju kamar, ada kamar mandi yang dipakai berbarengan. Letaknya di luar. Kotor tentunya. Namanya juga dipakai berbarengan. Namun saya berusaha menerima kondisi ini agar mudah semua saya jalani apapun kondisinya.

Malam pertama tentu tidak bisa tidur. Baru adaptasi. Lalu saya mulai mencari spot-spot nyaman untuk saya dan anak-anak. Mulai dari tempat berwudhu, buang air besar dan kecil, dan mandi. Kamar mandi yang kotor tentunya membutuhkan kesadaran para pasien untuk saling menjaga. Saya berusaha untuk iklas menerima kondisi ini maka segala kekurangan yang saya lihat menjadi hal yang biasa saja. Anggap saja seperti di rumah. Melihat tisue berceceran langsung saya pungut meskipun bekas orang dan kondisi basah. Kamar mandi tidak lupa dibersihkan dengan sabun cuci baju dan plastik sabun sebagai pengganti sikat agar saya dan anak-anak bisa mandi dengan nyaman. Jijik? Tentu, tapi mau mengandalkan siapa? Toh ada sabun, tinggal cuci tangan. Mungkin jika saya masih berat menerima kondisi ini semua akan tetasa berat. Risih. Nggak betah. Adanya petugas hanya mengangkut sampah, resiko tinggi jika dia harus membersihkan kamar mandi. Kabar dari suami ada petugas disini yang terpapar juga dan dirawat di sini. Saat mereka membersihkan sampah ternyata di belakang kamar saya para petugas merapihkan kembali sampah-sampah tersebut. Diubek-ubek lagi. Kebayang sampah bekas masker pasien dan makanan bercampur di situ. Ada rasa iba melihatnya meskipun mereka memakai APD lengkap. Dari situ saya tersadar saat membuang sampah harus kita rapihkan dulu. Masukan masker ke dalam pelastik dulu atau ke dalam dus bekas snack. Botol bekas air mineral diremas-remas dulu, dus-dus snack dilipat-lipat, dus bekas makan nasi tutup rapat kembali agar sisa makanan tidak tercecer. Kepedulian terhadap sesama benar-benar harus dibangun dan ini harus dilanjutkan di rumah.

Besoknya saya mulai berkenalan dengan teman sekamar, mulai mengalihkan pergatian agar lebih kerasan. Tidak lupa mempersiapkan diri agar ikhlas dan ridho menerima kondisi di sini. Maka semakin terbukalah wawasan saya mengenai virus ini. Melalui teman-teman sekamar saya yang berbagi pengalamannya. Teman sekamar saya berusia 50 tahun lebih. Beliau diketahui terpapar covid justru saat mau bimtek disyaratkan harus rapid dan swab test. Dari situ banyak yang ketahuan telah terpapar. Begitupun ibu ini, padahal dia merasa sehat-sehat saja. Hanya pernah merasakan aga sumeng sedikit dan sakit punggung selama beberapa minggu. Teman sekamar lainnya seusia mahasiswa, ibu dan ayah nya baru keluar dari sini. Awalnya kake nya yang kena dan sudah wafat. Sebelum sakit, almarhum kake nya sempat main ke Bekasi. Pulang dari Bekasi sakit. Tidak curiga terpapar covid19. Setelah sakit beberapa minggu lalu dites ternyata positif. Karena kondisi melemah terpaksa dirawat di RS dan hanya bertagan selama 1 minggu. Lain lagi dengan teman kamar sebelah, yang ternyata saya sudah mengenalnya, gejalanya lebih berat dari saya. Sakit seluruh badan dan yang terparah yang ditakuti semua orang adalah sesak napas sudah hampir menutupi tenggorokan. Beruntung cepat ditangani. Ada satu orang pasien lainnya yang saya lihat begitu lemas. Tidak ada gairah. Sering melamun. Tidak mau makan, menyebabkan kondisinya semakin lemah. Ternyata bersamaan beliau datang ke sini suaminya wafat karena covid19 juga. Innalillahi. Ya Allah, nikmat Engkau mana lagi yang aku dustakan? Kau sungguh tahu kelemahanku, aku tidak akan mampu menerima cobaan yang begitu berat seperti mereka-mereka ini. Cobaan yang Kau timpakan kepadaku ternyata tidak seberapa. Hanya butuh keikhlasan dan sabar dalam menjalaninya.

Dari hari ke hari kenalan bertambah baru. Setiap hari ada yang pulang dan datang baru. Ada 3-4 sip antar jemput pasien. Pulang 10 datang 12. Minggu libur maka terjadi penumpukan dihari senin. Banyak cluster keluarga. Di sini kami berbagi cerita, sambil berbagi seolah lupa kami sedang sakit. Padahal kalo di rumah apalagi diam terus di kamar selalu kepikiran kaoan virus ini pergi. Ada yang 2-3x positif setelah swab lalu memutuskan untuk isolasi di Lido. Ada yang bercerita selama isolasi di rumah hanya sendirian. Tetangga bahkan keluarga dekat tidak tau meskipun sudah 1 bulan melawan virus tersebut. Rata-rata mereka tidak menyadari terpapar dari mana. Banyak yang ketahuan karena syarat mengikuti diklat. Banyak yang awalnya merasa hanya flu biasa atau gejala typus.

Hikmah tempaan mutiara
Tempaan demi tempaan saya lalui. Setiap kejadian saya selalu melihat hikmah yang berharga. Bagaikan menemukan mutiara indah yang berhasil ditempa dengan penuh perjuangan. Menerima kenyataan terpapar covid19 memang tidak mudah. Namun ini adalah takdir. Maka yang kita lakukan ketika menerima kenyataan pahit ini adalah ikhlas dan sabar menerima qadha. Terima dan biarkan virus memasuki tubuh kita. Selanjutnya kita fokus pada pemulihan imunitas tubuh. Tips dan saran penanggulangan pasien covid18 tentunya sudah sangat banyak beredar di medsos dan di grup-grup WA atau dari pengalaman orang-orang yang berhasil melewati badai corona. Ikuti saja tips2 tersebut. Dari mulai teknik proning, berjemur sambil sujud dan batuk-batuk, minum air hangat yang dicampur minyak kayu putih murni, minum habbatusauda, propolis, dan banyak lagi tips lainnya. Covid19 tidak ada obatnya. Dokter pun hanya memberikan vitamin dan obat-obatan sesuai gejala. Jika pusing dikasih paracetamol, mual ya obat lambung, begitupun untuk gejala lainnya. Selebihnya olahraga dan berjemur dan yang paling penting terus bermunajat kepada Allah. Pasrahkan kepada-Nya. Biar Dia yang mengatur semuanya. Dengan begitu hati dan pikiran akan tenang karena virus ini menyerang psikis maka hati dan pikiran yang tenang akan mempercepat proses penyembuhan. Jangan pula dipikirkan bagaimana selanjutnya jika sembuh. Tetap ridho dan pasrahkan pada Allah dan terus berusaha dalam ikhtiar menjaga kesehatan.

Namun ada hal yang penting yang harus diperhatikan dan rata-rata orang enggan melakukannya. Jangan sembunyikan apa yang sedang terjadi pada kita dan keluarga. Kabarkan kepada tetangga sebagai saudara terdekat, lalu keluarga dan sahabat. Hal ini dilakukan agar kita mendapatkan bantuan minimal dukungan dan doa agar kita tidak semakin terpuruk dalam sakit. Covid 19 bukanlah aib yang harus ditutupi tapi takdir yang harus diterima. Bukan saja oleh sipenderita tapi juga oleh lingkungan sekitar. Tetangga, keluarga, dan sahabat harus siap juga menerima qadha bahwa kita telah terpapar. Jangan hanya si penderita yang dituntut untuk tidak panik namun lingkungan sekitar pun demikian. Karena dalam kepanikan bisa menimbulkan opini-opini yang kurang tepat sehingga akan memperburuk keadaan.

Saat mengalami gejala awal jangan malu dan takut untuk segera diswab. Toh pandemi ini sudah bukan hal yang baru bukan? Agar bisa tertangani dengan cepat. Pengalaman saya dan keluarga termasuk lambat dalam menangani, baru 2minggu setelah gejala berani dites swab. Pengalaman pasien di sini pun sama, ternyata banyak yang baru ditangani setelah 1 bulan bahkan lebih. Terlambat. Virus menjadi semakin menyebar. Jangan merasa ini hanya flu biasa, hanya gejala typus. Memang seperti flu biasa, seperti gejala typus tapi segeralah cek jangan menunggu berminggu-minggu. Terutama jika ada gejala batuk, penyebaran sangat cepat. Setelah 1 atau 2 hari terasa gejala tersebut jika memungkinkan, ungsikan keluarga kita ke rumah keluarga lainnya. Terutama jika ada anak-anak dan orang tua. Jika tidak, harus benar-benar jaga jarak. Terpisah di kamar sendiri. Pakai masker selama di rumah. Namun jika semua usaha sudah dilakukan ternyata penyebaran tidak bisa dihentikan maka takdir ini memang harus diterima dengan ikhlas, sabar dan tawakal melewatinya. Mungkin Allah merindukan hamba Nya yang beberapa waktu telah melupakan Nya. InsyaAllah mereka yang terpapar adalah orang-orang yang terpilih karena Allah ingin memberikan pesan Cinta Nya.

Bersambung***