Oleh: Nurhikmah

Hamparan perkebunan dengan bermacam-macam tanaman membuat udara terasa sejuk. Kicauan burung ditingkah ocehan berbagai jenis kera terdengar merdu. Membuat ceria suasana pagi.

Padi menguning di ladang nan luas menambah indah hari di ujung sebuah dusun di Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Bungo Tebo era tahun 80-an. Sebuah kecamatan di Provinsi Jambi yang dihuni transmigran dari Pulau Jawa.

Perjuangan para transmigrasi memang luar biasa. Harus babat alas, tinggal jauh dari keramaian, dengan sarana yang sangat terbatas. Bermodal lahan seluas 5 hektar pemberian pemerintah era Soeharto, 2 hektar dijadikan lahan perkebunan karet yang dikelola PT PN ( Perusahaan Perkebunan Negara), 3 hektar lainnya diserahkan kepada petani untuk mengelolanya.

Petani mengelola lahannya dengan berbagai tanaman. Ada kopi, cengkeh, jengkol, kemiri, durian dan tanaman buah lainnya. Sementara lahan rawa mereka tanami padi.

Selain lahan pemberian pemerintah, petani diberi kesempatan untuk membeli lahan perkembangan yang masih berupa hutan belantara. Mereka menebang hutan belantara, kemudian ditanami padi saat menjelang musim hujan. Padi yang berusia sekitar 6 bulan itu harus dijaga dari serangan babi hutan yang merusak tanaman.

“Saatnya menjaga ladang,” kata bapak saat itu, sambil menyiapkan senter dan kentongan. Bapak membuat pondok di ladang dan menginap di sana saat menjelang musim panen.

Kondisi swasembada pangan benar-benar terwujud saat itu. Panen padi berlimpah ruah. Lebih dari cukup untuk kebutuhan pangan dan bertahan satu tahun ke depan.

Selain menanam padi, petani juga pada saatnya akan panen kopi, cengkeh, jengkol, serta tanaman buah lainnya. Silih berganti, sambil menunggu pohon karet siap disadap.

Itulah wajah dusunku dulu. Kini, waktu berlalu dengan cepat. Keadaan telah berubah. Pohon karet yang dulu menjadi penghasilan utama, telah berganti dengan kelapa sawit yang dianggap lebih menjanjikan hasilnya. Tanaman lain pun habis ditebang semua, berganti dengan satu jenis tanaman yaitu kelapa sawit.

Jangan tanyakan tentang swasembada pangan. Bahkan kini rawa telah menjadi lahan sawit. Tak ada lagi hamparan padi, kicauan burung dan ocehan berbagai jenis kera. Entahlah mereka kini ke mana.

Tanpa sadar, berubahnya tananan sejenis ini memengaruhi kondisi air tanah. Hingga saat musim kemarau tiba, kekeringan, kekurangan air melanda. Kualitas air pun semakin buruk. Sungai-sungai kini sudah tercemar, tak ada mata air sejuk.

Kini, sumur bor menjadi solusi. Padahal dulu tiga meter tanah digali, sudah muncul mata air yang memancar. Saat ini, pohon penyerap air hampir habis, hanya ada sedikit yang tak lagi mampu menyimpan air.

” Lik, sumur belakang rumah mbah sudah kering,” lapor keponakanku yang kini menjaga rumah peninggalan orang tuaku. “Lik, aku baru buat sumur bor, kasihan mama mengambil air dari rawa yang jauh, karena sumur dekat rumah sudah kering,” kata keponakan yang lain. Duh, miris batinku mendengar laporan keponakanku.

Betapa serakahnya manusia, hanya mementingkan penghasilan tinggi tanpa berpikir akibat yang akan terjadi. Tak lagi memikirkan alam yang kian rusak dan hewan di mana mereka akan tinggal.

Pohon sawit tak akan bersahabat dengan hewan, tak bersahabat pula dengan alam. Tanah menjadi tandus, pupuk kimia pun kian menambah derita tanah. Karena tanpa pupuk ini sawit tak akan berbuah banyak.

Benarlah apa yang dikabarkan Allah. Kerusakan alam terjadi karena ulah tangan manusia sebagaimana tercantum dalam Q.S. Ar Ruum: 42.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia sehingga akibatnya Allah mencicipkan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali.”

Adakah penguasa saat ini peduli dengan kondisi alam? Dan menuntun rakyat sadar untuk kembali bersahabat dengan alam?