Oleh : Nirwana Ummu Maryam)
(Guru MA & Aktivis Muslimah Magetan)

Pertemuan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dengan Penasehat Perdana Menteri Jepang, Izumi Hiroto membuahkan hasil manis. yakni Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia atau Nusantara Investment Authority (NIA).

Tujuan saya dan Menteri Erick ke Tokyo adalah untuk mengundang Jepang tingkatkan investasi melalui lembaga SWF yang akan dibentuk berdasarkan amanat UU Omnibus,” kata Luhut melalui rilis yang diterima CNBC Indonesia Jumat (4/12/2020).

Erick mengatakan SWF sangat diharapkan dapat menjadi partner bagi investor asing untuk berinvestasi di beberapa sektor atraktif dan prioritas di Indonesia, termasuk jalan tol, bandar udara dan pelabuhan. “Kita ingin nilai aset-aset yang dimiliki BUMN dapat dioptimalisasikan,” kata Erick.

Sementara Heri mengatakan Jepang secara umum mendukung pembentukan SWF Indonesia. Beberapa kalangan bisnis Jepang pun sudah menyatakan ketertarikannya untuk berpartisipasi dalam beberapa proyek pembangunan di Indonesia.

Sebelum pertemuan dengan Hiroto, Luhut dan Erick juga telah bertemu dengan Sekjen Partai Liberal Democratic Party (LDP) untuk Majelis Tinggi, Seko Hiroshige, yang merupakan Mantan Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang.

Dalam pertemuan itu, mereka membahas dukungan parlemen Jepang atas investasi pemerintah dan swasta Jepang di SWF Indonesia dan mendapat sambutan positif.(CNBC Indonesia,05/12/20)

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan juga mengundang investor Singapura untuk masuk di sejumlah proyek pemerintah mulai dari program penanaman mangrove hingga pengembangan lumbung pangan atau food estate di Sumatera Utara.

“Saya rasa Singapura juga bisa jadi bagian dari program penanaman mangrove. Dengan Abu Dhabi ada target 10 ribu hektare. Kami bisa beri area spesial juga Singapura mau jadi bagian dari program ini,” kata Luhut dalam pada acara The 7th Singapore Dialogue on Sustainable World Resources (SDSWR) secara virtual, Rabu.(Antara,04/12/20).

Bahaya investasi Asing

Menurut kamus Wikipedia Investasi adalah suatu kegiatan menanamkan modal, baik langsung maupun tidak, dengan harapan pada waktu nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal tersebut.

Kebijakan mengundang investor tentu sangat berbahaya bagi negeri ini. Kebijakan ini akan menjadikan pihak asing menjadi tuan-tuan di negeri kita. Mereka memiliki berbagai perusahaan besar dan menguasai segenap aset sumber kekayaan alam.

Sebagaimana yang dikemukakan Abdurrahman al-Maliki dalam Politik Ekonomi Islam, “Sesungguhnya pendanaan proyek-proyek dengan mengundang investasi asing adalah cara yang paling berbahaya terhadap eksistensi negeri-negeri Islam. Investasi asing bisa membuat umat menderita akibat bencana yang ditimbulkannya, juga merupakan jalan untuk menjajah suatu negara. “

Ketika penanaman modal asing telah menguasai sumber daya alam atau kekayaan negeri ini, maka ekonomi kita secara keseluruhan dari hulu sampai hilirnya adalah ekonomi bangsa lain. Ekonomi yang terhitung adalah adalah ekonomi bangsa lain. Sehingga perhitungan PDB kita sejatinya hanya menghitung dari produksinya orang-orang asing yang beroperasi di Indonesia, tidak mencerminkan produksi bangsa sendiri.

Dengan mengundang Negara Asing menjadi investor di negeri Ini, akan melengkapi dominasi asing atas negeri ini. Akibatnya, hampir tak tersisa lagi bidang kehidupan negeri ini yang tidak didominasi asing. Dengan itu pula, penjajahan gaya baru atas negeri ini akan makin dalam.
Hal ini tidak boleh dibiarkan karena bertentangan dengan Islam. Kaum Muslim diharamkan memberikan jalan kepada orang kafir untuk bisa mendominasi dan menguasai kaum Mukmin. Allah SWT berfirman,

ٱلَّوَلَن يَجۡعَلَ ٱللَّهُ لِلۡكَٰفِرِينَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ سَبِيلًا ١٤١

“Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin.” (TQS. an-Nisa’ [4]: 141)

Mengurus Rakyat Bagi Pemimpin adalah Amanah

Pemerintah mengundang investor untuk berinvestasi di negeri ini, sama saja berlepas diri dari tanggungjawab. Menyerahkan pengurusan sumber daya alam kepada swasta atau kapitalis.

Dalam Islam Pengurusan Rakyat adalah amanah bagi Penguasa. Dan amanah ini kelak akan di mintai tanggungjawab dihadapan Allah SWT. Terkait amanah Ini Rasulullah Saw Bersabda :

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Rasulullah Saw. bersabda,

“Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya).” (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Hadis ini bermakna bahwa keberadaan seorang al-imâm atau khalifah itu akan menjadikan umat Islam memiliki junnah atau perisai yang melindungi umat Islam dari berbagai mara bahaya, keburukan, kemudaratan, kezaliman, dan sejenisnya.

Kalau peran ini sudah tidak berfungsi maka rakyat akan menjadi makanan empuk untuk disantap bagi kaum kapitalis melalui sistem ekonomi kapitalis yang dijajakan ke negeri ini.

Masihkah kita berharap pada sistem demokrasi kapitalis yang rusak ini. Saatnya umat menyadari bahwa ada sistem yang terbaik yang diturunkan Allah sebagai pencipta dan pengatur terbaik. Yaitu sistem Islam beserta sistem ekonominya yang mensejahterahkan. Hal ini dapat terwujud dengan diterapkannya Seluruh aturan Allah dalam negara yang disebut Khilafah. Wallau A’lam Bishawab.