Oleh: Surya Ummu Fahri (Pemerhati Kebijakan Publik)

Bersatu teguh bercerai kita runtuh. Tampaknya itulah kata-kata yang tepat untuk saat ini karena deklarasi terbentuknya pemerintahan sementara di Papua Barat pada hari Selasa 1 Desember 2020. Pengamat, Presiden harus buka suara soal gerakan Papua Barat kalau perlu mengeluarkan Instruksi Presiden. Dilansir dari Http://kabar24.bisnis.com 2 Desember 2020.

Deklarasi sepihak gerakan Papua Barat, dinilai dapat menstimulasi oposisi Indonesia sehingga menggoyang kewibawaan pemerintah dan secara bertahap berdampak pada disintegrasi bangsa. Pemerintah harus serius menanggapi. Jika tidak, dikhawatirkan akan menjadi kesempatan bagi pihak lain untuk mendukung deklarasi tersebut. Sehingga akan mengancam kedaulatan negeri. Saat ini dukungan telah terlihat dari Vanuatu, Solomon, Fiji dan Papua Nugini. Sementara itu Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku faizasyah, menilai tidak perlu menanggapi deklarasi tersebut.

Namun tentara pembebasan nasional Papua Barat dari gerakan Organisasi Papua Merdeka telah mengeluarkan mosi tidak percaya pada ULMWP.

Penyebab keinginan merdeka.
Tak ada asap jika tak ada api. Begitulah tepatnya. Tidak mungkin Papua Barat menginginkan kemerdekaan tanpa sebab sebelumnya. Sekarang tidak mungkin, seseorang ingin terlepas jika tidak ada pemicunya. Apalagi jika keadaannya baik dan hubungannya baik dengan negaranya. Namun jika merasa terabaikan dan tidak diperhatikan maka ini bisa menjadi sebab dari benih benih disintegrasi.

Bagaimana mungkin Papua ingin lepas.
Kejadian ini sebenarnya berawal dari kegagalan negara dalam memberi keadilan, kesejahteraan serta keutuhan. Coba kita lihat, Gunung yang dikeruk freeport. Emas yang berton ton kilogram dihasilkan dari bumi mereka. Namun kenyataannya para warga dan masyarakat tidak menikmatinya. Mereka hanya menikmati freeport dibangun orang asing. Dengan pakaian yang bagus dan jalan lurus yang mulus.

Namun rakyat pribumi hanya menjadi tenaga kerja kasar. Bahkan menjadi korban dari keberadaan mereka. Entah itu penembakan maupun kebebasan dalam beragama. Keberadaan asing disana pun tak serta merta menjadikan mereka sebagai tuan rumah. Bahkan berani merongrong persatuan Indonesia.

Bagaimana Islam menyatukan Bangsa Bangsa?.
Islam benar benar agama yang sempurna, kaffah. Bahkan Islam telah menyatukan negara negara di dunia hingga 2/3 bagian. Bagaimana mereka makin meluas dan tetap bersatu tanpa terjadi disintegrasi bangsa. Seperti halnya Mekkah yang ditaklukkan pertama kali oleh Daulah. Mekkah adalah negara yang paling memusuhi dakwah Islam sebelumnya. Namun setelah ditaklukkan Mekkah pun menjadi bagian dari Islam. Sumber hukum dan aturan yang diterapkan pun adalah islam.

Konstantinopel Benteng terkuat dari Negara Turki pun ditaklukkan oleh Islam. Kemudian Turki pun menjadi Ibu Kota dari Kekhilafahan Utsmany. Dari sini tampak, bahwa negara dalam Islam bertugas untuk menyebarluaskan dakwah melalui penaklukkan bukan penjajahan atau pengurasan sumber daya alam yang ada di sebuah daerah. Bahkan menjadi daerah yang lebih maju karena terpeliharanya urusan rakyat dengan baik sehingga tidak terjadi pelepasan suatu negeri dari daulah. Mereka menjadi negara negara kecil dan terpisah karena runtuhnya daulah Islam.

Semoga dengan adanya kondisi ini, rakyat sadar bahwa periayahan rezim saat ini sangat berbeda jauh dengan pemerintahan Islam secara kaffah. Dimana hanya dengan sistem Islam lah negara mampu menyelesaikan permasalahan umat, baik wabah, ekonomi, bahkan disintegrasi bangsa tidak akan terjadi. Karena Islam sudah memiliki aturan yang sempurna dalam mengurus individu bahkan mengurus negara.

Wallahualam bish showab