Oleh: Agustin Pratiwi

Salah satu sahabat yang hidup zaman bersama Rasulullah Saw ialah Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda cerdas nan tampan dengan berlatar belakang keluarga kaya-raya dan terhormat. Para ulama dan ahli sejarah memperkirakan kelahirannya antara tahun 594 sampai 598 Masehi.

Ia berasal dari kalangan terhormat yang mengemban amanah penting berkenaan dengan Ka’bah dan Mekah, yakni Bani Abdudsar. Mush’ab tengah berusia 25 tahun saat Rasulullah Saw menerima wahyu untuk menyebarkan Islam.

Mush’ab bin Umair telah dididik dan dibesarkan untuk menjadi tokoh berpengaruh di tengah kaumnya. Ia giat mengikuti berbagai kegiatan dan pertemuan penting yang dilakukan pembesar suku Quraisy. Dari sanalah ia mempelajari cara berdialog dengan beragam karakter dan kepribadian, retorika menyampaikan argumentasi, cara memberi solusi dan taktis memenangkan perdebatan.

Walaupun hidup bergelimang harta dan penuh popularitas, namun ketenangan hati tak kunjung dirasa oleh Mush’ab. Setelah ia mendengar kabar dari Khabab bin al Arat bahwa Rasulullah Saw mengadakan pertemuan dengan para sahabatnya di rumah Al-Arqom, ia lalu bergegas mempersiapkan diri hadir guna mengkonfirmasi tuduhan-tuduhan pembesar Quraisy kepada Muhammad Saw.

Setelah mendengarkan kalam Ilahi yang dibacakan Rasulullah, Mush’ab bin Umair mengucapkan dua kalimat syahadat pada malam itu juga. “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.” Ia telah memilih jalan kehidupan baru.

Saat kabar keimanan Mush’ab terdengar, ia mendapatkan sanksi sosial berupa pemboikotan oleh kaumnya karena telah memilih ajaran Muhammad dan mendustakan sesembahan nenek moyang. Segala fasilitas yang sebelumnya ia miliki serta-merta ditarik oleh ibunya sendiri, Khunas binti Wahab bin Mudharib. Sang ibu yang semula teramat menyayangi dan selalu memenuhi kebutuhan Must’ab mengurungnya sebagai bentuk hukuman.

Pepatah mengatakan “Pelaut ulung tidak lahir dari laut yang tenang.” Begitu juga para aktivis dakwah, mereka tak lahir dari jalan yang mulus. Inilah jalan hidup yang ditempuh Mush’ab bin Umair dan para sahabat lainnya. Mereka telah mewakafkan diri untuk kemuliaan Islam.

Setelah berhasil keluar dari pemboikotan oleh kaumnya, Mush’ab bergegas menyusul rombongan kaum muslimin yang hendak berhijrah menyebarkan dakwah Islam ke Habasyah (sekarang Ethiopia). Perlahan tapi pasti, Islam mulai mendapat tempat di hati penduduk Habasyah. Opini Islam kian meluas dan banyak penduduk yang memeluk Islam dalam kurun waktu beberapa bulan saja. Bahkan pada akhirnya Raja Habasyah, Najasy, juga turut memeluk Islam.

Kemudian setelah musim ziarah yang kedua berlalu, Rasulullah mengutus Mush’ab bin Umair untuk mewakiliny menyebarkan Islam di Yastrib (saat ini Madinah). Dengan kata lain Mush’ab menjadi diplomat pertama kaum muslimin yang mendapat tugas mulia mengemban dakwah politik Islam di luar kota Makkah.

Dalam kurun waktu satu tahun, Mush’ab bin Umair dan para sahabat yang diutus berdakwah ke Yastrib berhasil menyiapkan penduduk Yastrib untuk membaiat Rasulullah dan didirikannya Daulah Islam di Yastrib. Adapun strategi yang digunakan ialah dakwah dengan mengubah pemikiran, dakwah secara politik (politik di sini dalam arti sebagai aktivitas mengurus dan mengatur serta memelihara urusan umat dengan hukum Islam) dan dakwah tanpa kekerasan.

Genderang perang melawan kebatilan untuk pertama kalinya ialah Perang Badar. Pada hari Jumat 7 Ramadan tahun ke-2 Hijriah bertepatan dengan tanggal 13 Maret 624 Masehi tengah berbaris tiga ratus pasukan kaum muslimin yang akan melawan seribu pasukan kafir.

Rasulullah Saw memberikan panji rayyah kepada Mush’ab bin Umar. Panji bertoreh kalimat tauhid “laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah” ia genggam begitu eratnya. Dengan gagah berani Mush’ab melakukan pertempuran dengan panji rayyah di tangan yang satu sementara tangan satunya untuk mengayunkan pedang.

Atas izin Allah, kaum muslimin memenangkan peperangan sengit itu. Sang diplomat pertama umat Islam terus menggenggam erat panji rayyah sejak awal pertempuran hingga mereka tiba di Madinah al Munawaroh. Yang ia harapkan dalam pertempuran hanyalah kemuliaan Islam atau mati syahid dijalan Allah.

Pada perang Uhud, Sang penjaga Panji Islam Mush’ab bin Umair mendapatkan tangan kanannya tertebas pedang Ibnu Qami’ah. Dengan sigap, ia menangkap panji hitam ar-rayah dengan tangan kirinya. Ia tak rela panji itu jatuh ke tanah dan ia melanjutkan perlawanan meski hanya dengan satu tangan. Geram dengan apa yang tengah ia saksikan, Ibnu Qami’ah kembali mengayunkan pedang menargetkan tangan kiri Must’ab.

Bersamaan dengan terlepasnya tangan kiri dari tubuh Mush’ab, hampir saja panji itu jatuh ke tanah namun Mush’ab segera melabuhkan badan dan merangkul tiang panji tauhid dengan lengan yang masih tersisa agar kembali tegak panji rayyah di tengah pertempuran.

Bagi Mush’ab bin Umair, amanah memegang panji perang umat Islam yang Rasulullah berikan padanya adalah kehormatan yang tak ternilai. Ia tak peduli meski harus kehilangan kedua tangannya bahkan rela kehilangan nyawa. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Mush’ab membenamkan lututnya ke tanah untuk memperkuat posisi agar panji rayyah tidak jatuh.

Dalam keadaan yang demikian, ia berteriak “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sesungguhnya telah berlalu beberapa orang Rasul yang diutus sebelumnya”. keteguhan Mush’ab membuat Ibnu Qami’ah kian dongkol dan kembali menjadikan Mush’ab sebagai targetnya. Ia mengambil sebuah tombak dan menusuk Mush’ab dari arah belakang.

Darah segar mengalir deras dari tubuh Mush’ab bin Umair membasahi pasir Uhud. Tubuh seorang bangsawan tampan itu melemah dirangkul ajal. Mata yang indah perlahan meredup dan kian tertutup untuk selamanya. Lelaki yang membuka dakwah Islam di Madinah itu perlahan jatuh di pelukan bumi. Wafat sebagai Syuhada Uhud. Ali bin Abi Thalib lalu mengambil panji rayyah dan kembali mengibarkannya di tengah pertempuran.

Ketika perang telah usai, para syuhada Uhud dibawa ke hadapan Rasulullah untuk disalatkan. Saat giliran jenazah Mush’ab bin Umair akan dikafankan oleh para sahabat mereka tidak menemukan sehelai pun kain untuk menutupi tubuh Mush’ab kecuali apa yang melekat pada tubuhnya, Rasulullah tak dapat membendung air mata beliau. Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Tariklah pakaian saudara kalian hingga menutupi kepalanya, lalu kumpulkan beberapa rumput dan daun kemudian tutupi bagian yang terbuka.” Maka setengah dari badan Mush’ab ditutupi dengan kain dari bajunya sedangkan setengahnya lagi ditutupi dengan daun dan rumput kering yang dikumpulkan dari sekitar Uhud.

Wafatnya Mush’ab bin Umair menjadi pelajaran penting bagi generasi umat Islam. Seorang yang sebelumnya memiliki kemewahan dunia, seorang yang memiliki tahta pun ialah keturunan bangsawan, namun semua kemewahan dunia dan tahta yang ia miliki ia lepaskan kan ketika memeluk Islam. Ia mampu menggenggam dunia di dalam kepalan tangannya dan menghujamkan keimanan Islam jauh dalam hatinya. Begitulah seharusnya sikap kita sebagai muslim pada abad ini yang menginginkan kemuliaan Islam.

Sumber : Buku “Misi Rahasia Mush’ab bin Umair”, karya Arifin Alfatih.