Oleh: Sri Ratna Puri, (Aktivis Masyarakat)

Dalam Islam, agama dan kehidupan, tidak bisa dipisahkan. Kehidupan akan terjaga, bila ada agama. Bila dikata, sekarang bukan zaman dimana Nabi Saw, ada bersama kita. Jadi, biarkan aturan kehidupan, kita yang menentukan. Benarkah demikian?

Nabi Muhammad Saw, Nabi penutup akhir zaman. Menjelang maut meninggalkan badan, Nabi menyebutkan ulama, sebagai pewarisnya (HR. Abu Daud dan at-Tirmizi). Bukan anak-cucu yang Baginda sebut. Bukan sahabat dan kerabat sebagai penerima wasiat. Melainkan ulama. Dengan adanya ulama, selamat kehidupan dunia, sampai ke surgaNya.

Apa yang disabdakan Rasul Saw, benar adanya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ulama diartikan sebagai orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam. Ahli dalam pengetahuan agama Islam. Ini perlu dicatat. Sebab saat ini, banyak orang mengaku ulama, tapi tak tahu ajaran agamanya. Islam.

Sedang Alqur’an mengartikan, ulama, sebagai orang sungguh takut kepada Allah, di kalangan para hamba-Nya (TQS Fathir [35]: 28).

Rasa takut yang menjadikan mereka Istimewa di hadapan Allah Swt. Rasa takut yang menjadi sifat yang paling menonjol di kalangan mereka. Para ulama. Takut Allah marah, takut Allah kecewa pada mereka, ketika tak menyampaikan amanah ilmu agama.

Ulama Pembela Agama

Bukan sekadar keluasan dan kedalaman ilmu, mereka selalu berada di garda terdepan membela agama Allah. Menjaga kemurnian ajaran Islam. Mendidik masyarakat dengan syariat. Meluruskan hal yang menyimpang dari petunjuk Allah Swt, dan berteriak lantang terhadap berbagai kezaliman. Tanpa ada takut resiko sedikit pun.

Para pelaku kezaliman, khususnya penguasa dalam sistem Islam, akan berpikir ulang untuk sengaja berbuat kemaksiatan. Sebab, bila nekat berbuat, mereka harus mengumpulkan nyali menghadapi ketegasan para pewaris Nabi. Bila pemerintahan tak sejalan dengan aturan Islam, ulama kan meluruskan. Tidak bersikap lemah. Terus menerus melakukan koreksi, agar pemerintah kembali pada pelaksanaan titahNya.

Ulama Nasibmu Kini

Rusaknya rakyat disebabkan karena rusaknya penguasa. Rusaknya penguasa disebabkan karena rusaknya ulama. Rusaknya ulama disebabkan karena dikuasai oleh cinta harta dan ketenaran (Al-Ghazali, Ihyâ‘ ‘Ulûm ad-Dîn, 2/357).

Saat Islam tak lagi diterapkan secara keseluruhan, nasib para ulama jadi pertaruhan. Mengingat betapa besar perjuangan yang harus mereka lakukan. Sebab, tak hanya mengadapi umat, melainkan penguasa yang menerapkan sistem yang bejat. Kapitalis Sekularis.

Sistem kebebasan yang menyingkirkan agama dari kehidupan. Segala aspek jadi korbannya. Termasuk para ulama. Semenjak penjajah menduduki Indonesia, para ulama menjadi musuh utama. Sampai sekarang. Di rezim yang sedang berjalan.

Seperti mengikuti pola yang sudah ada, para ulama pilihan yang istikamah menyampaikan kemurnian ajaran Islam, diposisikan sebagai musuh negara. Karena dakwah islamnya mengusik kepentingan. Berbagai cara dilakukan, dari adu domba, fitnah, sampai penangkapan para ustaz dan para aktivis Islam.

MUI Target Kebiri

Majelis Ulama Indonesia (MUI), garda umat Islam Indonesia, yang mewadahi para pewaris Nabi Saw. Para ulama. Namun baru-baru ini berusaha dikebiri dan dipolitisasi.

Semenjak mantan ketua umum, Ma’ruf Amin, menjadi orang nomor dua di Indonesia, berkali-kali MUI terseret arus kepentingan. Seperti baru-baru ini, pemilihan pengurus MUI, yang disebut oleh pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, dominasi dan kekuatan Ma’ruf Amin di MUI dinilai sangat kentara. Membuka dugaan kuat campur tangan pemerintah di payung besar para ulama tersebut. (CNN Indonesia.com)

Hal ini berimbas pada pendepakan para PA 212 yang merupakan anggota pengurus MUI. Walau penyangkalan yang dilakukan PBNU, tak membuat hilang jejak yang ditinggalkan. Kecurangan.

Di waktu yang sama, bermunculan ulama jadi-jadian. Ulama yang keberadaannya memperparah suasana. Ulama su’. Ulama jadi-jadian yang disebut imam Ghazali, sebagai setan berbentuk manusia. Salah satu tugasnya menyebar fitnah, menjadi corong dan stempel penguasa (zalim).

Carut marut keadaan sekarang, merupakan kesempatan besar para ulama untuk mencapai kemuliaan. Mereka pasti tak menyia-nyiakan waktu. Semakin memusatkan padangan, untuk menentang kezaliman. Tak gentar menghadapi permasalahan dan tak tertarik arus moderasi agama. Dimana mereka lebih mengedepankan keadilan ukuran manusia, daripada ukuran keadilan Allah Swt.

Bukankah lisan mulia Baginda Rasul Saw, menjaminnya. Disabdakan, jihad terbaik adalah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. (HR Ahmad, Ibn Majah, Abu Dawud dan an-Nasa’i).