Oleh: Maman El Hakiem

Ibnul Qayyim al Jauziyah terobsesi untuk membaca 20.000 jilid buku, bahkan jika ada buku baru, ia merasa seperti menemukan sebuah harta karun. Bagi seorang pecinta ilmu, buku telah menjadi harta yang berharga dalam hidupnya. Seorang pencari ilmu ada yang rela melepaskan seluruh harta bendanya saat di tengah perjalanan dirampok, asal dirinya bisa terus berjalan menuju tempat ilmu.

Bagaimana cara memahami kehidupan ini, maka itulah yang menjadi energi geraknya. Para syuhada itu adalah orang-orang yang berjuang di medan jihad dengan harapan mendapatkan kesyahidan. Artinya kesaksian bahwa akhir hidupnya berada pada jalan Allah SWT. Pun para pencari ilmu, betapa setetes ilmu di seberang lautan lebih membuatnya tertarik daripada lautan harta di hadapannya. Maka, mereka rela melepas hartanya untuk meraih kemuliaan ilmu.

Ilmu adalah harta paling berharga yang akan selalu menjaga amalnya, sedangkan harta sering melalaikan dirinya untuk beramal. Karena dalam ilmu didapatkan tentang adab, bagaimana pengetahuan tentang agama ini harus dijemput dengan kejernihan niat dan keseriusan meraih ridlo Allah SWT. Salah satu adab berilmu adalah memiliki semangat dalam mengatasi segala hambatan.

Harus ada kegigihan dalam meluangkan waktu dan menguncinya agar tidak dibenturkan dengan kewajiban lainnya. Itulah yang dilakukaan Imam Syibaweh, sekali terlambat menghadiri majelis ilmu membuatnya menyesal tiada tara. Maka, setelah itu ia selalu menunggui gurunya di depan pintu keluar rumahnya agar menjadi orang pertama yang bisa membersamainya.

Jika kehidupan ini diumpamakan ladang pencarian harta karun, mereka yang mengutamakan ilmu sebelum amalnya akan bersungguh-sungguh meraih adabnya. Di dalam adab, bukan saja belajar tentang ilmu tapi bagaimana ilmu itu disampaikan. Seorang guru besar rela mengunjungi kajian muridnya, padahal secara keilmuan tentu bagaikan setitik air di atas telaga. Tetapi sang guru ingin belajar adab dari muridnya. Begitu indah saat ilmu berada pada genggaman orang-orang yang bertakwa. Melahirkan sikap tawadlu dan akhlak karimah. Berbeda saat ilmu dicuri oleh mereka yang menjauhkan agama dari kehidupan, maka hikmah ilmu yang didapatkan hanyalah kesombongan atas kemampuan potensi akalnya.

Seperti yang terjadi saat ini, ketika kaum muslimin terjajah oleh peradaban barat yang menguasai teknologi, segala nilai kebaikan ilmu tidak menjadi kemuliaan di sisi Allah SWT. Manusia semakin dijauhkan dari syariat agama, teknologi tidak membuatnya tergerak untuk merindukan sistem kehidupan yang mampu memberikan ketenteraman hati dan kepuasan akal, seperti yang pernah Islam berikan pada masa keemasannya. Kita harus bisa meraih kembali harta karun kehidupan untuk kebangkitan umat di masa depan. Apa harta karun itu? Keilmuan Islam yang tidak bisa dilepaskan dari penguasaan bahasa Arab.

Upaya untuk kembali meraih kebangkitan Islam, tidak lain dengan menghidupkan kembali kajian keislaman yang di dalamnya tersampaikan indahnya ajaran Islam secara kaffah. Mereka yang menempuh jalan itu akan dimudahkan Allah SWT menuju jannah.
“Barang siapa menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu (syariah), maka Allah pasti mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Wallahu’alam bish Shawwab.