Oleh: Yuni Damayanti

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memastikan pemerintah akan tetap mempromosikan pariwisata komodo di TamanNasional Komodo, Nusa Tengara Timur (NTT). Ia meyakinkan pembangunan yang dilakukan di destinasi pariwisata tersebut dilakukan untuk bisa menjaga keberlangsungan hewan langka tersebut.

“Komodo itu satu-satunya di dunia jadi kita harus jual,” tegas Luhut dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Pembangunan Lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas di Jakarta, Jumat, 27 November 2020. Luhut mengakui pemerintah memang melakukan pembangunan proyek wisata Pulau komodo dengan alasan komersil. Namun, tidak berarti pemerintah mengabaikan pelestarian binatang langka tersebut. Selain Luhut, Menteri BUMN Erick Thohir dalam rakornas tersebut juga menjelaskan, Labuan Bajo, NTT memang diarahkan menjadi destinasi pariwisata premium, (galamedianews.com, 27/11/2020).

Rupanya keputusan pemerintah untuk membangun Jurassic Park ini mengundang komentar pengamat pariwisata sekaligus Founder Temannya Wisatawan, Taufan Rahmadi, ia mengatakan “Jika proyek tersebut terus dilanjutkan, khawatir bisa berdampak pada tercorengnya nama Indonesia di mata dunia lantaran tidak bisa menjaga komodo yang merupakan hewan purba yang merupakan satwa nasional dan juga menjadi satwa yang dilindungi dunia,” kata Taufan. Ia mengatakan, Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional, telah menetapkan bahwa komodo merupakan satwa nasional yang harus didorong upaya perlindungan dan pelestariannya.

Selain itu menurut Taufan, pembangunan Geopark di suatu pulau secara terang-terangan bertentangan dengan Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Perlu diketahui, Pulau Rinca di kawasan Taman Nasional (TN) Komodo adalah kawasan konservasi dengan tujuan untuk melindungi satwa langka, komodo, dan ekosistem lainnya yang ada di wilayah tersebut. Kawasan itu telah ditetapkan sebagai TN Komodo pada tanggal 6 Maret 1980. Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) mengakui komodo sebagai warisan dunia pada tahun 1991, (Bidikutama.com, 8/11/2020).

Penolakan pembangunan Jurassic Park juga disampaikan oleh Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nur Hidayati menilai, pembangunan proyek ” Jurassic Park” di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur yang dilakukan pemerintah tidak berbasis keilmuan. Menurut dia, alih-alih melestarikan komodo dan habitat alaminya, pembangunan tersebut justru akan membuat komodo tersiksa. “Pembangunan Jurassic Park di Pulau Rinca jelas menunjukkan pembangunan yang tidak berbasis keilmuan dan bertentangan dengan kearifan lokal masyarakat setempat,” kata Nur bahkan ia juga mengatakan “Pembangunan Jurassic Park justru akan menciptakan neraka bagi komunitas komodo yang dapat berujung pada musnahnya hewan unik ini selamanya,” (kompas.com 26/10/2020).

Komodo adalah satwa langka yang wajib dilindungi keberadaanya. Belakangan ini pemerintah disibukkan dengan pembangunan tempat-tempat wisata, yang bertujuan mengundang investor dan wisatawan manca negara berkunjung ke Indonesia agar mampu menambah pundi-pundi penghasilan negara. Memang terdengar aneh menyibukkan diri dengan penghasilan recehan padahal negeri tercinta ini kaya sumber daya alam. Jika SDA dikelola dengan baik akan mampu untuk membiayai kebutuhan negara dan mensejahterakaan rakyat.

Yah, sat ini Komodo hanya dipandang sebagai objek komoditas ekonomi saja tanpa dilihat sebagai salah satu mata rantai dalam sebuah ekosistem pada wilayah tersebut. Hal yang sepertinya dilupakan oleh manusia adalah keberadaan komodo sebagai hewan purba yang masih hidup sampai sekarang dikarenakan ekosistem habitat di kawasan tersebut terjaga beratus tahun lamanya.

Hal yang perlu diketahui adalah setiap kawasan konservasi memiliki kekhasan masing-masing sehingga generalisasi sistem pengelolaan adalah kebijakan yang tidak tepat. Keran investasi swasta dengan membawa konsep ekowisata modern (taman bermain, resor, kawasan ekonomi modern, dan lain-lain) tidak boleh dikatakan sebagai jawaban atas kurangnya pengoptimalan jasa lingkungan di kawasan Taman Nasional Komodo. Selain itu pembangunan pariwisata ini bukan hanya mengancam habitat komodo tetapi juga mengalihkan pengelolaan SDA kepada pihak asing yang memberi pemasukan besar.

Berbicara konservasi alam, erat kaitannya dengan pelestarian alam. Ia tak bisa dipisahkan, satu kesatuan, dan terikat satu sama lain. Baik dalam pengertian kontekstual maupun dalam aplikasi di lapangan. Namun, berbicara soal konservasi alam, jauh sebelum kita memasuki abad modern seperti saat ini, Islam sebenarnya sudah mengajarkan soal pelestarian alam. Ini artinya, jangan menilai jika sebutan pelestarian alam atau istilah konservasi baru dikenal di abad 20 saja, tapi jauh ke belakang, pelestarian alam sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Sebagai agama yang rahmatan lil alamin, kehadiran Islam hakekatnya tak hanya diperuntukkan bagi manusia saja, tetapi juga untuk alam semesta ini, dengan tujuan agar berlangsung secara seimbang rotasi kehidupan di muka bumi. Itulah esensi dari rahmatan lil alamien. Yakni, manusia yang ditunjuk sebagai khalifah harus memberikan rahmat dan manfaat bagi seluruh alam semesta ini.

Salah satu pakar Islam yakni Ibnu Taimiyah dalam Taqi ad-Din Ahmad ibn Taimiyah mengatakan, “Telah diketahui bahwa dalam makhluk-makhluk ini Allah menunjukkan maksud-maksud yang lain dari melayani manusia, dan lebih besar dari melayani manusia: Dia hanya menjelaskan kepada anak-cucu Adam apa manfaat yang ada padanya dan apa anugrah yang Allah berikan kepada umat manusia.”

Ini berarti bahwa secara sistematik, para pakar Islam terdahulu sesungguhnya telah mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan hidup dan konservasi alam, sebagaimana tercermin dari kata-kata Ibnu Taimiyah diatas. Pasalnya, Islam membawa kemaslahatan dan perbaikan (ishlah) terhadap bumi.

Rosulullah Saw menunjukkan kepeduliannya pada soal pelestarian alam.  Meskipun, istilahnya bukan konservasi, melainkan prinsip, semangat dan praktek konservasi telah dilakukan Rasulullah dan sahabatnya melalui kawasan lindung (hima), kawasan larangan (al Harim), dan menghidupkan lahan yang terlantar (Ihya al mawaat) serta pemenuhan hak-hak kehidupan liar, baik satwa maupun tumbuhan.

Dalam sebuah Riwayat Muslim dijelaskan, bahwa sesungguhnya pionir hima dicontohkan pada dua kota suci yakni Mekkah dan Madinah sejak zaman Rasulullah Saw. Beliau mengumumkan hal itu saat penaklukan Mekah melalui sabdanya, “Suci karena kesucian yang diterapkan Allah padanya hingga hari kebangkitan. Belukar pohon-pohonnya tidak boleh ditebang, hewan-hewannya tidak boleh diganggu dan rerumputan yang baru tumbuh tidak boleh dipotong.”

Bahkan dalam Hadist Riwayat Muslim dikatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah mencagarkan kawasan sekitar Madinah sebagai hima guna melindungi lembah, padang rumput, dan tumbuhan yang ada di dalamnya. Sabdanya, “Sesungguhnya Ibrahim memaklumkan Mekkah sebagai tempat suci dan sekarang aku memaklumkan Madinah, yang terletak antara dua lava mengalir (lembah), sebagai tempat suci. Pohon-pohonnya tidak boleh ditebang dan binatang-binatangnya tidak boleh diburu.”

Sahabat Abu Hurairah mengatakan, “Bila aku menemukan rusa di tempat antara dua lava mengalir, aku tidak akan mengganggunya; dan dia (Nabi) juga menetapkan dua belas mil sekeliling Madinah sebagai kawasan terlindung (hima).” (HR. Muslim). Dalam riwayat Al-Bukhari, Nabi juga melarang masyarakat mengolah tanah tersebut karena lahan itu untuk kemaslahatan umum dan kepentingan pelestarian. Dalam sebuah hadistnya, Rasulullah Saw. bersabda: tidak ada hima kecuali milik Allah dan Rasulnya (Riwayat Al Bukhari).

Oleh karena itu, hima sebagai upaya konservasi alam dalam ajaran Islam telah berumur lebih dari 1.400 tahun. Praktek ini merupakan cara konservasi tertua yang dijumpai di Semenanjung Arabia, bahkan mungkin tertua di dunia. Hal ini diakui FAO sebagai contoh pengelolaan kawasan lindung paling bertahan di dunia.

Lihatlah, betapa konservasi alam sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup Rasulullah Saw. Tugasnya sebagai nabi, ternyata tak hanya meluruskan akhlak umat manusia, tapi juga perlakuan kita terhadap alam yang notabene adalah benda mati secara harfiah. Sekarang, bandingkan dengan istilah konservasi yang kerap didengung-dengungkan oleh para elit politik yang penuh dengan kepentingan. Alih-alih berkoar-koar pelestarian alam, sadar kawasan dan cagar alam namun dengan dalih potensi wisata yang mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan, rambu-rambu pelestarian alam pun dilabrak seperti halnya yang akan dilakukan di Pulau Komodo, Wallahu a’lam bisshowab.