Oleh; Dwi Maria

“Kasih ibu, kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia…”.

Sebuh lagu ciptaan SM Mochtar yang sangat melegenda, membuat hati senantiasa bergetar dan berlinang air mata ketika menyanyikannya sembari terbayang wajah ibu tercinta. Sebuah lagu yang menggambarkan betapa besar kasih sayang seorang ibu pada putra putrinya yang tak pernah terbatas waktu, yang rela berkorban apa saja demi kebahagian mereka tanpa pernah mengharap balas jasa. Benar-benar seperti sang surya yang menyinari dunia. 
.
Namun kini, entah apa yang merasuki nurani sebagian kaum ibu, kasih sayangnya kian terkikis habis. Bahkan ada ibu yang tega membunuh atau membuang buah hatinya sendiri, seperti yang terjadi di kabupaten Madiun, Jawa Timur. Hanya dalam waktu 1 minggu, telah ditemukan 2 kasus pembuangan bayi.

Diantaranya terjadi di desa Tapelan, Kecamatan Balerejo pada minggu pagi (29/11/2020) telah ditemukan seorang bayi laki-laki yang diperkirakan berusia 1 hari disebuah pos ronda dengan hanya terbungkus selimut tipis. Sehari sebelumnya, warga Desa Sambirejo, Kecamatan Jiwan, juga gempar dengan penemuan sosok bayi tak bernyawa terbungkus kantong plastik mengapung di sungai pada Sabtu (28/11/2020). Jasad bayi yang sudah membusuk itu diduga dibuang setelah dilahirkan. Sebab, masih ditemukan ari-ari yang menempel pada jenazah bayi itu. (regional.kompas.com,11/30/2020)

Sungguh sangat miris. Jika kita cermati secara mendalam, kasus maraknya pembuangan bayi yang sering terjadi, sangat erat kaitannya dengan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Khususnya karena imbas dari maraknya perzinaan akibat pergaulan bebas yang tanpa batas serta beragam faktor lainnya, termasuk ekonomi. Pergaulan bebas tidak lagi mengenal kota kecil atau besar. Dampak dari internet tanpa sensor, gaya hidup materialis, hedonis dan kehidupan sekuler menjadi pemicu terjadinya pergaulan bebas yang merusak, sehingga sangat berkontribusi pada peningkatan angka KTD. Ekonomi sulit apalagi disaat pandemi saat ini dan banyaknya PHK, juga membuat banyak pasutri gelap mata dan tega membuang darah dagingnya sendiri.

Sistem sekuleris liberal telah membuat kondisi kehidupan sosial mengikuti hawa nafsu sendiri tanpa adanya kontrol, baik dari aturan moral yang berlaku di tengah masyarakat maupun dari aturan agama. Karena azas sistem liberalisme adalah kebebasan dalam mengatur kehidupan individu. Dengan kata lain, seseorang bebas melakukan apa saja asalkan bahagia. Sedangkan tolak ukur kebahagiaannya hanyalah dari segi materi semata. Hal ini lah yang membuat naluri seorang ibu terus terkikis hingga habis dan mengubahnya menjadi sosok yang kehilangan naluri keibuan dan kelembutannya. Bila di biarkan maka akan terus mengikis fitrah keibuan.

Untuk itu butuh solusi komprehensif, bukan sebatas individual tanpa melibatkan upaya mengganti tatanan yang rusak ini. Karena jika solusinya hanya bersifat individu maka tidak akan pernah bisa menyelesaikan permasalahan pembuangan bayi ini. Karena kasus ini tidak berdiri sendiri, ada faktor mendasar yang menjadi penyebabnya yaitu sistem sekuler liberal yang jelas- jelas merusak tatanan kehidupan. Maka tidak ada solusi lain kecuali dengan membuang sistem rusak tersebut, kemudian menggantinya dengan sistem islam.
.
Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh kehidupan manusia agar sesuai dengan hukum yang telah diturunkan oleh Allah SWT, termasuk sistem pergaulan. Dalam sistem pergaulan Islam, interaksi antara laki-laki dan perempuan diatur sedemiian rupa, cara berpakaian pun juga diatur hingga terjaga kehormatan diri dan terjaga dari interaksi yang mampu menimbulkan syahwat. Islam juga melarang beredarnya konten-konten porno dan tempat-tempat yang membuka peluang kemaksiatan, seperti diskotik, cafe dan lainnya. Artinya sistem Islam menutup semua celah yang mengantarkan pada tindak kemaksiatan dan perzinaan.

Sebagaimana firman Alloh SWT dalam Al-Qur’an surat Al Isra ayat 32 :
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32).

Selain itu sistem Islam juga menumbuh suburkan keimanan dan ketakwaan setiap individu masyarakat, sehingga timbul rasa takut kepada Allah ketika ingin melakukan kemaksiatan, masyarakat di dalam islam bukanlah masyarakat yang individualis namun masyarakat yang punya kepedulian yang tinggi sebagai pengontrol kehidupan sosial, sekaligus pengontrol kebijakan negara yang tidak sesuai dengan Islam.

Untuk itu, dibutuhkan sinergi antara negara yang berwenang untuk menetapkan aturan-aturan yang bersumber dari hukum syara’, diantaranya membuat aturan sosial antara laki-laki dan perempuan di ranah publik, membuat aturan tentang kurikulum pendidikan, membuat sanksi tegas bagi pelanggar yang berzina, membuat aturan ekonomi yang pro rakyat untuk melindungi hak rakyat sehingga dapat menjamin kesejahteraannya.

Sedang masyarakat berfungsi sebagai pengontrol dan individu yang memiliki ketaqwaan yang tinggi untu melaksanakan aturan tersebut. Dengan kondisi ini, maka akan tercipta masyarakat yang bebas dari sekuler liberal. Dan hal itu hanyaakan bisa diraih pada negara yang menerapkan aturan Islam kaffah yaitu Daulah khilafah ‘Ala Min Hajjin Nubuwah.

Wallahu a’lam bish shawab