Oleh: Maman El Hakiem

“Sesungguhnya di pagi hari kami dalam keadaan fitrah Islam…” Dzikir pagi itu serasa meresap di jiwa. Embun yang menetas di dedaunan tertusuk cahaya matahari yang baru terbit. Rumah panggung di bebukitan alam yang masih hijau, panorama pedesaan yang masih asri. Kebun teh yang terhampar, selaksa permadani hijau yang menyejukan mata.

Para pemetik teh, tampak telah siap bekerja di kebun. Mereka hanya sekedar buruh, karena pemilik kebun teh adalah para pemodal orang-orang kaya yang tinggal di kota. Aku senang mendapat tempat praktik kerja lapangan dari kampus di pedesaan seperti itu. Seusai shalat subuh sengaja olahraga pagi, sekedar jalan-jalan ke kebun teh.

“Her, coba kau lihat hamparan kebun teh! Dari daun hijau ini, Allah SWT memberikan khasiat yang menyegarkan.’ Tanyaku pada Heri, yang selalu kuajak berjalan di pagi hari.
‘Iya…masya Allah, sangat luar biasa nikmat yang telah Allah berikan berupa alam yang subur di negeri ini,” Jawabnya, tangannya memetik pucuk teh.

“Tetapi, sayang anugerah yang indah ini meninggalkan duka bagi penduduk desa di sini ya?’ Tanyaku lagi.
“Lah…memang kenapa? Bukankah mereka saat panen untung besar?’ Jawab Heri yang justru balik bertanya karena merasa heran.

“Oh belum tahu ya, kemarin saat acara urun rembug di balai desa, ternyata mereka sekedar buruh, hasil panen tehnya sudah bukan lagi milik petani. Jadi, singkatnya para pemodal itu telah membelinya saat tanaman teh belum waktunya dipetik.” Jawabku agak panjang lebar.

“Memang benar-benar negeri terjajah…” Gumam Heri. Mereka berdua adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi sosial, selama sebulan praktik lapangan di kampung Hanjuang.

“Wilujeung enjing Pak!” Sapa Heri ketika berpapasan dengan petani teh dengan menggunakan bahasa daerah.
“Enjing, bade ngabantosan metik teh? Jawab petani, lalu bertanya apa mau membantu memetik teh? Sungguh masyarakat kampung yang sangat ramah, bahkan cepat akrab dalam berkomunikasi.
“Sekedar jalan-jalan Pak, menghirup udara segar.” Jawab Heri.

Begitulah kehidupan, sangat menyenangkan saat bisa memperhatikan ciptaan Allah SWT. Sungguh sebuah nikmat yang tidak boleh didustakan, ketika masih bisa bangun di pagi hari dan dalam keadaan segar bugar.

(Bersambung.)