Oleh ; Dewi Asiya
Pemerhati masalah sosial

Satu kabar yang menggembirakan bagi kita semua warga Ponorogo, bahwa panen raya akhir tahun 2020 ini dipastikan akan mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Ponorogo. Bahkan, diperkirakan akan menghasilkan surplus beras hingga 17,15 Ribu ton selama musim tanam ketiga tahun 2020 ini.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ponorogo Medy Susanto, Kamis (3/12/2020) di kantornya beliao menyatakan, selama Desember ini sawah di wilayah barat Ponorogo telah dan sedang mengalami panen. Total luasan sawah yang dipanen mencapai sekitar 11.744 hektare.(Ponorogo.go.id)

Dari luas panen ini, terang Medy, diperkirakan menghasilkan gabah sejumlah 67,34 kuintal gabah kering giling (GKG) per hektare. Estimasinya, saat menjadi beras akan mencapai 49,62 ribu ton. Sedangkan konsumsi beras masyarakat Ponorogo selama musim ini adalah 32,46 ribu ton. “Dengan produksi tersebut, diperkirakan akan terjadi surplus sebanyak 17,15 ribu ton,” kata Medy.(timesindonesia.co.id)

Ini masih di Ponorogo saja, bisa jadi surplus ini juga terjadi di wilayah wilayah lain yang juga penghasil beras .

Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia negeri elok nan indah berada di zamrud katulistiwa adalah negara agraris, yaitu negara dengan potensi pertanian yang tinggi .Tanaman apapun yang ditanam disini pastilah bisa hidup . Mengutip syair lagunya Kus Plus : ” tongkat ditanam jadi tanaman ” inilah kelebihan negeriku tercinta Indonesia.

Hal ini sungguh membuktikan bahwa Indonesia adalah wilayah yang subur dan mestinya dapat memenuhi kebutuhan pangan maupun kebutuhan kebutuhan lain yang bertumpu pada sektor pertanian secara mandiri, bahkan berswasembada. Sehingga Indonesia tidak membutuhkan lagi pada impor beras maupun impor hasil pertanian yang lain.

Sektor pertanian inilah yang seharusnya dikembangkan oleh pemerintah secara serius, karena sektor ini termasuk fundamental dan ketahanan pangan adalah satu hal yang sangat berkaitan dengan keamanan negara. Dimana ketika pangan yang merupakan salah kebutuhan primer terpenuhi maka rakyat akan sejahtera, keamanan pun akan didapat .

Namun pada faktanya saat ini Pemerintah malah terkesan melumpuhkan sektor pertanian dengan beragam kebijakan selama ini. Mulai dari kelangkaan pupuk yang terus terjadi, mafia yang tidak pernah tuntas diselesaikan, alih fungsi lahan pertanian dan yang terkini adalah kebijakan dalam UU Omnibus law, yang memasukkan impor bahan pangan sebagai bagian dari strategi penyediaan cadangan pangan. Akhirnya menjadikan pasokan bahan pangan menumpuk berimbas pada harga beras lokal turun anjlok , petani pun kurang bergairah. Juga terjadi persaingan yang tidak seimbang antara beras lokal dan beras import.

Dalam Islam, ketahanan pangan diwujudkan dalam politik pertanian. Baik dengan cara intensifikasi maupun ekstensifikasi.

Ribuan sarjana pertanian akan terjun langsung membimbing para petani, pemberian subsidi langsung dalam pupuk, alat-alat pertanian, bibit, bahkan bagi petani yang sangat membutuhkan, Dimana Khalifah sebagai pemimpin yang mengurusi urusan rakyat dapat menggratiskan semuanya.

Demikian juga kebijakan menghidupkan tanah mati, sebagaimana hadits yang menjelaskan keharaman menelantarkan tanah lebih dari 3 tahun.

Perkembangan teknologi juga mutlak dilakukan untuk menemukan berbagai varietas unggul dan agar terjadi efektifitas lahan dengan penemuan bibit berkualitas.

Dengan memberikan kebijakan yang serius di sektor pertanian akan menjadikan Indonesia sebagai negara maju memiliki ketahan pangan yang kuat dan tidak membutuhkan pada import komoditas pertanian .Allahu a’lam bish showab .