Oleh: Choirin Fitri

Menjadi muslimah adalah anugerah yang tak ternilai. Bagaimana tidak? Nyatanya tidak semua wanita yang ada di dunia ini diliputi nikmat iman dan Islam.

Renungilah firman Allah ini, “Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hujurat: 7-8).

Sungguh, nikmat iman ini tak bisa dijualbelikan atau disewakan. Hanya muslimah yang menggenggam erat imanlah yang bisa merasakan nikmatnya. Sehingga, membuahkan rasa syukur dan taat kepada Allah.

Ya, setelah menyadari nikmat iman seorang muslimah dituntut taat pada Allah Sang Pencipta. Tak cukup menyadari Allah sebagai pencipta saja, tapi para muslimah juga wajib sadar bahwa Allah pula yang mengatur kehidupannya. Sejatinya, aturan yang Allah berikan pada muslimah itu untuk kebaikan diri mereka sendiri. Namun, banyak yang tidak sadar.

Tengoklah! Di negeri +62 ini yang notabene negeri dengan jumlah muslim mayoritas nyatanya banyak para muslimah yang hanya muslimah setengah-setengah. Mereka mau salat, puasa, zakat, namun ketika keluar rumah atau bertemu dengan laki-laki bukan mahram mereka enggan menutup aurat. Para muslimah ini bahkan bangga jika kecantikannya bisa dinikmati banyak orang.

Padahal Allah telah memuliakan muslimah dengan syariat menutup aurat. Allah berfirman, “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu.” (TQS.Al Ahzab:59)

Nah, bacalah dengan iman! Dalam ayat ini jelas Allah memaparkan kewajiban memakai jilbab agar kaum muslimah mudah dikenali sebagai seorang yang beriman dan tidak diganggu. Jilbab dalam ayat ini bukan dimaknai kerudung, tapi baju kurung yang panjang, atau istilah yang kita kenal adalah gamis.

Ayat tentang wajibnya memakai kerudung ada pada firman Allah, “….Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,…” (TQS. An Nur:31)

Kedua ayat ini menjadi aturan baku bagi seorang muslimah yang taat luar dalam ketika ia berada dalam kehidupan umum di luar rumahnya. Nah, dengan penutup aurat inilah para muslimah membuktikan ketaatan mereka pada Allah bukanlah abal-abal. Tapi, murni sebagai bentuk ketaatan pada Allah semata.

Sayangnya di era sekularisme saat ini. Kaum muslimah hanya mencukupkan diri meyakini Allah sebagai pencipta. Allah sebagai pengatur enggan mereka yakini. Walhasil, mereka justru mengikuti aturan buatan manusia yang malah membuat mereka jauh dari kata taat.

Harusnya para muslimah mengingat ancaman Allah bagi mereka yang enggan menutup aurat. “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Ada dua golongan penghuni neraka, yang belum pernah aku lihat, yaitu (1) Suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi. Mereka mencambuk manusia dengannya. Dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium aroma Surga, padahal sesungguhnya aroma Surga itu tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.” (HR Muslim nomor 2128)

Wallahu a’lam.