Oleh : Aini Ummu aflah

Arab Saudi dan Israel makin mendekat bak sepasang kekasih, pasalnya kedua negara tersebut sedang mengadakan hubungan asmara yang makin mesra. Di lansir dari Republika.Co bahwa Menteri Luar NegeriArab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan negaranya terbuka untuk melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel. Namun sebelum hal itu terjadi, Palestina harus memperoleh kemerdekaan.

“Kami selalu terbuka untuk normalisasi penuh dengan Israel, dan kami pikir Israel akan mengambil tempatnya di kawasan. Tapi agar hal itu terjadi dan bekelanjutan, kami membutuhkan warga Palestina mendapatkan negara mereka, kita perlu menyelesaikan situasi itu,” kata Pangeran Faisal saat berbicara di International Institute for Security Studies Manama Conference pada Sabtu(5/12).

Pada November lalu, media Israel, yakni Walla News dan Heaaretz, menerbitkan laporan yang menyebut ada pertemuan rahasia antara Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS). Mereka bertemu di Neom, sebuah kota di Laut Merah.

Dalam pertemuan itu turut hadir kepala badan intelijen Israel Yossi Cohen dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo. jabar pertemuan itu muncul saat Israel berusaha membuka lebih banyak hubungan resmi dengan negara Arab. Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain diketahui telah melakukan normalisasi diplomatik dengan Tel Aviv(Replubika.co).

Kompensasi dari normalisasi hubungan dengan Israel, industri artileri Israel sebagai awal masuknya pasokan persenjataan AS ke negara-negara Teluk. Tidak itu saja, UEA diperkirakan akan menerima beberapa unit jet tempur F-35 dari AS setelah menandatangani perjanjian normalisasi.

Qatar juga dikabarkan berhasil meraih kesepakatan dengan AS terkait pembelian jet tempur F-15 untuk pertama kalinya. Akan ada 36 unit F-15 yang dikirim terlebih dahulu dari total 72 buah pesanan dari Qatar. Departemen Pertahanan AS juga mengungkap kalau Boeing berhasil dapat kesepakatan dengan Kerajaan Arab Saudi untuk membuat 70 unit jet tempur F-15 (pikiranrakyat.com)

Melihat beberapa negara Islam melakukan normalisasi dengan Israel, sungguh teriris di sayat-sayat hati kaum muslimin secara dunia. Saudi dan Qatar sungguh tega mengkhianati saudara mereka yaitu Palestina. Bumi Palestina menjadi incaran Israel sejak dulu. Israel mengklaim bahwa Palestina adalah tanah leluhur mereka. Apalagi Israel mendapatkan dukungan dari PBB.

Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh buka suara atas pertemuan rahasia antara Israel, Amerika Serikat dengan putra mahkota Arab Saudi. Shtayyeh menyatakan pihaknya sedih dengan kabar bahwa negara-negara Arab sedang dalam pembicaraan untuk membuka kembali kedutaan besar di Israel.

Shtayyeh pada Senin (23/11) mengecam kunjungan Pompeo pada Kamis lalu ke pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Inilah yang seharusnya dilakukan negeri-negeri muslim mengecam, menolak dan memerangi Israel sebagai musuh bersama. Karena nyata-nyata Israel telah merebut tanah saudara muslim Palestina dan semakin terusir dari tanah mereka.

Dalam hadis Rosulullah dikatakan bahwa “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkadih sayang dan saling mencintai dan mengasihi di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota yang lain turut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan demam. (Mutafaq a’laihi).

Sebagai seorang muslim kita diperintahkan untuk berlemah lembut, saling menyayangi, dan saling mencintai. Sebaliknya terhadap orang kafir kita diperintahkan untuk bersikap keras. Sesuai Firman Allah :
“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali seburuk-buruknya. (At-Taubah : 73).

Inilah yang terjadi dengan negeri-negeri muslim. Mereka tercerai berai dan hanya kepentingan yang mereka raih. Buah dari kapitalusme adalah manfaat (kepentingan). Selama para pemimpin negeri muslim masih mengemban ide kapitalisme, mereka senantiasa akan menjadi budak dari negara adidaya (AS).

Hanya khilafah yang akan memberikan perlindungan pada Palestina. sebagaimana masa kholifah Umar bin Khattab yang telah membebaskan Yerussalem (Palestina). Umar Mengepung kota Yerusalem yang saat itu dikuasai oleh Uskup Sophronius sebagai perwakilan Bizantium dan kepala gereja Kristen Yerusalem. Ketika pasukan Islam di bawah kepemimpinan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash mengepung kota suci tersebut Sophronius tetap menolak untuk menyerahkan Yerusalem kepada umat Islam kecuali jika Khalifah Umar bin Khattab yang datang langsung menerima penyerahan darinya.

Dari perjanjian ini, umat Islam hidup di wilayah Yerussalem, Yahudi diusir, dan Nasrani boleh tinggal di Yerussalem dengan membayar jizyah atau pergi ke Byzantium (Romawi).

Khilafah merupakan sistem yang sempurna yang akan membawa persatuan umat dalam satu kepemimpinan. Khilafah akan membebaskan Palestina kembali dan melenyapkan eksistensi negara Israel selama-lamanya.
Wallahu a’lam bishshowab.