Oleh: Sherly Agustina, M.Ag
(Kontributor media dan pemerhati kebijakan publik)

Mendengar dan melihat berita kematian para pengawal imam besar HR5, hati tersayat pilu namun bahagia mereka syahid di jalan-Nya. Pilu karena betapa mudahnya menghilangkan nyawa seorang manusia yang tak berdosa, padahal Baginda Nabi Saw. bersabda: “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Kematian enam laskar yang menjaga HR5 menjadi sorotan publik, viral di jagat maya dan nyata. Tokoh pun ikut berkomentar, di antaranya Ketua Umum Pimpinan Muhammadiyah, Prof M Din Syamsudin. Menurutnya, kejadian yang dialami laskar tersebut merupakan suatu kezaliman yang besar dan pembunuhan yang melampaui batas. Selain itu, bentuk pelangggaran HAM berat dan beliau mengecam keras kejadian itu, siapa pun yang menjadi korbannya (Republika.co.id, 13/12/20).

Terlepas dari unsur dan motif apapun, kematian mereka syahid dan dirindu oleh para pencari syahid. Kematian yang insya Allah husnul khatimah, sesuatu yang sangat diharapkan bagi muslim. Siapa yang tidak mau kembali pada-Nya dalam keadaan syahid dan husnul khatimah bagaimanapun jalan kematiannya. Karena kondisi hamba-Nya ditentukan pada kisah akhir hidupnya, baik atau buruk dalam pandangan-Nya.

Walaupun mereka telah tiada, sejatinya mereka tetap hidup (Al Baqarah: 154). Ya, hakikatnya mereka hidup walau raga tak lagi terlihat oleh kasat mata. Mereka bahagia dan tenang di sisi Alalh Swt. karena kesyahidannya.

Perilaku pembunuhan tanpa hak tidak dibenarkan dalam Islam karena nyawa manusia sangat berharga. Firman-Nya, “Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah marah dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya. (TQS. An Nisa: 93)

Jika di dunia tak bisa ditegakkan keadilan dengan sebaik-baiknya, maka biarlah menjadi urusan Allah yang membalas kedzaliman tersebut. Karena setiap perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban walau sebesar biji dzarah. Setiap perbuatan akan kembali pada pelakunya, baik ataupun buruk. Oleh karenanya, berhati-hatilah karena Allah tak pernah tidur dan Maha Menyaksikan segala perbuatan hamba-Nya.

Mengapa bisa dikatakan syahid enam laskar ini, melihat dari sabda Nabi Saw. “… barang siapa yang terbunuh kerana keluarganya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana agamanya syahid, barang siapa yang terbunuh karena darahnya syahid.” (Hadits Shahih). Jelas, mereka terbunuh darahnya sebagai muslim dan karena menganggap Habib yang mereka hormati dan sayangi seperti keluarga sendiri.

Selain itu, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Syuhada (orang-orang yang mati syahid) itu ada lima, di antaranya: … dan orang yang gugur di jalan Allah.” Bagi umat Islam, syahid sangat dinanti karena pahala dan keutamaannya luar biasa.

Nabi Saw. menjelaskan dalam sebuah hadis bahwa orang yang mati Syahid akan mendapatkan 7 keutamaan, yaitu: Diampuni (seluruh dosanya) pada saat awal terbunuhnya, diperlihatkan di dunia tempatnya di surga, selamat dari fitnah kubur, diselamatkan dari hari yang sangat mencekam (Hari Kiamat), akan dipasangkan di atas kepalanya sebuah mahkota kebesaran dari Yaquut, yang nilainya lebih besar daripada dunia dan seisinya, dinikahkan dengan 72 bidadari, diperbolehkan memberikan syafa’at bagi 70 anggota keluarganya di akhirat kelak. (HR. At-Tirmidzi dan yang lainnya, dan ia berkata. Hadis ini derajatnya Hasan)

Sungguh, begitu iri pada siapapun yang mendapat posisi di akhir hidupnya sebagai syahid dengan jalan apapun. Karena mendapat berbagai keutamaan dan keistimewaan di sisi Allah. Hal itu berarti akhir hidupnya husnul khotimah, suatu akhir kehidupan yang baik yang sangat didamba bagi setiap muslim. Izinkan kami saat kembali pada-Mu dalam kondisi husnul khatimah, bertemu Sang Kekasih dalam kondisi paling baik.

Allahu A’lam Bi Ash Shawab.