Oleh: Maman El Hakiem

Hari menjelang siang. Udara di Kampung Hanjuang, karena banyak perkebunan teh tidak begitu menyengat panasnya. Jalan menuju kampung memang belum beraspal, jika habis hujan banyak genangan air di jalan. Sebagian besar penduduknya menjadi buruh pemetik teh.

Waktu terbaik memetik teh adalah sekira pukul 05.00 sampai 10.00 pagi. Ada surau kecil dari kayu berada di pinggir jalan masuk kampung. Sayang, penduduknya belum begitu taat dalam beribadah.

Begitu terdengar adzan Subuh, penduduknya harus segera bergegas ke kebun. Kewajiban shalat seolah diabaikan, mushola itupun hanya diisi beberapa orang saja. Seorang kakek dan anak kecil yang sering kujumpai. Bilal, itulah nama bocah kecil tersebut yang selalu mengumandangkan adzan setiap waktu shalat tiba.

Seperti siang itu, aku baru saja menyelesaikan laporan survey lapangan. ”Allaahu Akbar….Allaaaahu Akbar.” Suara adzan terdengar merdu, meskipun dikumandangan bocah yang usianya belasan tahun. Jarak base camp kami dengan mushola cukup dekat. Ada Fahri dan Umar yang juga sibuk menyelesaikan laporan, sedangkan Heri sudah berada di mushola.

Untuk ukuran mushola yang hanya lima meteran persegi, memang paling memuat belasan jamaah. Tetapi, itupun hanya diisi lima orang jamaah yang menunaikan shalat. Bahkan, kalau hujan hanya Kakek Mahmud dan Bilal yang memakmurkannya.
Bocah bernama Bilal, menarik untuk diceritakan. Menurut Kakek Mahmud, ia adalah anak pungut yang dianggap sebagai cucunya. Ayah dan ibunya Bilal tidak pernah ada yang tahu, karena Bilal ditemukan di perkebunan teh saat masih bayi. Sepertinya sengaja dibuang karena aib orangtuanya.

Kakek Mahmud, dulunya adalah buruh di perkebunan teh. Sore hari saat ia memeriksa tanaman teh menemukan Bilal yang terbungkus kain perlak di sudut kebun, hanya beralas bantal. Suara tangis bayi membuatnya bergegas mencarinya.
“Astaghfirullah…ini bayi masih memerah begini, kok tega dibuang?” Dengan penuh tanya kakek itu mengambilnya, lalu ia membawanya pulang. Setelah beberapa hari tidak ada laporan warga yang merasa kehilangan bayi. Kakek Mahmud dan istrinya merawat Bilal kecil tersebut dengan penuh kasih sayang, terlebih karena memang mereka tidak dikaruniani anak seorangpun, sampai usianya menjelang senja.

Bu Tumini, istrinya Kakek Mahmud membuka warung nasi kecil-kecilan, namun hanya bertahan dua tahun kemudian beliau meninggal, Bilal yang masih sekira lima tahunan diasuh oleh kakek Mahmud seorang diri. Warung nasi yang kini berubah menjadi mushola adalah harta yang paling berharga bagi Kakek Mahmud yang ingin warga sekitarnya sadar akan pengamalan ajaran Islam.
(Bersambung)