Oleh: Sitha Soehaimi

Bau busuk politik uang tercium pada pelaksanaan Pilkada serentak, Rabu, 9/12/2020. Bawaslu menemukan total 205 dugaan praktiknya sejak masa kampanye Pilkada (Medcom.id, 11/12/2020).

Sesungguhnya kondisi Ini akan terus berulang selama menggunakan sistem demokrasi sekuler. Sebab sistem ini memisahkan nilai agama dari kehidupan. Selama di sana ada manfaat, berbagai cara akan ditempuh. Meskipun pemilih di negeri ini mayoritas muslim, Pilkada tak lagi mempertimbangkan cara halal atau haram.

Di samping itu, pemilihan pemimpin di sistem demokrasi kapitalisme berdasarkan suara terbanyak. Hal ini meniscayakan pemimpin terpilih dari hasil membeli suara rakyat. Bahkan seringkali, pemenangnya adalah pemilik modal terbanyak, mempunyai dinasti politik, juga oligarki. Kemudian, biasanya pemimpin terpilih akan melakukan korupsi untuk mengembalikan modal selama kampanye.

Akibatnya, berharap mempunyai pemimpin berkualitas dalam sistem demokrasi bak jauh panggang dari api. Sudah seharusnya kita berpaling kepada sistem Islam. Islam mempunyai mekanisme pemilihan pemimpin yang praktis, sesuai syariat dan berbiaya murah. Sehingga tidak perlu menggunakan politik uang. Pemimpin terpilih pasti berkualitas, berdasarkan ketakwaan menjalankan syariat sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.