Oleh : Anisa siswi SMKN 3 Banjarmasin

Apa itu pemuda ? pentingkah pemuda itu ? Apa saja yang harus dilakukan pemuda ? Bukannya waktu muda itu adalah waktu untuk besenang-senang, menjadi pemuda gaul, dan lain sebagianya ? Dan kenapa harus kami ? Mungkin itulah yang akan keluar dari benak kita semua jika disebutkan MENJADI PEMUDA PEJUANG ISLAM KAFFAH.

Hari ini kita menyaksikan banyak pemuda yang menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, dan sangat dikit para remaja atau pemuda yang memang sudah berpikir matang dengan menghabiskan wantuknya untuk menuntut ilmu, bahkan berdakwah ataupun menjadi pemuda perjuang khilafah.

Ternyata pemuda itu adalah harapan masa depan umat, yang mana pemuda ini sangat penting sekali untuk kedepannya. Maka dari itu berkualitas pemuda hari ini, penuh ketaatan, maka cerahlah masa depan, dan buruknya kodisi pemuda hari ini, suramlah nasib bangga tersebut di kemudian hari.

Bahkan sejarah emas Islam mencatat banyak pemuda yang harum namanya karena memuliakan Islam. Kejayaan Islam banyak digerakkan oleh barisan kaum muda. Para ulama salafush-shalih mendidik kaum tunas muda dengan sebaik-baiknya. Karena meraka paham, menyia-nyiakan kaum muda sama artinya dengan merencanakan kehancuran suatu bangsa.

Berbeda sekali dengan sekarang yang dihebohkan dengan banyak fenomena yang merusak moral, bahkan merusak aqidah mereka sebagai umat Islam. Contohnya saja fenomena Tiktokan yang semakin hari semakin viral sehingga banyak generasi yang berbondong-bodong untuk mengikuti challenge nya. Tidak hanya itu, menjadi kaum rebahan, game berjam-jam, bahakan hingga tawuran menjadi kebiasaan atau menjadi identitas bagi anak muda sekarang.

Para remaja dan pemuda harusnya sadar kalo kita itu adalah influencer peradaban yang di pundak kita kelak akan diletakkan amanah untuk memimpin umat dan membangun negeri ini. Masa muda bukanlah masa untuk bersenang-senang, pacaran, rebahan, tiktokan, mau jadi apa negara ini jika pemudanya seperti itu ? Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kita tentang 5 perkara sebelum datang 5 perkara, yaitu :

Masa mudamu sebelum masa tua mu, sehatmu sebelum sakit mu, keadaan kayamu sebelum miskinmu, waktu luang mu sebelum saat sibukmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu. (HR. Al-BAIHAQI)

Artinya kita harus sadar bahwa masa muda kita hanya sekali dan waktu tak bisa diputar kembali, dan yang terpenting sebagai penerus peradaban kita harus kuat dan mampu menghadapi tantangan kedepannya. Ingat ada umat diluar sana yang menungu generasi sebenarnya. Generasi yang mampu memimpin rakyatnya dengan adil dan aturan hidup yang benar.

Tapi apakah cukup jika yang dipikirkan hanya mengetahui update an tiktok, tranding topik, menjadi rebahan, atau nge game berjam-jam, dan masalah alay lainnya. Apakah seperti itu kita layak disebut peradaban yang gemilah ?
Jangankan untuk generasi umat, jika masalah hidupnya saja masih tak tentu arah (ikut-ikutan). Padahal jika kita menyadari permasalahan umat hari ini begitu banyak. Dari aborsi, minimnya aqidah, kemiskinan, penyiksaan umat, dan banyak lagi lainnya.

Lalu, setelah mengetahui masalh umat saat ini, apakah kita ingin menyerah dan berkata lelah ? Hay, tak sepatutnya kita mengeluh ditengah harapan umat kepada kita yang mereka sebut sebagai penata masa depan.

Mari kita flasback sejarah sebelumnya, batapa efiknya para pemuda menata sebuah peradaban negara adidaya dalam naungan Islam kaffah. Perjuangan seperti Muhammad al-Fatih yang menaklukan kota kostantinopel yang sekarang disebut Istambul (Turki) di umur 21 tahun. Setelah itu juga ada Fatimah al Fikhri, seorang pemuda wanita yang mendirikan universitas pertama di dunia. Ada juga Zaid bin Haritsah adalah sahabat Nabi Muhammad dan di antara pemeluk Islam yang paling awal dari kalangan bekas budak Nabi Muhammad. Dia adalah satu-satunya sahabat Nabi yang disebutkan dalam Alquran secara eksplisit, yaitu di Surah al-Ahzab ayat 37. Dan banyak lagi.

Mereka itu adalah generasi yang sejak kecil sudah memiliki fokus untuk tujuan menata masa depan umat,mereka mengisi waktu untuk berlatih, berkarya, bahkan menjadi pemimpin dalam penyebaran Islam kaffah di seluruh penjuru dunia, dalam usia yang masih muda. Bahkan mereka juga men challenge dirinya untuk mengoptimalkan segala potensi terbaik dalam menoreh tinta emas sejarah peradaban Islam, sehingga mereka tidak kehilangan jati diri sebagai muslim terbaik.

Bagaimana dengan kita yang katanya generasi emas ? Seharusnya kita camkan dalam dikiri kita bahwa kita tidak kalah saing dengan mereka. Sebab Allah memberikan keluasan potensi yang sama dengan fasilitas yang berbeda.
Fasilitas teknologi yang kita miliki sekarang seharusnya memudahkan kita untuk mendapatkan informasi, berkarya, bahkanmanjadi media penyebaran dakwah. Pada zaman sekarang jika kita manfaatkan dan optimalkan segala fasilitas ini semua maka sungguhh mazing dibandingkan zaman old.

Bahkan para pemuda itu mendapatkan pujian dari Allah SWT. Dalam Sabda Nabi Saw:

“Sungguh Allah Azza wa Jalla benar-benar kagum terhadap pemuda yang tidak memiliki shabwah.” (HR Ahmad).

Mereka adalah kaum muda yang meninggalkan hawa nafsunya yang negatif dan berbuat baik dalam agama.

Para pemuda semacam inilah yang akan Allah SWT beri kedudukan istimewa kelak pada Hari Akhir. Dalam Sabda Nabi Saw:

“Ada tujuh golongan manusia yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya:… pemuda yang tumbuh dalam suasana ibadah (ketaatan) kepada Tuhannya.” (HR al-Bukhari)

Adapun beberapa hal yang harus kita lakukan, salah satunya :

hujamkan keimanan bahwa Islam adalah agama yang paripurna; mengatur urusan dunia dan akhirat, bukan sekadar spiritual. Tak ada agama serta sistem kehidupan yang terbaik kecuali hanya Islam (Lihat: QS Ali Imran [3]: 85).

kaji Islam sebagai ideologi, bukan sekadar ilmu pengetahuan. Mereka wajib terikat dengan syariah Islam. Dengan terikat pada syariah Islam, pemuda Muslim akan menilai baik-buruk berdasarkan ajaran Islam. Mulai dari pergaulan dengan lawan jenis, adab kepada orangtua dan guru sampai memilih pemimpin akan dilandasi dengan nilai-nilai Islam.
senantiasa memiliki sikap berpihak pada Islam, bukan netral, apalagi oportunis demi mencari keuntungan duniawi.

Banyak remaja dan pemuda Muslim hari ini yang hidup bak pucuk pohon ditiup angin. Ke mana angin bertiup ke sanalah mereka terbawa. Pemuda Muslim harus memiliki keteguhan pada Islam hingga akhir hayat.

terlibat dalam dakwah Islam demi tegaknya syariah dan Khilafah Islam. Sungguh kemuliaan Islam hanya bisa tampak bila umat, khususnya kaum muda, senantiasa berdakwah untuk menegakkan Islam. Alquran telah merekam keteguhan iman dan kesungguhan perjuangan para pemuda Kahfi hingga mereka mendapat pertolongan dan perlindungan Allah SWT (Lihat: QS Kahfi [18]: 13-14)

So, bagi para remaja dan pemuda, aku dan kamu itu adalah influencer peradaban yang mana umat sangat berharap kepada kita. Stop menyia-nyiakan waktu untuk terlihat sempurna dimata manusia, pada hakikatnya pemuda ideal itu buka mereka yang wajah glowing, badan kurus ramping, punya followers jutaan, biar dapat pujian, dan pujaan dari beragam kalangan. Tapi pemuda ideal itu adalah mereka yang menghabiskan waktu untuk agama Allah., senang berdakwah, bahkan membela khilafah tanpa ada rasa keraguat didalam hatinya.

Karena Allah kita bisa, karena Allah kita kuat, dan atas izin Allah kita dikumpulkan dibawah panji Rasullah.
Ingatlah sabda Nabi :

“Jangan kalian menjadi immaah! Kalian berkata, Jika manusia berbuat baik, kami pun akan berbuat baik. Jika mereka berbuat zalim, kami juga akan berbuat zalim. Akan tetapi, kokohkan diri kalian. Jika manusia berbuat baik, kalian juga berbuat baik. Jika mereka berbuat buruk, jangan kalian berlaku zalim.”
(HR at-Tirmidzi).

مع السلامة إلا للقو