Oleh: Dwi Suryati Ningsih, S.H.

Beberapa hari lalu, dunia twitter dihebohkan dengan trendingnya tagar #BoikotJNE. Pesan-pesan yang menggunakan tagar tersebut pun mengajak untuk berhenti menggunakan jasa layanan pengantaran barang JNE. Peristiwa tersebut terjadi bertepatan dengan perayaan ulang tahun JNE yang ke-30 tahun. Munculnya tagar tersebut dilatarbelakangi adanya ucapan selamat oleh Ustaz Haikal Hasan serta Ustaz Abdul Somad kepada JNE. Sangat disayangkan, netizen pun juga menyinggung istilah “kadrun” saat meramaikan cuitan tersebut.

Dari fenomena trendingnya tagar semacam ini di jagat maya, menunjukkan telah terjadi kemerosotan berpikir di kalangan umat saat ini. Bagaimana tidak, generasi saat ini sibuk mempermasalahkan hal-hal sepele yang tidak berdasar dan tidak bermanfaat sama sekali. Padahal masalah umat begitu banyak dan segera membutuhkan solusi.

Muslim Uyghur, Rohinya, Palestina, Kashmir dan masih banyak lagi yang seharusnya kita ributkan untuk menuntut dikembalikannya hak-hak mereka. Pemisahan agama dari kehidupan, bukti hilangnya identitas sebagai seorang muslim, menjadi “PR” besar umat saat ini. Cuitan yang mereka ramaikan seperti “kadrun” hanyalah sebatas hegemoni wacana dalam perang pemikiran untuk memecah-belah umat muslim. 

Sungguh disayangkan adanya pola pikir umat yang demikian. Perjalanan terlihat masih jauh untuk dapat mengembalikan kejayaan Islam seperti di waktu silam. Sudah saatnya umat bangkit secara pemikiran, meningkatkan taraf berpikirnya, kembali menyadari kewajibannya menerapkan syariat Islam secara kafah di kehidupan ini. Hanya dengan mendasarkan segala aktivitas umat pada syariat Islam akan mengantarkan Islam kembali berjaya di muka bumi ini. Dengan demikian, ketika pemikiran umat bangkit, akan bangkit pulalah masyarakatnya.